Advertisement
Tim Ahli Cagar Budaya,  Ruh Perda Cagar Budaya Yang Dilupakan
Komunitas Pendidikan dan Agama

Tim Ahli Cagar Budaya, Ruh Perda Cagar Budaya Yang Dilupakan

LUMAJANG, PEDOMAINDONESIA.com – Buku ‘Membangkitkan Majapahit Timur’ karya Mansur Hidayat, SS, MM, berkisah tentang riwayat perjuangan masyarakat Lumajang dalam menyelamatkan dan mempertahankan Kawasan Cagar Budaya Situs Biting, sebuah situs bersejarah yang sangat penting bagi Kota Lumajang dan sebuah kota tua yang telah lama kehilangan memori historisnya.

Riwayat pelestarian Situs Biting diawali dengan kunjungan seorang lulusan sejarah yang kemudian menjadi bangga sekaligus prihatin dengan keberadaan situs ini yang terbengkalai dan rusak oleh adanya proyek perumahan nasional (perumnas).

Kesadaran sejarah ini kemudian ditindak lanjuti dengan mendirikan sebuah Lembaga  Swadaya Masyarakat yang bertujuan untuk melakukan penyelamatan dan pelestarian terhadap situs yang masih misteri bagi masyarakat Lumajang.

Berdirinya Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MMPM Timur) merupakan suatu titik balik dimana orang Lumajang yang awalnya tidak mengetahui, tidak menyadari dan tidak peduli terhadap keberadaan situs bersejarah, sedikit demi sedikit mulai berubah seiring dengan usaha sitematis yang dilakukan oleh LSM berbasis sejarah ini.

Usaha lembaga swadaya masyarakat ini di mulai pada pertengahan tahun 2010-an dengan sosialisasi terhadap berbagai kelompok masyarakat mulai  dari kelompok spiritual, mahasiswa, pemuda, pelajar, guru dan sampai kepada masyarakat umumnya.

Usaha yang dilakukan secara intens dan sistematis tersebut kemudian mendapat sambutan hangat dari masyarakat mulai tahun 2012 seiring dengan ditulisnya sebuah buku yang berjudul “Sejarah Lumajang” yang kemudian di revisi menjadi “Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru” dan kemudian menjadi rujukan utama dalam menelusuri sejarah Lumajang.

Sosialisasi dan pengenalan sosok Arya Wiraraja menjadi suatu icon Sejarah Lumajang dengan peninggalannya berupa Situs Biting yang merupakan bekas ibu kotanya tidak menjadikan PT Perumnas Biting Indah sebagai pengelola perumahan tinggal diam.

Setelah menghentikan perluasan pembangunan perumahan hampir 2 tahun lamanya, pada awal tahun 2013 PT ini membuat perluasan dengan membangun unit-unit perumahan baru. Melihat kejadian tersebut, para pelestari yang tergabung dalam LSM MPPPM Timur maupun Komunitas Mahasiswa Peduli Lumajang (KMPL) melakukan perlawanan dengan turun ke jalan yang dimulai pada bulan Juni dan kemudian menghasilkan penghentian sementara pada 24 Oktober 2013 dan baru dihentikan secara permanen pada 30 Januari 2014.

Itulah sebagian isi buku ‘Membangkitkan Majapahit Timur’ karya putra daerah Lumajang, terbitan Pustaka Larasan, Denpasar, Bali, 2017.

Mansur Hidayat, sang penulis, usai acara bedah buku, menjelaskan,  Pasca dihentikannya pembangunan perumahan di Kawasan Situs Biting, situs bersejarah ini kemudian mendapat status sebagai “Kawasan Cagar Budaya Propinsi Jawa Timur” sehingga mempunyai dasar hukum di dalam pelestariannya.

Namun permasalahan tidak berhenti begitu saja karena Situs Biting tersebut terkesan ditinggalkan oleh Pemerintah Kabupaten Lumajang sebagai salah satu pemangku wilayah. Dalam APBD dan program pengembangan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, situs bersejarah ini tidak kunjung mendapat bantuan penganggaran baik dari segi pelestarian (ekskavasi) maupun pemanfaatannya (event sejarah).

Pemerintah Lumajang seolah melupakan penganggaran situs kebanggan Lumajang tersebut dalam progaram-programnya. Program ziarah Bupati Lumajang setiap tanggal 14 Desember rutin dilaksanakan, namun tidak menyentuh dasar pelestarian sejarah.

“Hal ini di karenakan program ziarah tersebut hanya bertujuan mengunjungi petilasan Arya Wiraraja maupun Sayyid Abdur Rohman Assyaibani, sehingga hal tersebut menjadikan Kawasan Situs Biting hanya sebatas makam atau petilasan semata, padahal ia merupakan sebuah ibu kota kerajaan yang dibangun oleh salah seorang putra terbaik nusantara”, paparnya.

Hal ini dapat dibandingkan dengan bentuk dukungan pemerintah Kabupaten Lumajang terhadap even “Loemadjang Djaman Doeloe” yang menghabiskan dana sampai Rp 1,8 miliar, sedangkan bagi Situs Biting, anggaran Pemerintah Kabupaten dapat di katakan tidak ada.

Disamping beberapa hal terkait Situs Biting ada 2 hal utama dari program pemerintahan saat ini yang kurang maksimal dan terkesan kurang greget dalam melaksanakan program terkait Cagar Budaya yang sudah menjadi salah satu visi-misi pada saat kampanye tahun 2013.

“Pertama terkait pelaksanaan Perda Cagar Budaya dimana salah satu pesan utamanya adalah pembentukan “Tim Ahli Cagar Budaya” yang tidak pernah di singgung. Perlu di ketahui bahwa TACB merupakan suatu badan independen yang di bentuk oleh pemerintah untuk menentukan sah atau tidaknya secara hukum sebuah bangunan atau jejak dikatakan sebagai sebuah situs”, ujarnya.

Ketiadaan TACB merupakan suatu “ketidak-pastian hukum” dalam pelaksaan Undang Undang maupun Perda Cagar Budaya yang perlu menjadi perhatian bersama.

Kedua adalah pelaksanaan Perda Cagar Budaya yang tidak dilaksanakan dengan maksimal terkait dengan pendirian Museum Daerah Lumajang. Bahwa ada 10 pasal dalam Perda Cagar Budaya yang perlu ditindak-lanjuti dengan Peraturan Bupati yang salah satunya adalah pasal 15 ayat 5, bahwa pendirian Museum akan di tindak-lanjuti dengan Peraturan Bupati. Namun, dalam pelaksanaannya, Pemerintah Kabupaten Lumajang tidak kunjung membentuk peraturan bupati dan kemudian mendirikan Museum Daerah Lumajang tanpa mendengarkan saran maupun kritik ahli hukum. SYAM

 

Advertisement