!-- Header -->
Opini

BU (DI) DAYA JERUK SEMBORO

KETIKA menanam tebu tidak banyak memberikan keuntungan, pada awal 1980-an, para petani di Semboro–dan wilayah kecamatan Umbusari–mulai berani mencari tanaman alternatif. Tentu hal itu bukan sesuatu yang aneh. Karena pertanian di wilayah ini sudah terbiasa dengan tanaman komersil sejak Belanda membuka lahan tebu dan membangun pabrik gula Semboro pada tahun 1921 dan mulai giling tahun 1928 serta beroperasi penuh sejak 1930. Tebu adalah tanaman komersil yang menghasilkan keuntungan besar di masa kolonial karena harga gula yang cukup bagus di pasar internasional. Sama halnya dengan tembakau, kopi, kakao, dan teh. Semua ada di Jember.

Budaya pertanian komersil itulah yang menjadikan para petani pascakolonial menjalankan usaha secara rasional. Ketika industri gula yang dikelola BUMN di era Orde Baru tidak mampu memberikan keuntungan bagi petani karena bermacam faktor, petani dengan lahan terbatas mencari peluang lain yang lebih menjanjikan. Jeruk merupakan tanaman yang dipilih. Selain harga jualnya yang lumayan, di bawah tanaman jeruk, sampai dengan usia 3 tahun, petani masih bisa menanam lain seperti padi, kedelai, kacang tanah, atau sayur-mayur. Jadi, mereka masih bisa mendapatkan penghasilan lumayan sambil menunggu jeruk berbuah. Kemelimpahan air dari irigasi yang dibuat di era kolonial (saluran Bondoyudo dari kawasan Lumajang) dan suburnya tanah Semboro, menjadikan tanaman jeruk tumbuh cukup bagus.

Meskipun aparat birokrasi dan keamanan berusaha ‘menertibkan’ para petani karena lebih asyik menanam jeruk alih-alih mematuhi giliran menanam tebu, menanam jeruk terus berlanjut. Para petani tidak lagi menghiraukan urusan menanam tebu. Apalagi mereka bisa membuktikan bahwa jeruk lebih menjanjikan ketimbang tebu. Sebagian petani berlahan luas masih ada yang konsisten menanam tebu, namun mayoritas petani berlahan terbatas lebih memilih menanam jeruk dan tanaman lain yang lebih menguntungkan.
Untuk mencukupi kebutuhan tentunya, manajemen PG Semboro mendatangkan tebu dari luar kecamatan, bahkan dari luar kabupaten.

Keputusan petani untuk kekeh menanam jeruk itulah yang oleh Prof. Hary Yuswadi, dosen Sosiologi, FISIP Universitas Jember, sebagai “melawan demi kesejahteraan”. Artinya, pertimbangan untuk meningkatkan kesejahteraan mendorong mereka untuk terus menanam jeruk dan melawan kehendak pemerintah dan BUMN agar mereka menanam tebu di era Orde Baru. Perlawanan ini menarik karena dilakukan dengan mencari alternatif tanaman yang sejatinya masih sama-sama komersilnya. Seandainya manajemen pengelolaan budidaya tebu dan gula memberikan keuntungan yang lebih besar kepada petani, sangat mungkin mereka tidak akan menanam jeruk.

Selain dipanen sendiri dengan menjualnya ke penebas atau pedagang pengepul, apabila petani ingin mendapatkan uang cash dalam jumlah lumayan banyak, bisa menyewakan jeruk yang sudah berbuah selama beberapa tahun. Mekanisme ini memenuhi kebutuhan yang dirasa perlu dengan cepat, seperti membeli mobil, membangun rumah, dan yang lain. Memang mekanisme pembelian oleh penebas ataupun disewakan tidak bisa memberikan keuntungan maksimal karena petani tidak bisa menentukan harga jual yang baik. Sayangnya, pemerintah pun tidak memberikan solusi atas permasalahan tersebut, sehingga sampai saat ini petani jeruk tetap menerapkan mekanisme yang sama. Apalagi semua buah jeruk selalu diserap pasar, baik lokal, regional, maupun nasional.

Penulis : Dr. Ikhwan Setiawan

Meskipun memberikan keuntungan, bertani jeruk juga harus siap berhadapan dengan penyakit yang bisa merugikan. Salah satu penyakit yang cukup berbahaya adalah CVPD (citrus vein phloem degeneration) yang menjadikan jeruk mati. Penyakit yang disebabkan bakteri ini pernah menyerang tanaman jeruk Semboro pada tahun 1990-an. Pemberantasan secara besar-besaran dilakukan 1997-1999. Banyak petani jeruk mengalami kerugian. Namun, sejak 1999 mereka sudah menanam lagi hingga saat ini. Keengganan untuk berpindah hati ini tentu tidak bisa dilepaskan dari, sekali lagi, keuntungan komersil dari menanam jeruk walaupun harga jual sering turun ketika panen raya.

Begitulah, budidaya jeruk telah menjadi budaya bagi petani di Semboro dengan bermacam ceritanya. Saya dan Bintang pun pagi ini, 4/7/20, menikmati cerita akhir pekan sederhana di lahan jeruk yang sudah berusia hampir 3 tahun. Sebagian besar buah masih muda, hanya sebagian kecil yang sudah bisa dinikmati, meskipun masih harus menunggu. Itulah mengapa panen jeruk bisa dilakukan beberapa kali. Kakak ipar membeli lahan ini untuk kegiatan Bapak mertua agar tidak lagi bekerja menjadi tukang bangunan mengingat usia beliau. Separuh ditanami jeruk, separuh ditanami padi. Di bawah jeruk, Bapak menanam kedelai yang tumbuh subur. Hampir setiap akhir pekan, Bintang mengajak ke tempat ini. Dia suka sekali mencari keong emas dan ikan kecil di selokan di lahan jeruk. Menikmati jeruk atau pepaya California yang masak langsung dari pohon menjadi kegemarannya. Setidaknya, kegiatan itu bisa mengurangi jam bermain game dan mengenalkan aktivitas bertani kepadanya.

Jadi, begitulah Sabtu pagi kami: menikmati jeruk yang kulitnya kotor tetapi rasanya cukup manis sambil merasakan hangat matahari yang ‘me-moksa-kan’ embun di dedaunan.

Rahayu.
Dr. Ikwan Setiawan, Dosen Fakultas Sastra Unej

Post Comment