Lapor Komnas HAM Laskar Hijau Berharap Kasus Gunung Lemongan Tuntas
Komunitas Peristiwa

Lapor Komnas HAM Laskar Hijau Berharap Kasus Gunung Lemongan Tuntas

LUMAJANG, PEDOMANINDONESIA.COM – Laskar Hijau melaporkan kasus teror terhadap aktivis Laskar Hijau dan pengerusakan posko serta hutan lindung di Gunung Lemongan Lumajang, Jawa Timur, kepada Komnas HAM, di Gedung Rektorat Kampus Universitas Negeri Jember (UNEJ), Rabu lalu. Mereka diterima Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik, didampingi oleh dua orang Komisioner (Sandrayati Moniaga dan Mohammad Choirul Anam), Sekjen Komnas HAM, Dr. Kasdiyanto. Hadir juga perwakilan Walhi Jawa Timur, dan LBH Surabaya.

Koordinator Laskar Hijau, A’ak Abdullah Al-Kudus dan relawan Laskar Hijau, Ilal Hakim dan Faiqul Khair Al-Kudus, menyampaikan, sejak tahun 2008, bersama para relawan Laskar Hijau, melakukan  penghijauan di kawasan hutan lindung Gunung Lemongan karena rusak akibat illegal logging periode 1998-2002  (situasi politik era Presiden K.H. Abdurrahman Wahid). Ada sekitar 2 ribu hektar hutan lindung di Gunung Lemongan kritis, sumber sumber mata air mati, sebanyak 13 Ranu di sekitarnya debit air mengalami penurunan dan sedimentasi. Bahkan pada tahun 2007 Ranu Kembar yang ada di desa Salak, Randuagung, mati.

“Laskar Hijau membiayai kegiatan penghijauan secara swadaya. Bibit pohon dibikin sendiri dengan mengais biji-bijian di tong sampah, menyemainya dan menanamnya saat musim hujan,” papar Ilal Hakim. Saat itu Laskar Hijau, kata dia, sering mendapat gangguan dari para pembalak hutan (pohon milik Laskar Hijau ditebang, dibakar hingga pengancaman terhadap relawan dan penganiayaan terhadap ibu dari salah seorang relawan).

“Puncaknya, pada 13 Maret 2018, Posko Laskar Hijau di Gunung Lemongan dirusak, pohon-pohonnya pun ditebangi. Setahun dua kali kami mengalami teror dan perusakan”, tukas pria yang ibunya dianiaya oleh pembalak hutan (24 Juli 2017).  Karena teror terhadap aktivis Laskar Hijau dan perusakan hutan lindung kian meluas dan massif, Laskar Hijau akhirnya memutuskan untuk melapor ke Komnas HAM.

A’ak Abdullah Al-Kudus, kepada PEDOMANINDONESIA.COM, menjelaskan, poin yang disampaikan ke Komnas HAM, antara lain soal kerapnya teror terhadap Laskar Hijau, pengerusakan hutan, pelanggaran hak atas rasa aman masyarakat.

“Contoh, ketika bulan Desember 2017 terjadi banjir dan longsor di sisi tenggara Gunung Lemongan, masyarakat di Desa Salak dan Desa Kalipenggung, Kecamatan Randuagung. Setiap turun hujan tidak sedikit yang mengungsi karena khawatir terjadi longsor susulan. Ini akibat perambahan hutan lindung untuk dijadikan kebun sengon”, paparnya.

Laskar Hijau juga melaporkan tentang penyerangan oleh puluhan orang bersenjata tajam terhadap keluarga relawan Laskar Hijau yang menyebabkan Ibu Ani (ibu Ilal Hakim) yang diseret di depan anak dan cucunya hingga mengakibatkan trauma yang berkepanjangan terutama terhadap cucunya Iqbal Firjatullah (5 tahun).

Dia melihat langsung saat neneknya diseret-seret dan ditodong dengan senjata tajam. “Kasus ini sampai saat sekarang belum ada kejelasannya, bahkan pihak pelapor tidak mendapatkan SP2HP,” ujarnya.

Laskar Hijau juga mengeluhkan lambannya proses hukum terhadap laporan kasus perusakan hutan lindung di Gunung Lemongan, baik laporan Laskar Hijau sendiri maupun laporan Perhutani sehingga menyebabkan konflik ini semakin berkepanjangan, bahkan berpotensi memicu konflik horizontal di masyarakat.

“Itulah point-poin yang disampaikan Laskar Hijau kepada Komnas HAM. Kita berharap intervensi Komnas HAM terhadap kasus ini bisa mempercepat penyelesaian kasus ini agar hutan lindung di Gunung Lemongan terjaga”, ungkapnya. DIN

Advertisement