Advertisement
Presensi Elektronik ASN Banyak ‘Nakal’ Pemkab Ancam Si Hacker
Politik & Pemerintahan

Presensi Elektronik ASN Banyak ‘Nakal’ Pemkab Ancam Si Hacker

LUMAJANG, PEDOMANINDONESIA.COM – Sejak awal Oktober 2018, Pemkab Lumajang, Jawa Timur, melakukan uji coba presensi elektronik SIPERLU khusus kalangan Aparatut Sipil Negara (ASN). Sayangnya, belum genap 1 bulan diuji cobakan presensi lewat HP android ini sudah banyak ditemukan pelanggaran oleh ASN itu sendiri.

“Presensi elektronik ini sangat berpengaruh terhadap PTT yang akan di terima setiap bulan,” kata Staf Ahli Bidang Pembangunan, Drs. Agus Triyono, M. Si,  saat bertindak sebagai Inspekatur Upacara  Rutin setiap tanggal 17, di halaman Pemkab. Lumajang, Rabu (17/10/18)

Berdasarkan monitoring  dan evaluasi, kata Agus Triyono, ada banyak pelanggaran yang dilakukan ASN. “Seperti menggunakan 1 HP untuk lebih dari 1 orang dan menggunakan presensi SIPERLU di luar titik kordinat yang ditentukan”, pungkasnya. Sayangnya, Agus, panggilan Agus Triyono, tidak membeberkan ASN yang melakukan pelanggaran tersebut.

Saat ini, BKD memang sudah menguji coba presensi elektronik. Kedepan, presensi elektronik akan hadir dalam hal pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, bila ada ASN yang menghacker (meretas sistem) presensi elektronik/ SIPERLUtersebut akan diberi sanksi tegas.

Mantan Kepala KPT ini berharap kepada ASN yang kreatif sebagai Hacker bergabung dengan dengan BKD yang menangani Informasi Teknologi (IT)  untuk bersama-sama beker jasama memperkuat sistem ini.

Informasi yang dihimpun media ini, kemarin, salah seorang yang mengaku ahli meretas teknologi ini (hacker), menyampaikan, sistem ini sudah lama diterapkan di beberapa kabupaten lain dan mudah dibobol. “Ada aplikasi khusus yang bisa didown load, Mas. Kalau absen bisa dimana saja, tidak harus di tempat kerja”, ujarnya sambil tersenyum.

Dia juga menyampaikan, sekarang banyak ASN yang punya 2 HP Android. Biasanya 1 HP dititipkan di bagian TU atau orang lain di kantor, satunya lagi dipegang sendiri.

“Meskipun si A misalnya datang telat, dianggap aman karen sudah diabsenkan lewat HP yang dititipkan itu tadi”, ungkapnya seraya menambahkan, sebetulnya yang perlu diubah adalah pola pikir ASN itu dulu sebelum diterapkan presensi elektronik ini. DIN

Advertisement