Advertisement
Ketua LMDH Divonis 8 Tahun Penjara
Hukum

Ketua LMDH Divonis 8 Tahun Penjara

LUMAJANG, PEDOMANINDONESIA.COM – Sidang kasus perusakan hutan lindung Gunung Lemongan, Jawa Timur, atas nama terdakwa Parmanto bin Suroto alias Parman, akhirnya divonis 8 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar rupiah. Sidang yang digelar Selasa sore tadi (sekitar pukul 17.00 WIB), di Pengadilan Negeri Lumajang, dihadiri puluhan relawan Laskar Hijau dengan pengawalan ketat dari Polres Lumajang.

Majelis hakim yang diketuai oleh Edwin Adrian, SH. MH, membacakan  putusan setebal 61 halaman. Sedangkan terdakwa didampingi oleh kuasa hukumnya, Mahmud, SH. Putusan ini berdasarkan atas pertimbangan karena terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana perusakan di kawasan hutan lindung Gunung Lemongan, petak 12. Ini  sesuai dengan dakwaan primer pasal 94 huruf a, Junto pasal 19 huruf a, UU No. 18/2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (P3H) dengan ancaman minimal 8 tahun penjara dan maksimal 15 tahun, serta denda minimal Rp 10 miliar dan maksimal Rp 100 miliar.

Putusan ini berbeda dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Bambang Heru, SH. JPU menggunakan dakwaan subsider pasal 92 dengan tuntutan 5 tahun penjara. Tapi kesaksian Asamo, orang yang disuruh oleh terdakwa Parmanto untuk membabat pohon dan membakar kawasan hutan lindung Gunung Lemongan, sangat menguatkan pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara ini, meskipun selama persidangan terdakwa Parmanto selalu menyangkal dirinya menyuruh Asamo untuk merusak dan membakar hutan.

Bahwa tindakan terdakwa Parmanto menyuruh Asamo membabati tanaman konservasi yang ditanam oleh Laskar Hijau di kawasan hutan lindung Gunung Lemongan memenuhi unsur kesengajaan dengan tujuan komersil, yakni untuk dijadikan kebun sengon.

Pertimbangan ini juga justru dikuatkan oleh kesaksian dari Saksi Meringankan (Adecharge) Munif, yang menyatakan bahwa terdakwa Parmanto adalah Ketua LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan). Artinya, terdakwa Parmanto mengetahui betul bahwa kawasan yang dirusaknya tersebut adalah benar-benar kawasan hutan lindung yang secara sah dikelola oleh Laskar Hijau, sedangkan kawasan yang boleh dikelola oleh LMDH adalah hutan produksi.

A’ak Abdullah Al-Kudus, Ketua Laskar Hijau, memberi apresiasi terhadap majelis hakim karena putusannya sesuai dengan rasa keadilan semua relawan Laskar Hijau yang selama ini selalu diteror oleh para perusak hutan. “Atas nama Laskar Hijau saya mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas putusan ini”, tegas A’ak, panggilan karibnya.

Dijelaskan, sepanjang sejarah perusakan hutan lindung di Gunung Lemongan, baru kali ini pelaku perusakan diproses secara hukum dan diganjar hukuman berat. “Masih banyak pelaku perusakan di hutan lindung Gunung Lemongan yang saat ini bebas berkeliaran dan tetap melakukan perusakan meskipun sudah dilaporkan ke pihak yang berwajib, salah satunya seorang notaris di Kabupaten Lumajang,” imbuhnya. FIK

Advertisement