!-- Header -->
Komunitas Lumajang

Anak Tukang Kebun Sekolah Jadi Pengusaha Sukses

Agus Setiawan, Ketua PP Lumajang. RED

LUMAJANG – Kehidupan itu seperti roda, berputar. Kadang di atas kadang juga di bawah. Itulah yang dialami oleh Agus Setiawan, SE, asal Veteran Lumajang. Saat BBS (Bincang Bincang Santuy) di Radio Semeru FM, dia menuturkan, almarhum ayanya Sujenal dulunya seorang pesuruh di sebuah lembaga pendidikan. Ayahnya mengabdi di lembaga itu sejak remaja.

“Iya betul sekali. Sebelum diangkat menjadi PNS almarhum bapak saya menjadi pesuruh sekolah. Dulu ada namanya Sanggar Kegiatan Belajar Mengajar di sana. Sekian tahun hingga akhirnya diterima menjadi PNS golongan 1 dengan gaji Rp. 20 ribu,” ujarnya.

Tentu saja gaji sebesar itu tidak cukup untuk menghidupi anak-ankanya yang berjumlah 4 orang, termasuk Agus Setiawan anak kedua dari 4 bersaudara.
Saat itu Agus Setiawan masih duduk di bangku SDN Tompokersana 1 Lumajang.

“Karena tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari, maka yang diandalkan pinjaman semacam koperasi. Sedangkan untuk komsumi makan kita sudah dapat beras jatah yang warnanya coklat, bahkan kadang banyak kutunya”, ungkapnya mengenang masa lalu lalu tertawa.

Agus Setiawan punya 7 saudara (sebenarnya 8 tapi meninggal dunia 1 waktu masih kecil). Dia merupakan anak kedua. Dilahirkan pada tahun 1983, sedangkan kakaknya lahir tahun 1981, ada lagi yang lahir 1982, dan yang terakhir lahir 1987. Almarhum Ayah Agus Setiawan, dalam aktivitas kesehariannya ke kantor ngontel sepeda jengki. “Waktu itu kakak Saya kelas 6, saya kelas 4, adik saya kelas 3 dan satunya kelas 1. Jadi, jaraknya berdekatan. Secara ekonomi kita tidak mampu sebenarnya. Berat sekali rasanya”, ungkapnya.

Setiawan menceritakan, setiap kali menjelang ujian cawu (catur wulan) dirinya selalu dipanggil keluar kelas oleh sang guru gara-gara belum membanyar SPP. Disuruh menyelesaikan tanggungan sekolah sebelum menyelesaikan.

Meskipun dalam kondisi serba kesulitan ekonomi, almarhum ayahnya, kata Setiawan, selalu memberikan motivasi dan menanamkan kepercayaan diri bahwa kita harus bisa merubah nasib. Tetap optimis dan terus berusaha.
“Saat itu saya disarankan mencari beasiswa tapi selalu gagal karena Bapak saya PNS meskipun gajinya hanya Rp 20 ribu. Akhirnya kita belajar apa  adanya. Saya memanfaatkan  waktu membantu ibu (Khoiriyah) berjualan. Ibu kan jualan rujak dan nasi pecel. Setiap pagi bangun setengah empat, mengantarkan belanja belanja sayur ke pasar. Nyampek rumah ndepok pecel. Ngangsu air di sumur. Setelah semuanya beres berangkat sekolah bersama teman-teman dengan jalan kaki dari Veteran ke SD Tompokersan 1″, ungkapnya.

Soal prestasi di sekolahnya, Agus Setiawan tergolong murid pintar. Nilainya tidak pernah di bawah 7. Hanya pas kelas 1 dia berada berada di ranking 41 dari 43 murid. “Alhamdulillah prestasi saya lumayan. Nilai dapat 7. Walaupun hidup susah tidak boleh enggan untuk belajar. Kalau nilainya di bawah 7 siap-siap penggaris kayu warna coklat melayang ke kaki, plak…!”, katanya lalu tertawa.

Menariknya, awalnya Agus Setiawan dianggap oleh gurunya sebagai murid yang terbelakanga dan nakal. Maka dari itu, dia sempat dimasukkan ke sekolah khusus anak nakal. Ayahnya marah dan tidak terima anaknya dimasukkan ke sekolah khusus anak nakal.

“Karena waktu kelas 1 SD nilai saya rendah akhirnya belajarnya didampingi bapak. Kalau menjawab matematika salah langsung plok…!”, cerita Setiawan lalu tertawa ngakak. Berkat tekun belajar dan  didampingi sang Ayah, pada Cawu 2 prestasinya rangking 8. Kemudian mulai kelas 2 sampai lulus dia selalu mendapatkan rangking 1. Lulus SD Agus Setiawan memutuskan masuk ke SMPN 1 Sukodono (tahun 1997). Kegiatannya tetap membantu warung Ibunya dan bekerja di mebel tetangga. Bukan hanya itu, di saat ada event dia menjadi tukang parkir.

KETEMU ISTRI MODUS PINJAM BUKU

Setiap orang punya cerita dengan pasangannya masing-masing, termasuk Agus Setiawan. Dia bertemu Ratih Damayanti dan kini menjadi istri setianya bermodal berani pinjam buku (seperti lirik sebuah lagu “buku ini aku pinjam”). Dengan ‘modus’ pinjam buku plus modal kepintarannya sebagai siswa, Agus Setiawan mampu meluluhkan hati Ratih.

Si Ratih ini berasal dari Perumahan Sukodono Lumajang. Satu sekolah dengan Agus Setiawan tapi beda kelas. Ratih mengaku kepincut ke dia  bukan karena wajahnya yang rupawan dan dempal, tapi karena kepintarannya di sekolah.

“Saya suka dia karen pinternya. Bisa bantu ngerjain PR saya. Pas upacara dia lagi yang jadi petugas. Masuk ke UKS pas saya sakit ketemu dia. Dia lagi dia lagi”, ungkap Ratih yang ikut acara BBS lalu tertawa bahagia.

Cintanya kepada Agus Setiawan tumbuh berawal dari ‘modus’ nya pinjam buku. Waktu itu, Ratih mengaku heran mengapa harus pinjam bukunya, padahal si Agus Setiawan ini pintar dan dia tidak kenal dekat karena tidak satu kelas. “Saya sempat tanya. Kamu kan pinter, kok pinjem buku ke saya. Buku pelajaran IPA yang dia pinjam. Saya pinjemin aja tanpa basa basi. Herannya lagi, waktu dikembalikan di belakangnya ada tulisan puisi romantis,” ujarnya membuka kartu As. Mereka pun tertawa karena ingat masa lalu.

Agus Setiawan melajutkan kisahnya, bahwa Ratih ini anaknya lincah dan agak “nakal” (suka naik meja kelas dan melompat pas temannya tidak mau minggir dia mau lewat). Karena tak ingin kedahuluan temannya yang lain, Agus Setiawan kemudian melakukan PDKT lewat pinjam buku. “Saya langsung tembak dia waktu SMP. Catur Wulan 3 saya tembak. Tapi anak ini keras. Berbulan bulan lamanya ‘tembakan’ saya tidak dijawab-jawab”, selorohnya.

Ternyata tembakannya Agus Setiawan tidak segera dijawab karena Ratih sakit hati terhadap laki-laki lain yang masih temannya Agus Setiawan. “Disampaikan gak ya kenapa waktu itu saya nggak segera menjawab…? Saya tidak menjawab karena sakit hati. Trauma pada seseorang yang masih temannya dia”, paparnya.

Agus Setiawan menyampaikan, Ratih ini keras dan tak mudah ditaklukan. Bahkan sampai mau dinikahi menolak dengan alasan masih akan menyelesaikan kuliahnya. Setelah ‘tembakannya’ diterima, Agus Setiawan sering mendatangi rumahnya sambil belajar hingga masuk ke SMA. Meskipun sering datang ke rumahnya tetap dibatasi dan jaga jarak.

“Dulu ketemuannya seperti itu. nggak boleh keluar rumah atau di luar rumah. Di dalam rumah sambil pegang buku dan diawasi oleh orang tua. Sebelum ke rumahnya, saya ngamen dulu buat bayar lin. Waktu itu kita sudah sama-sama masuk SMA. Saya SMAN 2 Lumajang istri saya ini masuk SMAN 3 Lumajang”, ucapnya. Sebenarnya Agus Setiawan menginginkan dia masuk SMAN 1 Lumajang. Karena yang ditunggu-tunggu tidak muncul-muncul, akhirnya dia memutuskan masuk ke SMAN 2 Lumajang dengan harapan Ratih juga sudah mendaftarkan di sana. Ternyata harapan Agus Setiawan kandas. Ratih sengaja masuk ke SMAN 3 untuk menghindar dari dia.

MEROKOK DIPUTUS, LAMARAN DITOLAK

Setia tidaknya seorang Setiawan, panggilan karib Agus Setiawan, benar-benar diuji oleh Ratih. Dia sempat diputus gara-gara rokok. Seperti anak-anak remaja/ muda pada umumnya, Setiawan ikut-ikutan kawannya merokok. Ratih antirokok dan tidak suka cowok perokok. Ada dua opsi yang ditawarkan Ratih kepada  Setiawan. Tetap merokok bersama kawan-kawannya atau tetap bersama Ratih. Setiawan saat itu memilih tetap merokok.

Gak keras kepala gimana, hayo. Saya suruh pilih. Pilih saya atau rokok dan teman-teman saya. Saya memilih merokok. Dia benar-benar memutus hubungan dengan saya ya sebelum Ebtanas. Saya pun galau dan tidak mau belajar. Setelah diputus saya sering kali  menyendiri di Jembatan. Guru saya bilang, Gus kalau kamu terus-terusan begini Danem mu paling tinggi dapet 44. Saya semakin tidak belajar karena 44 itu termasuk tinggi”, selorohnya tersenyum.

Di masa SMA hubungan Setiawan dan Ratih putus nyambung. Mereka lulus SMA tahun 2002. Setiawan melanjutkan ke STAN Malang, Ratih di Widyagama dan sempat ke Kanjuruan PGSD. Sebelum melanjutkan ke STAN Setiawan sudah berencana merantu ke luar jawa, bekerja di kebun sawit.

“Mau kuliah nggak ada uang. Tapi alhamdulillah, saya menemukan informasi kalau ada beasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Istri saya mensupport. Waktu mau daftar almarhum bapak saya terpaksa menjual meja kerjanya. Laku Rp 150 ribu. Yang Rp 50 ribu diberikan kepada Ibu saya, yang Rp 100 ribu dipakai untuk daftar ke STAN Malang”, katanya.

Saat mendaftar ke Malang, lagi lagi Setiawan tidak punya ongkos naik Bus. Untungnya, kawannya yang juga mendaftar di STAN Malang mengajak berangkat bareng. Dia yang bayarin ongkos BUS nya.

“Pas mau ujian nggak punya duit buat ke Malang. Untungnya ada tetangga saya yang baik hati dan mau pulang ke Malang. Dia punya kosan di sana. Saya ikut dia dan nginap di rumahnya, Malang. Waktu mau lihat kelulusan ke Malang tidak punya uang lagi. Kebetulan waktu itu Ratih mau daftar ke Politeknik. Saya diajak dan dibayarin”, tuturnya.

Ratih menceritakan, saat melihat pengumuman, Setiawan mulai galau karena namanya tidak tercantum. Dia sempat menangis. Hatinya mulai gundah. Pikirannya kalut dan terbayang bakal jadi bekerja di kebun sawit di luar jawa.

“Dia gak teliti melihat namanya tercantum di papan pengumuman. Saya lihat ada. Saya panggil pas sedang mencari di papan pengumuman, di pojok. Setelah tahu namanya ada langsung sujud syukur”, imbuh Ratih. Setelah itu mereka mulai dibatasi jarak. Setelah lulus Setiawan diterima bekerja di Kantor Pelayanan Pajak Setyabudi di Jakarta. Dia ditempatkan di KPP favorit karena IPK nya lumayan tinggi.

Yang menarik, begitu kerja dapat hampir 2 tahun (sebagai PNS), Setiawan memberanikan diri melamar Ratih. Namun, Ratih menolak lamarannya. Alasan Ratih sederhana. Dia masih ingin menyelesaikan kuliahnya. Kalau nikah lalu hamil, maka semua akan berantakan. Kuliahnya tidak akan selesai.

“Jawabannya masih keras kepala. Dia bilang, silahkan kalau gak sabar cari perempuan yang lain. Saya mengadu kepada Ibu saya. Ibu saya langsung telpon ibunya (Ratih, Red). Atas desakan keduanya akhirnya kami bisa menikah dan tinggal di Jaksel, sebuah rumah kontrakan hingga tahun 2015″, kata Setiawan hingga di karuniai anak pertama ( lahir di Lumajang).

BERHENTI PNS BISNIS RONTOK CABUT DARI SAMCO

Setelah melahirkan anak pertama, Setiawan mulai membangun bisnis furniture (tahun 2006 sampai 2008) sambil tetap menekuni pekerjaannya. Karena sambil berbisnis, pekerjaannya seringkali dia tinggalkan hingga akhirnya berhenti dan fokus pada bisnisnya.

“Saya pernah dapat bos yang apatis. Saya mau kuliah lagi gak dikasih. Saya mau melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang kinerja kantor tidak bisa. Ini yang membuat saya lebih aktif di luar. Di kantor saya sering bolos. Saya dikotak. Hingga tahun 2008 saya sudah besar. Saya menang lelang di banyak instansi. Di sana saya sudah banyak uang, saya coba bisnis batubara. Saya jual sahamnya. Namun, bisnis batubara ditipu teman. Uang habis”, selorohnya.

Setelah tidak di dunia batu bara, Setiawan kemudian keluar dari PNS dan bergelut di dunia online. Tidak keluar pun di PNS karirnya diprediksi tidak akan naik karena sering mendapatkan kartu merah, mendapatkan hukuman disiplin, bahkan gajinya dipotong selama 6 bulan nyaris tinggal 25 %. Lagi pula, menjalankan dua pekerjaan tidak akan fokus. Pertama kali  dunia online yang ditekuni sebagai webmaster konsultan di website-website internasional.

BBS : Agus Setiawan bersama Ratih, saat di Semeru FM. RED

“Saat menekuni dunia online saya seringkali tidur larut malam. Dalam kondisi sudah terpuruk barang-barang di dalam kontrakan dimaling lagi. Ada laptop, televisi, duit semua diambil. Sama sekali tak punya duit saya pinjem sama tetangga.  Diberi pinjaman Rp 20 ribu untuk mencairkan Paypal pencairan dolar dari hasil online. Hasil sebagai webmaster ini saya belikan HP seharga Rp 200 ribu untuk komunikasi dengan istri di Lumajang”, pungkasnya.

Dari menekuni dunia online (link building) selama 6 bulan inilah Setiawan mulai bangkit lagi dari keterpurukan selama 2 tahun. Dia jemput kembali Ratih untuk balik lagi ke Jakarta. Sayangnya bisnis itu tidak lama dia  lakukan karena Google punya algoritma baru yang agak susah  dijalankan. Setelah itu dia bertemu dengan seorang kawannya dan membuat perusahaan konsultan pajak (sekitar tahun 2014). Sahamnya waktu itu 30%. Namanya Solusi Artha Megatama (Samco). Saat itu dia bangga punya perusahaan sendiri bersamaan dengan kelahiran anak keduanya, pada 14 Januari 2014. Sayangnya Setiwan bertahan di SAMCO sampai 2019 karena tidak berjalan dengan baik.

Saat itu dia kembali lagi ke nol dalam memulai usahanya. Keluar dari SAMCO, Setiawan mendirikan Camden (Capital Nusantara). “Ceritanya ada perusahaan furniture yang nganggur lama. Lalu saya beli. Sahamnya udah saya ganti, pemiliknya sekarang saya”, tukasnya.

TERLIBAT DI POLITIK

Sejak tahun 2015, Setiawan sering pulang pergi Lumajang-Jakarta (dua minggu sekali). Karena sering pulang ke Lumajang dia mulai bergaul dan beriteraksi dengan banyak teman organisasi, bahkan seringkali membantu dalam kegiatan sosial maupun lainnya. Apalagi istrinya (Ratih) mantan aktivis mahasiswa sehingga rumahnya seringkali didatangi para aktivis untuk curhat, sekedar ngobrol, konsultasi berbagai hal.

Setiawan dianggap memiliki kelebihan dan pengalaman karena lama di Jakarta. Saat itu mulai banyak yang mengajak masuk organisasi. Namun Setiawan belum bisa memutuskan masuk di sebuah organisasi.

Kemudian pada 2016/ 2017, dia mulai mengkritisi Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui tulisan di FB hingga akhirnya dipanggil oleh Pemerintah Kabupaten Lumajang (waktu itu Bupatinya Kiai As’at) untuk ngopi.

“Karena saya orangnya terbuka, saya sampaikan apa adanya kepada beliau. Masukan masukan saya ada yang dilakukan oleh beliau. Bukan berarti setelah saya dipanggil terus langsung berhenti mengkritisi. Prinsip saya, kalau ada yang baik saya apresiasi tapi kalau ada yang kurang baik, ya dikritisi dengan cara yang baik,” katanya.

Lalu pada saat pesta demokrasi Pilkada 2018, Setiawan diminta membantu Kiai Asat maju lagi sebagai Calon Bupati Lumajang. Sebagai seorang murid waktu di SMAN 3, dia tak bisa menolak. Apalagi Kiai As’at sering ceramah di masjid tempatnya, Veteran. “Sebagai murid yang baik, bila diminta membantu sang guru, maka harus dibantu. Pak guru dan orang tua bila punya hajat wajib dibantu. Walaupun waktu itu berseberangan dengan istri. Istri saya yakin yang menang adalah Bunda Indah. Malah dia katanya mimpi yang pakai mahkota Bunda Indah. Tapi yang namanya membantu pak guru, saya harus total. Ternyata benar, yang menang Bunda Indah”, ujarnya tertawa. Di Pilpres Setiawan mendukung pasangan Jokowi – Kiai Makruf Amin dengan mendirikan Gema Jokowi.

DITUDING PROVOKATOR BERJALAN MENGALIR 

Dirinya, ungkap Setiawan, suka mengkritik. Kritikannya biasanya dituangkan di FB hingga menimbulkan respon beragam bahkan memunculkan polemik. Bahkan tidak sedikit terdengar tudingan sebagai provokator dan sakit hati setelah calonnya kalah dalam pilkada 2018.

“Padahal, saya memang suka mengkritik yang salah dan mendukung yang benar. Cak Thoriq juga tidak pernah membungkam kritikan kritikan saya. Bahkan saya sempat diajak ngopi dan bicara empat mata. Saya mengutarakan langsung dan beliau merespon dengan baik”, ungkapnya.

Terkait dengan keterlibatannya di Pemuda Pancasila (PP) hingga menjadi Ketua MPC PP Lumajang, Setiawan menyampaikan, awalnya beberapa kawan mendatanginya menawarkan agar maju menjadi Ketua PP Lumajang. Dirinya menolak dan menyodorkan nama –  nama lain seperti Abdul Rohim (pengacara), Hisbullah Huda, Dwi Wismo. Namun karena dinamika politik terus berkembang, akhirnya Setiawan bersedia di calonkan sebagai ketua PP Lumajang. Apalagi Ratih, istrinya juga memberikan support kalau itu dianggap baik dan bermanfaat bagi orang lain.

“Kemudian saya sampaikan visi-misi waktu Pleno diperluas ke teman-teman PAC. Akhirnya, 20 PAC menyepakati saya menjadi Ketua PP Lumajang sampai 2023 melanjutkan kepemimpinan sebelumnya (Iqra’ yang tersandung masalah, Red). Sebelumnya di provinsi, dari sekian nama calon PP Lumajang yang diusulkan, satu nama yang direkomendasi. Mengapa saya tidak gabung di Ansor? Saya bukan santri.  Di Muhammadiyah saya juga tidak pernah di dalamnya. Maka yang pas, ya di PP”, tuturnya.

Dari kesediannya memimpin PP, akhirnya muncul pertanyaan lanjutan. Apakah PP sebagai jembatan untuk mencalonkan diri sebagai bupati, wakil bupati, atau dewan?

“PP ini ormas yang besar dan nasional. Di dalamnya banyak tokoh-tokoh berkualitas. Selain itu, image PP sebelumnya banyak premannya. Padahal, di dalamnya lebih banyak yang berpendidikan. Dan di AD-ART nya ada transformasi menjadi organisasi yang arahnya kepada pemberdayaan anggota. Bagaimana upaya meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Makanya saya sekarang dalam masa pemilihan kepengurusan. Saya berusaha memasukkan temen-temen yang punya potensi, orang-orang yang memang punya kapabilitas kita masukkan”, tukasnya.

Setiawan juga menginginkan Pemuda Pancasila menjadi organisasi yang ada di tengah (tidak terlalu dekat ke kanan dan tidak ke kiri) supaya nyaman dalam bergerak. Yang baik dari pemerintah tentu diapresiasi, apa yang kurang baik dikritisi dengan cara yang baik pula.

“Kalau ada yang bilang setelah saya nyalon PP mau nyalon bupati atau lainnya terserah mereka. Kita nggak bisa batasi orang untuk berpikir. Ya, sudah biarkan saja”, paparnya.

“Apapun yang dilakukan suami saya selagi itu positif, saya support. Cita-cita kami sekarang bisa naik haji sekeluarga bersama orang tua. Itu dulu”, imbuh Ratih.

Di akhir BBS Setiawan mengucapkan terima kasih kepada ibu dan almarhum ayahnya, bapak dan ibu mertuanya yang sudah menjaga anak dan istrinya ketika dalam posisi susah. Khusus untuk masyarakat di Lumajang, Setiawan mengajak agar tetap menjaga kesehatan, jaga jarak, dan tidak lupa memakai masker walaupun dalam satu ruang serta rajin cuci tangan. Karena covid-19 itu benar-benar ada bukan candaan, bukan konspirasi. DIN-RED

Post Comment