Advertisement
Memaafkan Tak Sekedar Ucapan
Pendidikan dan Agama Peristiwa

Memaafkan Tak Sekedar Ucapan

BANYUWANGI, PEDOMANINDONESIA.com – Shalat Idul Fitri 1438 yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Glenmore, di Stadion Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, berlangsung khikmat.

Bertindak sebagai Imam Samsuri asal Kalikempit Glenmore, Banyuwangi dan Khatib Mohammad Arif Firmansyah, anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Dalam khutbahnya, Arif menyampaikan, jika selama ramadan rajin sedekah dan ibadah maka setelah ramadan sedekahnya semakin besar dan rutin. “Inilah esensi la’allakum tattaqun,” ungkapnya.

Dijelaskan, fitroh merupakan unsur ketuhanan (yakni kesucian) yang diberikan kepada manusia. Kesucian individu menjadi kesucian sosial, keshalehan pribadi menjadi keshalehan sosial dengan cara saling memaafkan.

“Idul fitri merupakan momentum bermaaf-maafan. Ini penting dan semakin dibutuhkan dalam kondisi sekarang yang penuh konflik sosial dan terus bermunculan. Apalagi setelah mengenal medsos, semuanya semakin bebas mencurahkan hati kita,” ungkapnya.

Dipaparkan, satu sisi kita ingin menciptakan generasi masyarakat robbani dan qur’ani tapi di sisi lain perilakunya bertentangan dengan qur’an dengan saling mengolok-olokhingga memicu kebencian. Ironisnya, ini terjadi pada sesama muslim.

Arif menukil ayat 11 dan 12 surat Al Hujurat. “Ada 3 pesan penting dari ayat ini. Pertama jangan mengolok-olok, mencela, menghina karena ini merendahkan ciptaan Allah. Kedua, jangan memanggil seseorang dengan julukan yang jelek-jelek. Dan yang ketiga, jangan mudah berburuk sangka. Berburuk sangka dan saling mencela menyebabkan keburukan pada diri sendiri dan orang lain,” paparnya.

Disampaikan, tanpa disadari manusia membuat kesalahan melalui rasan-rasan, bisik-bisik dan jemari medsos. Maka ini momentum untuk saling memaafkan. Meskipun saling meminta maaf tidak harus dilakukan saat idul fitri.

 

“Saling memberi maaf lebih dekat pada ketakwaan,” ungkapnya. Di hadapan ratusan jamaah shalat Idul Firtri, dia juga menyatakan, ada 3 dimensi dalam bermaaf-maafan di Idul Fitri. Meminta maaf sebagai pelajaran berharga agar tidak terulang lagi dan untuk introspeksi diri. Meminta dan memberi maaf bisa menimbulkan empati, bukan hanya kepentingan diri tapi untuk kebaikan hidup bersama dan kembali hidup berdampingan secara damai”, paparnya.

 

Yang paling penting menurutnya, ungkapan maaf tidak hanya secara lisan tapi tergerak dari hati yang tulus. Dengan begitu beban yang membelenggu selama ini terlepas sehingga hati menjadi tenang. SOF

Advertisement