!-- Header -->
Hukum Peristiwa

Cegah Radikalisme Sejak Dini

LUMAJANG – Bahwa pendidikan formal, informal, maupun nonformal merupakan cara terbaik untuk mencegah pengaruh radikalisme dan terorisme. Pendidikan yang yang mengajarkan semangat menghargai perbedaan dan menjunjung toleransi atas nama kebhinnekaan, yang dalam prakteknya, sering dilakukan dengan cara bersatu dalam keragaman, harmoni dalam perbedaan.

Demikian kata H. Bukasan, S.Pd. MM, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Lumajang,  saat menjadi narasumber di Radio Semeru FM, Rabu (26/5/2021).  “Sikap toleransi adalah sikap penghormatan terhadap hal-hal yang berseberangan dengan kita. Harus kita junjung agar tidak tumbuh bibit radikalisme di Lumajang,” paparnya.

Dalam dialog bertemakan “Pendidikan Mencegah Radikalisme”, Bukasan menyampaikan, semangat toleransi dan menghargai itu berlaku untuk semua makhluk hidup di dunia. “Dalam konteks Indonesia, pada umumnya masyarakat memiliki watak yang toleran dan terbuka. Maka dari itu, harus diperkuat dan dimanfaatkan demi membangun tatanan sosial yang lebih berbudaya dan bermartabat”, paparnya.

JANGAN SAMPAI ADA BIBIT RADIKALISME DI LUMAJANG

Bukan menyampaikan, saat ini banyak terjadi gerakan radikal yang mengancam rasa aman, menimbulkan banyak korban nyawa orang-orang tidak berdosa. Budaya Indonesia yang santun, lembut, penuh kedamaian, dan toleran berubah agresif, beringas, intoleran, dan penuh kebencian. Gerakan-gerakan radikal tersebut mencemaskan masyarakat dan mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara yang plural, toleran, dan akulturatif, termasuk dalam beragama. Jika hal ini dibiarkan bisa mengancam dasar negara Indonesia (Pancasila, UUD 1945 dan NKRI. Bukasan mencontohkan beberapa aksi kekerasan yang memakan korban jiwa.

SOAL PANCASILA : Bukasan saat menjadi narasumber di Radio Semeru FM Lumajang. RED

Kata Bukasan, radikalisme bisa menyebar dari beberapa sisi bahkan bisa berkembang ke lingkungan sekitar. Untuk membendungnya perlu langkah bersama-sama. “Jangan sampai ada bibit radikalisme ini di Lumajang. Makanya, peran sekolah lebih-lebih orang tua sangat penting. Orang tua memiliki banyak waktu bertemu dengan putra puterinya. Mereka bisa memberikan pemahaman akan bahaya paham radikalisme,” ungkapnya.

SOSIALIASI IDEOLOGI PANCASILA HARUS DIMAKSIMALKAN

“Untuk mencegah disintegrasi perlu ada strategi kebudayaan yang menyeluruh dan berkesinambungan. Misalnya meningkatkan pemahaman ideologi bangsa secara terus menerus hingga ke akar rumput,” kata Bukasan.

Saat ini harus ada pemahaman yang relevan tentang antara ajaran Islam yang benar dengan Pancasila. Sosialisasi diperlukan agar bisa mengembalikan corak keagamaan yang jadi trade mark Islam di Indonesia yang moderat, inklusif, sikap toleran, Islam rahmatan lil ‘alamin.

“Secara internal, ideologi terbuka Pancasila harus diperankan maksimal. Pemahaman puritanisme yang merubah formula religiositas yang inklusif, toleran, anti nasionalisme, anti demokrasi harus dihilangkan,” ujarnya. Diakuinya, bahwa langkah sosialisasi soal ideologi Pancasila selama ini masih sangat terbatas. Diperlukan penyampaian materi ideologi Pancasila yang mudah dipahami. Sikap gotong royong dalam sila-sila Pancasila perlu lebih ditekankan. Sehingga peserta sosialisasi tidak terjebak dalam pemahaman satu arah yang hasilnya hanya sekadar hafal tanpa memahami materi yang disampaikan.

Untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda, memang tidak semudah membalik telapak tangan. Di sini peran pemerintah sangat besar. Harus mampu membumikan Pancasila kepada generasi muda. “Jangan sampai ideologi bangsa dan negara itu hilang tergerus oleh ideologi atau paham dari luar. Makanya, menyosialisasikan Pancasila kepada anak muda tidak bisa dilakukan melalui cara konvensional,” selorohnya seraya menambahkan, kedepan pemerintah harus bisa menyesuaikan metode sosialisasi soal ideologi bangsa tersebut .

“Kita harus kratif mencari apa yang menjadi kebutuhan generasi muda, Dengan demikian masyarakat, khususnya anak-anak muda, bisa memaknai Pancasila dengan baik,” imbuhnya. RED

Post Comment