Buruh Migran Asal Lumajang Meningkat
Ekonomi

Buruh Migran Asal Lumajang Meningkat

LUMAJANG, PEDOMANINDONESIA.COM – Jumlah tenaga kerja Lumajang ke luar negeri (buruh migran) setiap tahun mengalami peningkatan. Bahkan tahun 2017, data di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lumajang ada 253 warga Lumajang yang menjadi buruh migran.

Sementara di tahun 2018 sudah ada 55 warga Lumajang yang berstatus TKI. Peningkatan jumlah angkatan kerja ke luar negeri itu terdata sejak 2013 lalu.

Berikut datanya : Tahun 2013 ada 174 orang (89 ke Hongkong, 48 ke Taiwan), tahun 2014 ada 186 orang (74 ke Hongkong, 72 ke Taiwan), tahun 2015 sebanyak 165 orang (62 ke Hongkong, 79 ke Taiwan), tahun 2016 sebnyak 204 orang (53 ke Hongkong, 113 ke Taiwan), tahun 2017 ada 253 orang (114 ke Hongkong, 101 ke Taiwan).
“Pada tahun 2015, ada penurunan dari yang sebelumnya 186 pada 2014 menjadi 165 orang. Namun pada 2016 naik kembali menjadi 204,” kata Kepala Disnakertran Kabupaten Lumajang, Suharwoko, Senin (12/3) siang.

Dijelaskan, angka di lapangan (pekerja luar negeri jalur gelap) lebih banyak ketimbang yang terdata di database Disnaker. Mereka memilih jalur ini karena diiming-imingi sejumlah kemudahan dan cepat berangkat.

“Jumlah pastinya kami nggak tahu. Data yang kita catat yang sesuai dengan prosedur,” ujarnya.

Semakin banyaknya buruh migran karena gencarnya kampanye Disnaker agar para calon TKI memilih jalur legal. “Jalur legal lebih bisa memberikan keamanan kepada TKI saat berada di sana, karena data dokumennya lengkap. Mereka mendapatkan pelatihan di BLK (Balai Latihan Kerja). Sehingga lebih bisa dihargai oleh majikan,” ujarnya.

Dipaparkan, warga Lumajang beranggapan, menjadi buruh migran membuat ekonomi keluarganya akan membaik. Buruh migran Lumajang mayoritas bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau buruh di pabrik.

Negara yang menjadi favorit para buruh migran adalah Hongkong dan Taiwan. Berdasarkan data 2017, dari total 253 buruh migran Lumajang, 114 di antaranya bekerja di Hongkong dan 101 di Taiwan. Sedangkan sisanya tersebar di Brunai Darussalam, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Kuwait, Singapura, serta Bahrain.

Kedua negara di Asia Timur itu lebih banyak diminati karena keselamatan para buruh migran lebih terjamin. “Pemerintah dan majikan di Hongkong, Taiwan lebih memanusiakan buruh asing,” ujarnya. SYAM

Advertisement