MENUNGGU GEBRAKAN SPEKTAKULER PEMIMPIN LUMAJANG ‘HEBAT’
Opini

MENUNGGU GEBRAKAN SPEKTAKULER PEMIMPIN LUMAJANG ‘HEBAT’

Syamsudin Nabilah

LUMAJANG, PI – Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Lumajang periode 2018-2023, Cak Thoriq dan Bunda Indah sudah ditetapkan sebagai pemenang pilkada Lumajang 2018 oleh KPU, di Gedung Soedjono, pada Senin, 25 Juli 2018. Pasangan calon Bupati Lumajang yang diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Gerindra ini mengantongi  246.555 suara (42,28 %) mengungguli pasangan calon bupati nomer urut 2 (Gus Asat – H. Thoriq) 201.324 suara (34,69 %), dan pasangan calon nomer urut 3 (Aba Rofik – Nurul Huda) yang memperoleh 132.527 suara (22,83 %).

Terlepas dari berbagai alasan bagaimana Cak Thoriq – Bunda Indah bisa memenangkan perhelatan akbar ini, keduanya kini yang berhak memimpin Lumajang 5 tahun kedepan.  Diakui atau tidak keduanya memang “Hebat”,  apalagi rivalnya tidak bisa dianggap remeh karena sama-sama kader NU dan sama-sama berpengalaman di dunia politik.

Gus As’at misalnya, dua kali memenangkan Pilkada Lumajang tahun 2008-2013 dan 2013-2018 yang kala itu berpasangan dengan Cak Azad (Allahumma  Yarhamhu). Sementara Aba Rofiq pernah memengkan pertarungan di Konfercab NU hingga menahkodai organisasi terbesar di Indonesia di Lumajang.  Aba Rofik, pun menang dalam pemilu legislatif hingga menjadi wakil rakyat di tingkat Propinsi Jatim. Ternyata kedua tokoh ini mampu dikalahkan oleh Cak Thoriq & Bunda Indah. Hebat !!!

Kini pesta demoktasi telah usai. Tentu saja luka lama kekecewaan dan (bisa jadi) percikan api kebencian belum sirna begitu saja. Hal itu biasa,  apalagi tenaga, pikiran, materi, dan waktu habis untuk mempertaruhkan demi sebuah kemenangan.  Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, apalagi menjadi dendam yang tak kunjung selesai hingga 5 tahun kedepan.

Maka dari itu, pasangan  Bupati dan Wakil Bupati Lumajang terpilih konsentrasi dan fokus pada janji-janji politiknya untuk 5 tahun kedepan, bukan melayani hal-hal yang kontraproduktif. Apalagi merespon isu murahan, misalnya terkait adu domba, isu orang luar yang hendak ikut menikmati ‘kue’ kememangan, maupun isu –isu murahan lainnya.

Bila hal semacam itu direspon serius, maka akan dengan mudahnya pemerintahan ini ‘digoda’, ‘dirongrong’, ‘direcoki’ oleh pihak yang tidak menyukai pasangan ini. Apalagi bila dihitung kembali jumlah pemilih yang memilih paslon 1 lebih kecil bila dibandingkan dengan yang memilih paslon nomer 2 dan paslon nomer 3 (jika digabungkan).

Artinya, yang tidak memilih pason 1 juga banyak. Itu perlu menjadi pemikiran bupati dan wakil bupati terpilih bersama timnya. Belum lagi jumlah partai yang tidak mendukung paslon 1 lebih besar. Cak Thoriq dan Bunda Indah didukung oleh PKB (9 kursi), dan Gerindra (5 kursi). Total 14 kursi di parlemen.  Sementara Paslon nomer 2 didukung oleh PDIP (10 kursi) PAN (3 kursi) dan Hanura (2 kursi). Total 15 kursi. Sedangkan Paslon nomer 3 diusung PPP (2 kursi), Partai Demokrat (6 kursi), PKS (3 kursi), Partai Golkar (5 kursi), Nasdem 5 kursi. Jumlah total 21 kursi.

Jadi, untuk saat ini hingga 2019, kekuatan pemenang pilbup Lumajang di parlemen bisa dibilang masih ‘lemah’. Padahal, di parlemen inilah keputusan-keputusan politik menyangkut pembangunan Lumajang akan ditelorkan, lebih-lebih bila ada keputusan yang mengharuskan voting.

Taruhlah PKB, Gerindra,  Partai Demokrat (PD) merapat. Maka jumlah kekuatannya menjadi 20 kursi (suara di parlemen). Penulis masukkan PD bersama partai pemenang karena sebelum digelar Pilkada 2018, kedua Partai besutan Prabowo dan SBY ini telah berkomitmen membangun koalisasi permanen (kecuali jika ada perubahan peta koalisi pasca pilbup). Lalu bagaimana dengan 30 suara dewan lainnya? Apakah serta merta pimpinan parpol ini akan merapat ke partai pemenang? Jawabannya bisa ‘ya’ bisa juga ‘tidak’.  Ketika memutuskan merapat ke partai pemenang apa maslahah dan mafsadahnya (untung dan ruginya), baik secara politis dan  masa depan partai? Kalkulasi dan arahnya kurang lebih seperti itu.

Dengan demikian, kekuatan massa di bawah bupati dan wakil bupati terpilih masih lebih kecil bila dibandingkan dengan gabungan massa paslon nomer 2 dan 3. Pun, dengan kekuatan di parlemen, partai pengusung paslon 1 masih lebih kecil ketimbang gabungan partai pengusung nomer urut 2 dan 3.  Kondisi tersebut tidak bisa dibuat  enteng dan diremehkan hanya karena paslon 1 memperoleh dukungan 42,28 %.

Karena ini persoalan politik, maka penyelesaiannya mestinya secara politik. Apa itu politik? Meminjam bahasa yang seringkali dipakai Pak De Karwo, Gubernur Jatim, dalam setiap pertemuan, bahwa politik adalah seni berkomunikasi. Komunikasi yang dilakukan harus lentur (tidak lembek), dengan hati lembut, nada datar), logis dan tidak arogan.

Gagal membangun komunikasi, baik dengan para wakil rakyat di parlemen maupun di kalangan grass root (akar rumput) terutama akar rumput pendukung paslon 2 dan 3, akan berakibat fatal bahkan tidak menutup kemungkinan keinginan membangun kota ini tersandung krikil tajam.

RANGKUL SEMUA DAN TIDAK ANTIKRITIK

Dalam setiap pertarungan pasti ada yang kalah dan yang menang. Yang menang bolehlah berpesta ria sewajarnya( tidak berlebih-lebihan). Karena setiap tindakan yang berlebihan dilarang. Seperti dalam sebuah hadist “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan”. (HR. Muslim). Rasulullah SAW sampai tiga kali menyebutkan haditst ini, baik sebagai berita tentang kehancuran mereka maupun sebagai doa untuk kehancuran. Orang-orang yang berlebihan ini seperti dikatakan oleh Imam Nawawi, ialah orang yang ucapan dan perbuatan mereka terlalu dalam dan melampau batas.  

Partai pemenang, karena jumlahnya sedikit ketimbang yang kalah, tidak bisa serta merta menggunakan kekuasaannya tanpa keterlibatan dengan partai yang kalah, kecuali partai yang kalah (minus Partai Demokrat) seperti PDIP, PAN, HANURA, Nasdem, Partai Golkar, PPP, PKS, bisa ‘dirayu’dan legowo untuk melupakan kekalahannya dan bersama-sama membangun Lumajang.  

Bagaimana agar partai politik yang kalah dalam pilkada 2018 ini bisa  ‘dielus-elus’ untuk tidak bernanuver dan  melakukan ‘akrobat politik’ dalam setiap pembahasan dan keputusan urgen di dewan? Jawabannya ada pada Cak Thoriq dan Bunda Indah sebagai  pemimpin terpilih. Itu persolan pertama yang perlu dipikirkan dan diselesaikan.

Yang kedua, seperti halnya di kabupaten lainnya, Lumajang terdiri dari berbagai elemen masyarakat. Ada LSM,  kelompok pemuda, akademisi, pelaku bisnis dari kelas terri hingga kelas kakap, komunitas seni, kawan-kawan pelaku media (pers),  organisasi keagaman dan kemasyarakatan, dan elemen masyarakat lainnya.

Itu semua merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari pembangunan fisik dan pembangunan manusia. Artinya, mereka tidak hanya dijadikan objek pembangunan tapi ikut dilibatkan dalam setiap pembangaunan. Bukan jamannya lagi pemerintah merasa paling pintar sendiri dalam perencanaan pembangunan tanpa sumbangsih pemikiran dan partisipasi publik secara penuh. Dengan begitu, maka konflik, gesekan, benturan bisa diminimalisir atau dihindari.

Yang ketiga, tidak antikritik. Saat Abu Bakar terpilih sebagai Khalifah, dalam pidatonya, beliau menyampaikan, “Wahai kaumku, aku telah dipercaya untuk memerintah kalian,  tetapi akau bukanlah yang terbaik di antara lain. Bantulah aku jika aku benar dan ingatkan jika aku salah”.  

Cerita lain, ada seorang laki-laki mendatangi Umar Bin Khatab dengan agak lancing berkata kepadanya. “Takutlah pada Allah, wahai Umar!” . Para hadirin di di situ mengingatkan bahwa tindakan laki-laki tersebut tidak sopan di hadapan Khalifah. Tapi apa kata Umar? Umar mengatakan, “Tidak lah baik jika mereka (umat, rakyat) tidak mengingatkan kita dan tidaklah baik jika tidak mendengarkan mereka (baca buku : Kebebasan Berpendapat Dalam Islam). Sifat ini harus dimiliki oleh pemimpin negeri ini, bukan sebaliknya antikritik dan menilai buruk setiap ada kritikan yang masuk.

Dari secuil contoh tersebut menunjukkan bahwa mereka mengaki kebebasan rakyat untuk mengkritik pemimpin pemerintahan. Islam memberikan hak kepada rakyat untuk mengkritik pemimpin pemerintahan. Ini bukti historis yang kemudian tidak ditemukan pada periode-periode pemerintahan Islam selanjutnya. Dan tentu saja semua kritik harus diniatkan sebagai nasihah, sebagai obor penerang mencari jalan kebenaran dan kebaikan bagi umat/ rakyat.

Kini rakyat tinggal menunggu pelantikan dan gebrakan Cak Thoriq dan Bunda Indah untuk 5 tahun kedepan. 20 janji-janji politik nya saat kampanye tidak boleh tidak harus direalisasikan. Jika tidak, maka bersiap-siaplah mendapat hujan kritik, hujatan, dan cemoohan. Pun sebaliknya, Cak Thoriq dan Bunda bakal disanjung seperti dewa atau malaikat bila 20 janji politiknya menjadi kenyataan dan dirasakan oleh mayoritas Lumajang.

Selain itu, berbagai problem di Lumajang menumpuk dan menjadi PR cukup berat. Mulai dari persoalan keamanan (banyaknya begal, maraknya pencurian hewan), jalan rusak di hampir seluruh desa dan sebagian jalan kota, Pedagang Kaki Lima (PKL) yang  tidak tertata rapi dan semrawut, Penerangan Jalan Umum (PJU) yang minim, sulitnya air bersih terutama di wilayah Lumajang utara, birokrasi yang ‘carut marut’,  rendahnya income perkapita, persoalan pendidikan, rapor merah pelayanan  publik birokrasi, hingga potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang tidak diurus secara serius.

Pertanyaannya adalah, Mampukah Cak Thoriq dan Bunda Indah mengatasi berbagai problem ini? Tunggu saja gerakan dan gebrakan spektakuler pemimpin hebat bermartabat ini mulai September 2018 hingga 5 tahun kedepan. Selamat dan sukses buat Cak Thoriq dan Bunda Indah, pemimpin baru. Selamat bekerja.

*)Penulis adalah Alumni Pesantren An-Nuqayah, Guluk-Guluk Sumenep, Mantan Ketum HMI Cabang Jember Komsas Universitas Jember (Unej).

Advertisement