Advertisement
!-- Header -->
Lumajang Suara Desa

Ayo Mulai Memakai Pola Pemupukan Organik

LUMAJANG – Tindak lanjut dari kegiatan Wawasan Kebangsaan, pada Minggu (22 Mei 2022) yang diselenggarakan oleh anggota DPRD Jatim, Hari Putri Lestari (HPL) Rabu lalu, komunitas petani organik “Wani Gosong” Jarit Candipuro Lumajang, mengunjungi petani tembakau di Dusun Maduran Desa Sari Kemuning, Senduro Lumajang

Kegiatan ini sebagai tindak lanjut proses pembelajaran pada petani tembakau yang ada untuk berpola pertanian organik. Ali Sujarwo, Koordinator Komunitas Petani Wani Gosong, menyampaikan, pihaknya akan bergerak ke petani petani yang ada di kabupaten Lumajang yang tertarik pada misinya.

“Yaitu “memayu hayuning bawono”.  Artinya, memperindah dunia yang sudah indah dengan cara memakai pola pemupukan organik berbahan dari alam yang dibuat sendiri, sehingga kita tidak merusak lahan pertanian kita dengan bahan kimia yang sudah mulai masuk ke lahan pertanian mulai tahun 70 an. Sekarang kita bisa lihat, bahwa ekosistem kita sudah rusak terutama rantai makanan.  Akibatnya lahan pertanian kita rentan oleh hama. Belum lagi pencemaran air dari limbah rumah tangga yang dibuang ke saluran air yang bermuara di lahan pertanian kita”, ujarnya.

Disisi lain, kata dia, kesuburan tanah kita makin tidak subur,  sehingga produktivitas lahan kita makin kecil. Akibatnya petani makin merugi. “Tanah kita makin asam dan kandungan mikro organisme di tanah kita juga makin kecil rata rata dibawah 1% akibat penggunaan bahan kimia yang terlalu masiv”, tuturnya.

Petani, ungkap dia, sangat tergantung bahan kimia pabrikan di usaha pertaniannya, sehingga biaya produksinya makin naik. “Itulah tujuan kami mengajak petani berpola organik agar tidak tergantung pada pupuk dan obat-obatan kimia pabrikan. Karena petani bisa membuat sendiri”, paparnya

Dikatakan, dalam minggu ini diagendakan ada edukasi terhadap petani di Dusun Karang Anyar Desa Burno Senduro untuk mengolah kotoran sapi perah yang selama ini mencemari Kali Ireng Ireng.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPC HKTI) Lumajang, Iskhak Subagio, mengatakan, kegiatan seperti ini sudah seharusnya di apresiasi oleh Pemerintah daerah.  Karena mereka adalah relawan petani yang membantu program Lumajang Bumi Organik. Karena, kalau berbicara tentang pertanian kita harus bergerak bersama tanpa ego sektoral agar semua potensi yang ada di Kabupaten Lumajang bisa terlibat.

“Dari minimnya anggaran di Dinas Pertanian, kehadiran para relawan tani ini bisa membawa warna lain, karena petani bisa belajar bertani bersama untuk mewujudkan kemandirian petani itu sendiri”, ungkapnya.

Dikatakan, merubah pola pertanian berbasis kimia ke pola pertanian berbasis alam (organik) bukan hal mudah. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya petugas penyuluh pertanian lapangan. Dengan melibatkan semua komunitas berlatar belakang petani,  diharapkan Lumajang bumi organik akan mudah dicapai.

Dia juga menyampaikan, secara produksi padi di Lumajang surplus tetapi, namun untuk jagung dan kedelai masih impor. Pertanian yang selalu bertumbuh di tengah banyaknya permasalahan merupakan bukti bahwa petani kita sangat tangguh dan tetap optimis dalam segala kondisi.

“Mereka tetap semangat bertani walaupun merugi. Jangan jadikan petani kita sebagai “pejudi sejati”.  Perlu kordinasi dari tingkat daerah sampai pusat untuk memfokuskan kebijakan petani agar berpihak pada petani. Semua kementrian dan dinas harus terlibat aktif. Tujuan nya menjadikan petani menjadi makmur.  Karena tiang agung negara Indonesia (TANI) menjadi jati diri bangsa Indonesia yang berbasis agraris. Kebijakan dan aturan perundangan juga harus berpihak pada petani, bukan malah memasung petani”, tuturnya. RED

Post Comment