Posko Laskar Hijau Dirusak, Pohon Pohon di Gunung Lemongan Dibabat Habis
Peristiwa

Posko Laskar Hijau Dirusak, Pohon Pohon di Gunung Lemongan Dibabat Habis

LUMAJANG, PEDOMANINDONESIA.COM – Posko Laskar Hijau yang berada di Gunung Lemongan Lumajang, Jawa Timur, tadi ini ditemukan dalam kondisi rusak parah.
Selama ini, Posko tersebut berfungsi sebagai basecamp relawan konservasi dan menjadi pos pantau Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kerja sama antara Pemkab Lumajang, Polres Lumajang, Kodim 0821 dan Laskar Hijau.

Kamal Pasha, Haryanto, Ilal Hakim dan Adi, relawan Laskar Hijau yang pertama kali mengetahui kejadian ini, menjelaskan, perusakan terjadi pada bangunan bagian depan yang terbuat dari bambu, kamar mandi dan bak penampung air yang jika musim kemarau berfungsi untuk menyiram tanaman.

“Selain merusak fasilitas posko, pelaku juga menebangi ratusan pohon yang kami tanam sejak tahun 2008. Antara lain pohon durian, manggis, leci, dan beragam jenis tanaman konservasi lainnya”, ungkapnya.

Hasil analisa dari Tim Investigasi Laskar Hijau, perusakan dilakukan pada malam hari dan pelakunya lebih dari satu orang. Hal ini terlihat dari banyaknya jumlah pohon yang dirusak.Perusakannya sangat masif dan terencana.

A’ak Abdullah Al-Kudus selaku koordinator Laskar Hijau memprediksi, setidaknya ada dua motif pengerusakan. Pertama, selama ini ada beberapa oknum masyarakat yang pekerjaannya merambah hutan lindung, bahkan seringkali dengan cara membakar.

“Hutan lindung yang sudah dibuka nantinya akan dijadikan kebun sengon. Kebun sengon ini dirawat hingga panen. Ada pula yang lahan tersebut dijual ketika sengonnya berumur satu tahun atau lebih. Setelah itu oknum ini membuka hutan lindung lagi”, ujarnya.

Di sisi lain, Laskar Hijau selama ini berupaya menjaga dan menanami kawasan hutan lindung ini dengan tanaman bambu dan buah-buahan agar ekosistem di Gunung Lemongan kembali hijau.

“Nah, aktivitas Laskar Hijau ini oleh para perambah hutan mungkin dianggap sebagai hambatan bagi bisnis mereka, sehingga hampir setiap tahun tanaman Laskar Hijau dirusak dan dibakar. Tapi para relawan tak mau menyerah, pada musim hujan berikutnya kawasan tersebut ditanami lagi dengan bambu dan buah-buahan. Mungkin karena kami tidak mau menyerah itulah, akhirnya mereka memutuskan untuk merusak posko kami berikut pohon-pohon yang ada di sekitarnya”, ungkapnya.

Kedua, kata A’ak, panggilan karibnya, menyampaikan, para pelaku perusakan hutan ini sebenarnya sudah pernah dilaporkan ke kepolisian baik oleh Laskar Hijau maupun oleh Perhutani dengan beragam tuduhan, mulai dari pembakaran hutan, perusakan pohon hingga illegal logging.

“Total kesemuanya kurang lebih 17 laporan polisi. Tapi sampai hari ini belum ada satupun dari terlapor yang dihukum. Mereka masih bebas berkeliaran. Dan karena mereka menganggap tidak ada konsekuwensi hukum, mereka akhirnya merusak hutan lagi”, pungkasnya.

Dia mencontohkan laporan Laskar Hijau terhadap Parmanto yang terbukti merusak pohon di hutan lindung untuk dijadikan kebun sengon.

“Kita laporkan tanggal 29 April 2017, tapi sampai saat ini terlapor belum ditahan, dan merusak hutan lagi”, pungkasnya.

Contoh lain, pada tanggal 24 Juli 2017, Laskar Hijau memergoki Tamin sedang membuka kawasan hutan dengan cara membakar, kemudian pelaku diserahkan ke Polsek Klakah. Namun sore harinya, rumah salah seorang relawan Laskar Hijau diserang oleh puluhan orang dari keluarga Tamin, hingga Ibu dari relawan diseret-seret dan cidera.

“Meskipun diperlakukan seperti itu, kami tetap taat hukum, kami tetap menyerahkan kasus perusakan hutan dan penyerangan terhadap keluarga kami kepada pihak Kepolisian, meskipun penyerangan ini sudah layak untuk diselesaikan secara adat”, paparnya.

Bukan hanya itu, hampir setiap 2 minggu sekali Laskar Hijau datang ke Mapolres Lumajang untuk menanyakan lanjutan proses hukum terhadap laporannya.

“Bahkan untuk laporan penyerangan terhadap ibu kami, SP2HP pun sampai saat ini tidak kami dapatkan”, tuturnya. DIN

Advertisement