!-- Header -->
Ekonomi Lumajang

Ada Banyak Cara Pemuda Menjadi Pengusaha Sukses

LUMAJANG – Hingga hari ini, Indonesia masih kekurangan para pengusaha muda, termasuk di Lumajang. Mereka masih tergiur untuk menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara) dan pejabat. Apalagi, orang tua dulu melihat kesuksesan seseorang dari banyaknya dari kalangan ASN, bukan dari swasta.

Hal ini disampaikan Agus Setiawan, dalam acara Ngopi (Ngobrol Pagi), di Radio Semeru FM Lumajang, Sabtu (27 Juni 2020), dengan tema Pemuda dan Peluang Usaha. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia jauh tertinggal.

“Indonesia saat ini kekurangan wirausaha muda atau pengusaha muda. Memang faktanya demikian. Menurut Kementerian Perindustrian di Indonesia hanya ada sekitar 2 sampai 3 juta wirausaha atau pengusaha”, ungkap Agus Setiawan.

Mengapa demikian? Alasannnya karena semuanya berpikir bahkan banyak bercita-cita menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS/ ASN). Jika demikian keadannya, maka  kedepan pun angka wirausaha muda di Indonesia akan kalah dengan negara luar.

“Sehingga dampaknya pada konomi kita. Mau tidak mau, dan harus kita diakui hanya digerakkan oleh para pengusaha pengusaha besar dan konglomerasi. Begitu, seperti yang disampaikan oleh  Kementerian Perekonomian. Seperti itu,” ujarnya.

Oleh karena itu, Setiawan mengajak para pemuda Indonesia berani membuka pikiran dengan motivasi-motivasi untuk memulai usaha.

Terkait dengan modal usaha, bisanya, ungkap Agus Setiawan, menjadi alasasan utama semua orang yang hendak memulai membuka usaha. Menurutnya, memulai usaha tidak harus langsung punya modal besar. Bisa jadi, memulai usaha  dengan cara ikut orang. Ada juga yang memulainya dengan cara pinjam uang, pinjam hutang untuk modal. Ada pula memulai usaha baru dengan sharing modal. Pokoknya banyak cara memulai usaha.

“Sekarang eranya sharing ekonomi. Kita bisa berbagi. Kita bisa buat network. Mungkin salah satu yang bisa kita sharing adalah permodalannya. Ada banyak peluang. Modalnya bisa juga apa yang sudah kita punya. Tidak perlu mengumpulkan uang dalam jumlah besar lalu membeli material dan mulai menjual barang yang kita miliki. Tidak harus demikian. Banyak peluang, terutama di era digitalisasi seperti sekarang. Seperti bisnis online yang sudah kita bahas sebelumnya,” ungkap Samco, panggilan karib Agus Setiawan.

Ada juga yang tidak membutuhkan banyak modal besar dalam membuka usaha. Contohnya menjadi copy writer atau menjadi penulis untuk konten website. Kita juga bisa menjadi videografer, freelancer di internet. Dimana di sana banyak sekali website yang menawarkan pekerjaan singkat dengan fee lumayan besar. Satu kali pekerjaan bisa 5 dolar sampai 10 dolar bahkan 15 dolar.

“Itu bisa kita optimalkan. Kemudian, kita juga bisa mengoptimalkan hand phone kita. Hand Phone yang kita punya jangan sampai hanya digunakan untuk game. Kita mempelajari banyak  peluang bisnis. Mempelajari bagaimana orang-orang sukses itu memulai usaha. Bagaiaman mereka berjuang hingga mencapai kesuksesan. Kalau kita tidak punya toko  bisa main di dropshipping, kita bisa buat akun di market place di Tokopedia, shopee. Disini kita hanya meng-copy barang orang lain dan kita buka toko sendiri dengan harga kita naikkan pakai sistem dropshipping.  Itu perlu dipelajari oleh para pemuda. Sehingga semuanya punya peluang yang sama untuk memulai usaha, baik yang berskala kecil maupun besar”, tukasnya.

Yang terpenting juga adalah penguatan karakter atau character building. Character building ini tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada orang tua maupun lembaga pendidikan. Intervensi dari pemerintah tidak kurang-kurang. Melalui Kementerian Pemuda dan olahraga, pemerintah  sudah memberikan program peningkatan usaha, bahkan dengan permodalannya.

“Tapi, kalaupun kita belum memiliki modal untuk memulai usaha, maka banyak hal yang bisa kita lakukan. Kalau memang kita masih harus ikut orang,ya kita ikut orang dulu. Jangan memaksakan diri. Kita ikut orang tujuannya untuk menimba ilmu, kecuali kita profesional. Kalau kita ingin berwirausaha, maka itu jadi batu loncatan”, selorohnya.

Samco juga berpesan kepada para anak muda untuk tidak menghabiskan waktu nonton. Cobalah berusaha. Bagaimana caranya kita berlatih di sosial media, di handphone kita. Sering seringlah melihat informasi orang berjualan barang – barang yang dipromosikan. “Itu bisa dimanfaatkan untuk melatih kemampuan kita menjual barangnya. Kita tawarkan barang orang kepada orang lain. Bisa nggak kita menjual barang itu. Coba dilatih. Toh tidak ada salahnya melatih public speaking kita. Kita melatih bagaimana cara kita menjual. Siapa tahu memang  passion kita nanti di sana. Bisa jadi itu perantara salah satu peluang yang bisa kita dapatkan”, katanya.

Kemudian, ujar Samco, jangan terlalu banyak main game. Sekarang tidak sedikit anak-anak muda menghabiskan waktunya karena game. Ini sangat sangat merugikan. Kita akan kehabisan uang dan waktu sia-sia. Semestinya kalau sudah bisa main game, maka waktunya digunakan hal-hal lain yang positif. “Seperti membangun sebuah blog, landing page, website dan kita mulai berjualan di sana. Memasarkan produk orang lain dan kita mendapatkan komisi”, paparnya.

Kemudian, mulailah belajar berinvestasi. Jangan menghabiskan waktu untuk kesenangan belaka (hedonisme). Anak muda sekarang terjebak dengan kegiatan yang kontraproduktif. Misalnya nongkrong tidak jelas. Bangun pagi-pagi langsung ngajak ngopi berjam-jam dan bicara ngalor-ngidul.

“Sementara di negara lain, pagi-pagi sudah mulai melakukan aktivitas yang menghasilkan. Peluang usaha yang seharusnya didapatkan, akhirnya diambil orang lain. Itu yang harus dikurangi. Jangan sampai terjebak kebiasaan-kebiasaan hedon, bersenang-senang. Hedon tidak hanya bermewah-mewah. Nongkrong di warung kopi berjam jam juga kurang baik”, ujarnya.

Apa saja yang membuat usaha kita salah langkah? Banyak faktor yang bisa membuat usaha kita itu tidak berhasil, termasuk mengenai managemen yang pernah dia sampaikan. Menurut Samco, yang terpenting dalam membuka sebuah usaha bidang perdagangan adalah pemilihan lokasi. Jangan sampai lokasi yang dipilih kurang baik. “Ini terjadi pada  saya yang membuka beberapa outlet yang banyak orang tidak tahu. Meskipun kita optimis masih bisa diatasi dengan berbagai cara agar tetap berjalan”, tuturnya.

Kemudian yang kedua, jangan jadi single fighter. Sekarang jamannya kolaborasi. Kolaborasi itu bisa antara orang dengan perusahaan, antara orang dengan orang, antara kita dengan teman. Jangan sampai mau memonopoli sebuah peluang. Kalau tidak bisa menangkap peluang sendirian,  lakukan kolaborasi, bersama-sama. Yang terpenting adalah satu visi dan yang diajak kolaborasi track record-nya baik. Kalau tahu teman di dalamnya pernah bermasalah dengan keuangan, maka lebih baik jangan diajak.

“Kemudian cari teman yang punya ide sama. Kemudian mulai menghimpun uang, fundrising ke teman-teman kita. Kita prospek usaha kita. Kita tawarkan ada gak untuk berinvestasi. Kalau kita tidak punya modal sendiri, maka kita hayer dengan teman kita untuk kolaborasi modal. Insya Allah banyak teman yang tertarik. Yang terpenting trust (kepercayaan). Kepercayaan harus dijaga. Jangan sampai kita pegang uang lupa dengan tujuan. Lalu uangnya habis. Ini yang salah total,” tandasnya.

Kemudian jangan sampai menerima pekerja yang kurang baik. Kalaupun ternyata ada pekerjaan yang kurang baik, maka lebih baik diganti agar tidak ada masalah. “Carilah pekerja yang memang satu visi. Jangan lupa ajak mereka berkembang. Kita berikan pelatihan-pelatihan. Kita pun harus ikut pelatihan tersebut. Kemudian, jangan bekerja biasa-biasa saja. Kerja ekstra. Harus bener-bener fokus. Jangan sampai diganggu dengan  hal yang menghabiskan waktu yang nggak jelas seperti nongkrong, main game. Boleh nongkrong sambil bicara bisnis. Karena terkadang negoisasi di warung kopi lebih sukses. Tapi jangan nongkrongnya gak jelas”, saranya.

Selain itu, ujar Samco, jangan bekerja tanpa planning. Kadang anak muda, saking semangatnya akhirnya tidak punya perencanaan yang matang. Biasakan buat perencanaan. Bagaimana jika ingin punya perencanaan yang baik? Pelajari di buku, baca artikal, buka internet, baca literatur-literatur yang membuat kita semakin maju.

“Kemudian, usaha pasti target market. Kalau tidak punya target market, biasanya usaha yang kita tidak jelas. Tidak terarah dan pada akhirnya akan gulung tikar. Tentukan juga target marketnyaa siapa. Apakah anak kecil? Apakah anak muda, orang dewasa atau orang tua? Jangan sampai salah sasaran. Misalkan kita berjualan barang-barang untuk orang-orang yang sudah tua tapi kita membuka toko di tempat nongkrong anak muda.

AGUS SETIAWAN, SE PENGUSAHA MUDA LUMAJANG. Red

Kemudian salah memilih platform iklan. Contohnya seperti di Lumajang. Di Lumajang itu yang banyak adalah Facebook yang mencapai 600 ribu akun. Di sanalah tempatnya yang tepat beriklan. Jangan sampai salah menentukan strategi pemasaran. Selain itu, ungkap Samco, semua usaha (baik yang baru dirintis maupun yang sudah lama) manajemennya harus bagus. Bagaimana cara mengatur keuangan, mengatur jam kerja, SDM dan seterusnya.

“Kala tidak bisa melakukan sendiri, maka hayer orang lain. Contohnya di bidang SDM cari orang untuk jadi HRD. Jangan single fighter. Single fighter kapasitasnya terbatas. Mengenai pembukuan misalnya, kita ambil orang akuntansi. Lulusan SMK atau D3 keuangan yang bisa mengontrol dan  menyusun sebuah laporan keuangan yang baik. Sehingga bisa diketahui untung ruginya. Kembali ke manajemen. Belajarlah manajemen kepada orang sukses bila malas untuk membaca. Carilah cerita mereka ketika memulai dan merintis usaha. Bagaimana cara kita mendapatkan pengetahuan tanpa kita mengalami yang terlebih dahulu. Itu yang harus kita lakukan”, jlentrehnya.

Dia juga menjelaskan, orang tua dulu melihat kesuksesan seorang bila diterima menjadi ASN. Sehingga mindsetnya sang anak harus dikatakan sukses bila menjadi ASN atau pejabat negara. Namun, seiring perkembangan dunia usaha mindset tersebut perlahan berubah seiring dengan banyaknya pengusaha sukses. Apalagi, yang dicari sekarang adalah kesejahteraan. “Kalau nanti yang lebih sejahtera itu orang swasta, pengusaha, maka mindsetmuaakan berubah. Khusus untuk orang tua, kita ingin sampaikan, bahwa kehidupan terus berubah. Sekarang banyak orang swasta yang sukses. Maka mindset anak perlu diubah dengan dengan bekal ilmu pengetahuan, sehingga anak bisa memilih”, paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, pria yang punya hobby membaca buku sejak SD ini, berpesan kepada anak anak muda di Lumajang untuk tidak berkecil hati. Tapi juga jangan terlalu berambisi. Seimbangkan mengejar uang dengan spiritual. Seorang pemuda yang tidak baik tidak menyukai sebuah perubahan. Dia tetap ingin berada di zona nyaman. Ketika melihat teman yang sukses, dia merasa tidak suka karena merasa dikhianati. Sehingga menjauhi teman-temannya dan tinggal sendirian. Tidak bisa mencapai kesuksesan. Tetap menjadi pengangguran dam tidak pernah merasa sudah tua.

Seorang pemuda yang baik ketika bercengkerama dan ngopi dengan teman-temannya, yang obrolin tentang peluang usaha yang bisa direalisasikan. Sebaliknya, pemuda yang biasa-biasa saja lebih banyak membicarakan orang lain dan mencari pembenaran atas kesalahan orang lain. “Itu sedikit tips untuk teman-teman supaya mau membuka wawasan. Mulai membuka pikirannya dan mulai menentukan saya harus apa kedepan”, imbunya. RED

Post Comment