!-- Header -->
Bupati Lumajang (Cak Thoriq) “Eyel-Eyelan” Dengan Rakyat
Peristiwa Politik & Pemerintahan Suara Desa

Bupati Lumajang (Cak Thoriq) “Eyel-Eyelan” Dengan Rakyat

LUMAJANG –  Bupati Lumajang, Jawa Timur, Thoriqul Haq, M. ML, sempat “eyel – eyelan” (berdebat) dengan Irawan Yudi Priyanto, Cakades Dawuhan Lor, Sukodono beserta tim sukses dan para pendukungnya.

Perdebatan itu terjadi saat Irawan beserta pendukungnya, melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor Bupati Lumajang (Cak Thoriq), pada Senin, 24 September 2019.

Awalnya, sebelum bertemu dan berdebat dengan Cak Thoriq, mereka bertemu dengan Wabup Indah Amperawati (Bunda Indah), di dalam ruangan tetutup Kantor Bupati. Sekitar 40 menit, Irawan bersama pendukungnya keluar dari ruangan dialog dengan wajah tidak sumringah.

Ternyata, upaya dan harapan Irawan agar Wabup Indah Amperawati (Bunda Indah) bisa membantunya menemukan keadilan, tidak berhasil. Wabup Indah tetap berpegang teguh pada keputusan panitia desa yang menolak Irawan dengan alasan dia tidak bisa memenuhi kekurangan berkas persyaratan pencalonan (yakni surat keterangan dari Camat Sukodono dan tambahan legalisir ijasah 8 rangkap).

Tidak puas dengan jawaban Bunda Indah, mereka meminta Cak Thoriq keluar menemui Irawan dan para pendukungnya. Cak Thoriq, pun menemui mereka di Alun-Alun.

Saat itulah Irawan dan seluruh pendukungnya menumpahkan segala permasalahan tahapan pendaftaran pilkades di Dawuhan Lor.

“Kenapa panitia meminta legalisir ijasah 8 rangkap, padahal perbupnya menyebutkan hanya 3 rangkap? Inilah yang akhirnya membuat saya terlambat mendaftar. Apalagi hari itu juga saya mengurus surat keterangan dari pak camat. Andaikan hanya disuruh ngurus kekurangan satu syarat ke Pak Camat, saya tidak mungkin terlambat”, ujarnya lalu diiyakan oleh para pendukungnya.

Tak ingin kalah dengan argumentasi Irawan, Cak Thoriq menegaskan,  seharusnya calon mempersiapkan segala persyaratan jauh jauh hari sebelumnya serta memahami aturan pilkades.

“Moco perbupe (baca perbupnya?). Perbup nomer berapa? Kenapa kok mendaftar hari itu? Iyo lek moro – moro mari ngurus surat iku (Iya kalau cepat selesai ngurus surat itu). Apa itu aja yang diurus?. Ada persyaratan lain yang belum lengkap, kan?”, tukas Bupati.

Irawan dan para pendemo, pun protes. “Punya saya lengkap. Malah yang dilaporkan panitia ke DPMD punya saya yang gak lengkap,” tukas Irawan.

“Ndak, ndak. Ndak itu. Sing salah yo tetap salah. Ojok nyalahno tok (jangan hanya menyalahkan) tapi nggak mau disalahkan”, ungkap Cak Thoriq.

“Tidak akan ada kesalahan dari Mas Irawan kalau tidak ada kesalahan yang dilakukan panitia. Andaikan Mas Irawan disuruh minta keterangan cuma ke pak camat tanpa disuruh ngurus legalisir ijasah rangkap 8, pasti  selesai sebelum jam 2”, kata pendemo diimbuhi dengan kata “bettuuul…..!!”.

“Jangan berandai-andai. Andaikan daftarnya lebih awal sampeyan tidak akan terlambat. Jadi, jangan berandai andai”, tandas bupati.

Keinginan Irawan dan pendukungnya agar ada pendaftaran ulang Pilkades Dawuhan Lor, ditolak bupati. Ia justeru menyarankan upaya hukum lain jika Irawan tidak puas dan tidak terima atas keputusan panitia pilkades.

“Silahkan tempuh jalur hukum ke PTUN”, sarannya lalu meminta agar para pendemo pulang ke rumahnya masing-masing. Atas keputusan bupati tersebut, Irawan masih belum memutuskan langkah berikutnya.

“Kita masih rapatkan dengan tim dulu”, imbuh Irawan. DIN

Post Comment