!-- Header -->
Komunitas Lumajang

Dandim Lumajang dan Hippora Koordinasi Soal “Emas Coklat”

LUMAJANG –  Komandan Kodim 0821 Lumajang, Letkol Inf. Andi A. Wibowo, S.Sos M.I.Pol, terlihat gayeng ngobrol bersama para pengurus Hippora (Himpunan Petani dan Pengusaha Porang Nusantara) Lumajang, pada Selasa kemarin. Mereka ngobrol ringan terkait tanaman umbi umbian bernama Porang. Sebelum ngobrol sekitar 1 jam, Dandim dan rombongannya meninjau tanaman porang di belakang rumah Ketua HIPPPORA, Hizbullah Huda.

“Kita lagi silaturrohim, diskusi dengan pengurus HIPPORA di rumah Ketuanya, Mas Hizbullah Huda. Kami banyak mendapatkan informasi, bahwa tanaman porang adalah tanaman yang kualitas ekspornya luar biasa. Porang ini sekarang dipakai untuk bahan baku mie, tepung, beras, kosmetik, dan lainnya. Nilai jualnya yang luar biasa itu menjadi daya tarik tersendiri buat saya pribadi maupun unsur pimpinan saya dan masyarakat Lumajang khususnya,” ujar Dandim Lumajang.

Dandim menyampaikan, membangun komunikasi, silaturrohim, diskusi tentang tanaman porang menambah pengalaman berharga. “Dapat banyak pengalaman ilmu tentang tanaman porang yang bisa bermanfaat untuk saya dan masyarakat Lumajang, khususnya dalam hal ini ketahanan pangan.

“Bisa jadi ini menjadi potensi Lumajang. Menjadi episentrum tanaman porang. Dan saya yakin, kemungkinan di daerah lain belum ada sebesar seperti di Lumajang. Ini mungkin episentrumnya. Bisa kita awali dari Kodim. Kodim ini perlu untuk mewadahi potensi yang sangat luar biasa ini serta ikut terlibat di dalamnya. Apalagi kendalanya hanya satu, katanya rawan dicuri. Karena porang ini sama dengan emas coklat yang berpotensi menjadi sumber daya alam baru, yang bisa dikelola oleh masyarakat Lumajang”, ujarnya.

Dijelaskan, rencana awal Kodim mungkin akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, juga dengan perhutani yang punya lahan. “Tentu saja kita kedepan membangun MoU dengan rekan-rekan komunitas HIPPORA. Kita akan padukan seperti apa modelnya. Saya rasa ini sangat potensial”, paparnya.

Sementara itu, Hizbullah Huda, Ketua HIPPORA Lumajang, menyampaikan terima kasih atas kehadiran Dandim bersama beberapa personilnya. “Kita berterima kasih telah didatangi Dandim. Kita masih sebatas diskusi soal porang. Nanti kedepan kita akan bicara lebih serius tindak lanjut dari pertemuan awal ini”, tukasnya.

SILATURRAHIM PORANG : Dandim saat bersama Pengurus HIPPORA Lumajang. RED

Hizbullah, panggilan karibnya, menyampaikan, saat ini HIPPORA Lumajang sedang menggalakkan budidaya pembibitannya. Mengingat, permintaan terkait dengan bibit porang itu sangat besar. “Satu hektarnya saja bisa ditanami bibit porang 30 ribu sampai 40 ribu bibit porang. Kalau tumpang sari, dalam satu hektarnya bisa 10 sampai dengan 20 ribu”, ungkapnya.

HIPPORA sendiri, kata Hizbullah, punya tugas mengkoordinasikan kepentingan para petani. Karena biasanya, kalau di musim tanam bibit mahalnya luar biasa, tetapi ketika panen murah.

“Kita mencoba untuk bersama-sama dengan pemerintah dalam ini Dinas Pertanian agar bisa menjaga stabilitas harga. Jangan sampai ada petani yang dirugikan dengan adanya penanaman porang”, ungkapnya.

Dipaparkan, kuantitas ekspor porang tidak terbatas. Pun dengan kebutuhan dalam negeri sangat besar. Apa saja manfaat/ kegunaan porang? Dijelaskan, porang itu bisa untuk pembuatan bahan mie dan beras, beras shirataki, perekat es krim, dan lainnya.

Dia juga mengingatkan kepada anggota HIPPORA untuk tidak terkecoh dan jenis-jenis porang. Menurutnya, ada empat jenis yang hampir sama dengan porang, antara lain iles-iles, walur, porang, dan suweg.

Ini berbeda tapi ubinya hampir sama. Dalamnya beda, tumbuhannya hampir sama tapi tidak persis. Kalau porang itu ada buahnya di atas daunnya yang disebut dengan istilah katak (untuk tumbuhan yang perempuan). Kalau tumbuhan yang laki-laki tumbuh bunga. Soal harga bibitnya antara Rp 7.000 sampai Rp. 12.000/ kg.

“Kalau harga kataknya antara  Rp.200 hingga Rp 300 ribu per kilogramnya. Sedangkan harga bunganya Rp 700 sampai Rp 1 juta”, paparnya. Tananan porang tidak sesulit tanaman yang lain. Cukup ditancapkan di tanah lalu digulut dan dipupuk dengan pupuk organik yang difermentasi, bukan pupuk kimia.

“Tanahnya memang harus gembur agar hasilnya cepat besar. Satu tahun sudah besar kalau bibitnya dari ubi. Kalau bibitnya dari katak tadi antara 2 sampai dengan 3 tahun. Kalau bibitnya dari bunga bisa 3 tahun sampai 4 tahun”, tukasnya.

Saat ini HIPPORA Lumajang mengadakan pembibitan sebanyak 1 juta bibit, sementara yang sudah siap tanam ada 300 ribu bibit. Menariknya, seluruh Pengurus HIPPORA Lumajang wajib menanam minimal 25 ribu bibit. DIN

Post Comment