Advertisement
Dicari Poros Baru Calon Bupati Lumajang 2018
Opini

Dicari Poros Baru Calon Bupati Lumajang 2018

Penulis : Syamsudin Nabilah Pimred PedomanIndonesia.com 

Pemilihan kepala daerah (pilkada) Kabupaten Lumajang, masih digelar tahun 2018. Namun hawa hangatnya mulai terasa sejak awal tahun ini. Para bakal calon (bacalon) bupati sudah berancang-ancang dan terus melakukan akrobat politik. Ada yang membentuk Tim Sukses (TS) dan Tim Relawan (TR) mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, desa, hingga ke tingkat RT/RW. Ada pula yang mendadak menjadi artis, melakukan kegiatan sosial yang mengundang keramaian/ mendatangkan massa. Ada juga yang selalu hadir dalam acara seremonial (apakah itu pengajian, peringatan kematian 100 hari meninggalnya seseorang, HUT inilah, HUT itulah, dan kegiatan-kegiatan seremonial lainnya). Semua dilakukan oleh mereka yang akan bertarung pada pilkada Lumajang 2018.

Sebut saja Drs H. As’at, M. Ag. Dalam kesempatan apapun, lebih-lebih dalam acara seremonial Pemkab Lumajang, Gus As’at selalu hadir selama tidak ada halangan. Selain karena terkadang acara tersebut merupakan kegiatan internal Pemkab Lumajang, Gus As’at ingin menyelipkan pesan penting bahwa dirinya akan maju lagi sebagai calon Bupati Lumajang 2018. Dengan seringnya bertemu rakyat, pejabat, dan elemen masyarakat lainnya, Dia berharap dapat mendulang suara mayoritas dan kembali terpilih sebagai Bupati Lumajang untuk periode 2018-2023. Tidak peduli kabar yang berkembang bahwa sebagian masyarakat Lumajang tidak simpati lagi kepadanya dengan berbagai alasan. Akan tetapi, keyakinan dan campur tangan Allah SWT sepertinya menjadi alasan Gus As’at untuk terus melaju sebagai cabup Lumajang 2018. Dengan simbol ‘I Like Lumajang’ terpancar sinar kepercayaan dia bakal memenangkan pertarungan nanti.

Begitu pula dengan Cak Thoriq. Dengan pe-de nya dia terus menyapa masyarakat dalam berbagai even, mulai dari jalan santai/jalan sehat, ikut lomba balap karung HUT RI, makan di warung pinggir-pinggir jalan, datang ke petani, hingga lomba karaoke (kebetulan dia punya suara emas) sambil menyelipkan ide -ide tentang bagaimana seharusnya membangun Lumajang kedepan agar lebih hebat. Cak Troriq, dengan penuh optimisme bakal meraup suara besar pada pesta demokrasi Lumajang 2018.

Hal yang sama dilakukan Aba Rofik, bahkan mantan Ketua Umum PCNU Kabupaten Lumajang ini ‘lari’ lebih dulu ketimbang bacalon lainnya. Di saat calon lain masih menunggu rekomendasi dari parpol pengusung, Aba Rofik membentuk kepengurusan (TR/ TS) mulai tingkat kabupaten hingga desa. Disusul kemudian menancapkan ratusan banner bergambar dirinya sebagai calon Bupati Lumajang 2018. Slogannya ‘Kerja Cepat hadir Untuk Rakyat’ menjadi taglinen-nya dalam setiap bertemu dengan rakyat. Aba Rofik memilih membentuk tim ke tingkat desa hingga (mungkin) RT RW ketimbang menggelar acara yang mendatangkan kerumunan massa. Karena (mungkin) bagi dia, banyaknya massa yang hadir dalam sebuah acara (apalagi di dalamnya banyak hadiah besar) tidak menjamin itu sebagai massa pendukung.

Yang agak landai bacalon lain adalah Indah Masdar dan Ngateman (Ketua KONI Lumajang). Indah Masdar tidak sekencang Cak Thoriq ,Gus As’at maupun Aba Rofiq. Di sudut-sudut kota dan desa tak banyak banner Indah Masdar terpasang. Kalaupun ada bisa dihitung dengan jari dan ukurannya kecil-kecil. Di momen-momen besar/ acara penting Indah Masdar jarang ada, tak banyak menggelar acara besar kecuali acara yang bersinggungan dengan tupoksinya sebagai pejabat di Dinas Kehutanan. Minimnya Bunda Indah Masdar sempat memunculkan gonjang-ganjing bahwa dia tidak memiliki ‘kendaraan’ untuk menjadi N1 (cabup) maupun N2 (cawabup). Benarkah? Jika benar, maka satu kandidat perempuan akan hilang dan tentu saja ini akan menguntungkan calon lainnya. Karena bagimana pun Indah Masdar masih ‘mempesona’ dan memiliki massa.

Hampir sama dengan Indah Masdar yakni Ngateman. Ketua KONI Lumajang ini terlihat seperti setengah-setengah dalam melangkah. Satu sisi banner-banner ukuran besar dan kecil tersebar di beberapa titik di kota maupun desa, namun di sisi lain dia tidak pernah mengumpulkan massa besar, sehingga nama Ngateman tidak terlalu populer lebih-lebih di kalangan grass root. Hampir sama dengan Indah Masdar, dia masih kesulitan mendapatkan ‘kendaraan’ untuk menjadi N1 maupun N2. Oleh karena itu wajar jika kemudian gerakannya seperti setengah-setengah.

Bakal calon yang menjadi perbincangan setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan dominan diekpos di media (online cetak, radio, TV) medsos (FB, instagram, line, dll) hanya berkutat pada Gus As’at, Cak Thoriq, dan Aba Rofik. Mengapa mayoritas masyarakat menebak/ memprediksi hanya 3 calon ini yang bakal bertarung pada 2018? Jawabannya karena ketiganya dianggap sudah memiliki ‘kendaraan’.

Sebut saja Gus As’at, sejak awal digadang-gadang diusung oleh PDIP (10 kursi), Cak Thoriq diusung PKB (9 kursi tinggal menambah 1 kursi), dan Aba Rofik kabarnya diusung PPP (2 kursi) Nasdem (5 kursi) dan Partai Golkar (5 kursi). Sementara PAN (3 kursi), PKS (3 kursi) Gerindra (5 kursi), PD (6 kursi), dan Hanura (2 kursi) dianggap belum menentukan kemana akan merapat. Taruhlah PD merapat ke PDIP (meskipun ini masih gonjang-ganjang) dan Hanura ke PKB (Cak Thoriq) misalnya, maka yang tersisa adalah GERINDRA, PKS, dan PAN. Jumlah 11 kursi sudah cukup untuk memberangkatkan seorang calon Bupati Lumajang 2018.

Inilah yang dimaksud penulis “Calon Poros Baru Bupati Lumajang”. Hal ini bisa saja terjadi karena ketiganya (PAN, PKS, GERINDRA) di tingkat pusat hingga kini masih berkoalisi dan kebetulan PKS mengusung Artono sebagai cabup. Tinggal siapa yang akan digandeng Artono atau sebaliknya siapa yang dicabupkan oleh GERINDRA dan PAN untuk menggandeng Artono sebagai cawabup. Perlu diingat, bahwa Artono merupakan Calon yang unpredictable, apalagi dia sudah 2 kali berhasil menjadi anggota DPRD Jatim dapil Lumajang-Jember. Dari segi finansial dia seorang pengusaha handal. Tidak menutup kemungkinan Lumajang yang kaya-raya dengan Sumber Daya Alamnya bisa ‘disulap’ lebih dahsyat ketimbang Banyuwangi maupun kabupaten lainnya. Kini tinggal sikap parpol pemilik kursi yang menentukan, karena mereka sudah memiliki garis parpol dan telah melakukan ijtihad politik.

Di luar nama-nama itu, yang pernah dan sering terdengar hendak maju sebagai calon Bupati Lumajang adalah Basuki Rakhmad (Ukik). Di awal tahun 2017 nama Ukik membooming. Bahkan dimana-mana bertebaran banner Ukik hendak maju pada pilkada Lumajang 2018. Namun nama Ukik perlahan-lahan tergeser oleh nama Cak Thoriq, Indah Masdar, Aba Rofiq, Ngateman, dan Gus As’at karena memang dia tidak melakukan gerakan lain selain hanya memasang banner dirinya. Nama Ketua Kosgoro 1957 ini kembali muncul dan dianggap serius nyabup setelah mendaftarkan diri ke Partai Golkar dan berencana ke parpol-parpol lainnya.

Sekilas, nama Ukik tidak terlalu diperhitungkan, bahkan tidak sedikit yang menilai Ukik main-main. Namun, bila dilihat dari gerakannya yang silent dia tak bisa diabaikan, apalagi dari sekian calon yang ada, Ukik relatif lebih aman karena berasal dari kalangan orang biasa. Plus ide, visi-missi, dan grand design tentang Lumajang kedepan misalnya, lebih rasional, membumi, dan menyentuh masyarakat bawah dan atas. Tinggal memoles dan mengenalkan lebih dekat dengan masyarakat, Ukik bisa menjadi pilihan alternatif dari sekian calon yang ada.

Tugas Ukik hanya satu, yakni menyakinkan parpol pengusung bahwa dia patut dan layak mendapatkan ‘tiket’ dan berangkat sebagai calon Bupati Lumajang 2018. Entah tiket itu dari Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai GERINDA, Hanura, PKS, Nasdem, maupun PAN minus PKB, PDIP, dan PPP. Bila ini terjadi, maka lagi-lagi penulis katakan, akan muncul “Poros Baru Calon Bupati Lumajang 2018”. Akankah hal ini terjadi? Atau justeru akan muncul poros baru versi pengurus parpol tingkat pusat atau DPP? Wallahu’alam.

Advertisement