Antisipasi Kelangkaan, Kembangkan Kawasan Bawah Merah
Suara Desa

Antisipasi Kelangkaan, Kembangkan Kawasan Bawah Merah

PROBOLINGGO, PEDOMANINDONESIA.COM – Bertempat di lahan Kelompok Tani Jaya Utama Desa Pondok Kelor Kecamatan Paiton, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo, Rabu lalu, melakukan panen bawang merah perdana pada Program Pengembangan Kawasan Bawang Merah.

Hadir dalam acara tersebut Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DKPP Kabupaten Probolinggo, Handaka Murwanta. Ketua Kelompok Tani Jaya Utama Kusairi dan puluhan petani di turut mendampingi.

“Program pengembangan kawasan bawang merah ini berasal dari dana APBN tahun 2017. Tujuannya, menjaga dan menambah ketersediaan bawang merah di luar musim tanam bawang merah”, ungkap Ahmad Hasyim Ashari, Kepala DKPP Kabupaten Probolinggo, melalui Kasi Tanaman Hortikultura Fajar Rahadiyanto

Selain itu, tujuan program tersebut untuk mengantisipasi melonjaknya kebutuhan bawang merah ketika tidak musim tanam. Dia berharap melalui program ini kelompok tani bisa menanam bawang merah di luar waktu musim tanam.

Dikatakan Fajar, ada 30 kelompok tani penerima program pengembangan kawasan bawang merah. Total arealnya sekitar 150 hektar, tersebar di Kecamatan Besuk, Paiton, Sumberasih, Gending, Kota Anyar, Dringu, Kraksaan, Leces, Bantaran, dan Tegalsiwalan.

Penanamannya dibagi tiga musim (25 hektar bulan Mei-Juni, 55 hektar bulan Agustus, dan 70 hektar bulan Oktober. Setiap kelompok mendapatkan bantuan bibit, pupuk organik cair, pestisida hayati, dan insektisida.

“Bantuan bibit perhektar sebanyak 1 ton dan pupuk organik cair sebanyak 16,67 liter per hektar,” ujar Fajar, panggilannya. Dia menyampaikan hasilnya cukup bagus dan kualitas super, apalagi  lahannya baru pertama kali ditanami bawang merah. Tekstur tanahnya bagus sekali dan penyakitnya sedikit.

“Kalau tanahnya bolak balik ditanami bawang merah bibit penyakitnya banyak sekali,” ungkapnya. Program pengembangan kawasan bawang merah ini dilakukan agar setiap bulan tersedia bawang merah dan harganya terkontrol terus.

Dia menambahkan, bila dibandingkan dengan menanam tembakau dengan luasan areal lahan yang sama, menanam bawang merah ternyata lebih menguntungkan. Umumnya saat panen, produksi tembakau hanya mencapai 1 ton, sementara bawang merah produksinya bisa menembus 10 ton.

Melalui program ini diharapkan pendapatan petani bawang merah meningkat dan kesejahteraannya bisa lebih baik. “Makanya dalam program ini kita masih menggunakan varietas unggul Bawang Merah Biru Lancor,” imbuhnya. DIN

Advertisement