Advertisement
!-- Header -->
Catatan Penting Forum Doktor Untuk Lumajang
Komunitas Lumajang Politik & Pemerintahan

Catatan Penting Forum Doktor Untuk Lumajang

LUMAJANG – Forum Doktor Lumajang, Jawa Timur, sudah terbentuk, beberapa waktu lalu. Tujuannya adalah memberikan sumbangsih pemikiran dan masukan kepada pemerintah daerah agar lebih baik. Forum Doktor Lumajang itu terdiri dari beberapa ahli yang kompeten di bidangnya masing-masing. Dari Universitas Lumajang (Unilu) ada Dr. Eko Ramadhani, Dr. Anis Ibrahim pakar hukum dari STIH Jenderal Sudirman Lumajang, Dr. Agus, Dr. Djati, Dr. Abdul Wadud Nafis yang ahli di bidang keagamaan dan spiritual, dan Dr. Zainullah, seorang dokter yang kompeten di bidang kesehatan.

Mereka yang masing-masing ahli di bidangnya, bisa dimintai pendapatnya terkait berbagai persoalan yang muncul serta solusi alternatif yang ditawarkan. Sebelumnya, ada Dr. Muhammad Arsal Sahban yang sangat konsen dan paham tentang kriminalitas sebagai anggota Forum Doktor Lumajang. Menurut Ketua FDL, Dr. Suhari dan sektetaris Dr. Mudhofar, forum ini bukan hanya dibentuk, tapi akan memberikan kontribusi kepada Lumajang agar lebih baik.

“Kita mulai gagas pertemuan – pertemuan rutin yang membicarakan masalah Lumajang. Bahkan, beberapa waktu lalu, kita adakan sharing yang menghasilkan catatan penting selama 2019”, ujarnya. Catatan yang dimaksud antara lain ;

1. Pemberdayaan ekonomi lokal pengelolaannya belum maksimal. Padahal potensinya luar biasa. Perlu adanya pendampingan dan penggalian yang maksimal. Ada kesan hanya untuk kepentingan panggung saja tanpa ada dampak ekonomi yang nyata.

“Masyarakat perlu dimaksimalkan pengetahuan tentang ekonomi, baik konvensional maupun syariah. Sehingga jelas arah dan tujuannya”, ujar Dr. Suhari, kepada media ini, Senin (31/12/2019). Karena, bila ekonomi kuat ummat mudah sadar. Sadar kriminal, kesehatan, pendidikan, dan spritual. Walaupun ini butuh penelitian.

2. Terkait lingkungan : pengurangan sampah plastik, 3R (reduce, reuse, recycle), bank sampah yang masih abal-abal. Perda No. 10 Tahun 2016 Tentang Pengelolaan Sampah masih tarik ulur.

3. PHBS (Prilaku Hidup Bersih dan Sehat). Perilaku membuang sampah ke sungai oleh masyarakat masih terus terjadi. Agar fungsi sunga sesuai peruntukannya, maka perlu aturan dan ketegasan dari pemerintah. “Yang sempat viral, mobil plat merah di Tempeh sering membuang sampah ke sungai. Ini menunjukkan prilaku PHBS belum benar-benar terbentuk dan menjadi budaya”, paparnya.

4. Kawasan Permukiman Kumuh. Program KOTAKU-KOTA TANPA KUMUH harus bisa maksimal. Karena ada indikasi 50 prosen sumur di Lumajang tercemar bakteri coli.

5. Bahwa setelah dilakukan gebrakan operasi cobra, ternyata masih banyak kejadian pencurian hewan, begal dan aksi kejahatan lain. “Ini perlu adanya konsep matang”, ujarnya.

6. Perlunya kesiapan masyarakat menghadapi bencana secara mandiri

7. Dari sisi pelaksanaan pilkades serentak beberapa waktu lalu, ada fenomena biaya yang tinggi dari cakades yang bertarung. Mereka harus mengeluarkan banyak uang. “Apakah istilah yang dipakai political cost, money politics, sedekah politik, atau uang untuk “membeli suara”.

Fonomena itu terjadi dan perlu menjadi perhatian kita semua agar bisa diminimalisir dan pelan-pelan namun pasti dihentikan”, tukas pria yang juga Ketua PPNI Lumajang ini. DIN

Post Comment