!-- Header -->
Ekonomi Lumajang

Di Tangan Pelaku UMKM Minyak Jelantah Diekspor ke Eropa Diolah Jadi Biodiesel

LUMAJANG – Di masa pandemi covid-19 masyarakat, lebih-lebih pelaku ekonomi kecil dan menengah, perlu sedikit kreatif dan memanfaatkan peluang yang ada. Sehingga tetap memperoleh penghasilan dan dapur terus “ngepul”.

Peluang ini dimanfaatkan oleh Samsul Arifin, warga Perumahan Bumi Biting Indah, Blok B3 No. 25, RT 03 RW 12, Desa Kutorenon, Sukodono, Lumajang. Setiap hari dia proaktif mencari minyak goreng bekas atau yang dikenal dengan “Minyak Jelantah”, di warung-warung dan rumah-rumah penduduk di Lumajang.

“Ketimbang minyak goreng bekas ini dibuang lebih baik saya beli, saya kumpulkan. Setelah banyak saya kirimkan ke Surabaya Untuk diekspor”, ujarnya saat bincang-bincang santai bersama Tim Lipsus Pedomanindonesia.com, di rumahnya, Kamis (19 Nopember 2020).

Minyak Jelantah ini menurutnya dibuat untuk biodiesel, bukan didaur ulang untuk dipakai menggoreng lagi.

“Minyak jelantah ini diproses untuk dijadikan biodiesel. Bukan didaur ulang untuk dikonsumsi”, tandas suami Safresy Ayiza Tabalubun.

Usaha ini sebenarnya dilakukan sejak 3 tahun yang lalu. Namun saat itu, karena masih awal, Minyak Jelantah yang dia kirim ke Surabaya untuk diekspor, masih relatif sedikit.

MINYAK JELANTAH SIAP DIEKSPOR : Samsul Arifin memperlihatkan Minyak Jelantah siap dikirim ke Surabaya untuk diekspor ke Eropa. RED

Meskipun sedikit dan pendapatannya kecil, ayah dua anak ini terus menjalankan usahanya hingga hari ini. “Awalnya sebulan sekali saya kirim minyak jelantah sedikit sekali. Sekarang sekali kirim bisa 1 ton per 1 bulan atau lebih. Dari Surabaya langsung diekspor ke Eropa”, ungkapnya.

Mulanya, sebelum ramai HP Android, pria yang punya hobby sepak bola ini mencari Minyak Jelantah dengan cara mendatangi warung-warung, terutama warung yang berjualan gorengan.

“Saya sampaikan ke penjual gorengan atau ke warung yang punya Minyak Jelantah, ketimbang dibuang jual aja ke saya. Saya siap beli”, pungkas Samsul, panggilan karib Samsul Arifin.

Sayangnya, tidak semua pemilik warung Minyak Jelantah mau menjualnya. Ada kekhawatiran minyak bekas ini didaur ulang seperti minyak biasa untuk dijual lagi dengan harga murah di pasaran. Padahal minyak goreng bekas ini dibuat untuk biodiesel, bukan di daur ulang.

“Di situ kadang kesulitannya. Tapi mayoritas mereka percaya kalau ini benar-benar dibuat untuk biodiesel. Ketimbang dibuang lebih baik diuangkan”, papar pria kelahiran 31 Oktober 1987 ini.

Setelah ramai HP Android dia mulai beriklan gratis lewat medsos. Perlahan namun pasti, promosinya mulai direspon. Ada yang sekedar nanya-nanya, ada juga yang langsung datang ke rumah membawa Minyak Jelantah.

“Ada juga yang meminta saya ke warung bersangkutan untuk ngambil Minyak Jelantahnya. Kita timbang di tempat langsung kita bayar”, ujarnya. Samsul berharap usahanya terus berkembang dan semakin banyak yang menjual Minyak Jelantahnya.

“Eman-eman kalau rezeki dibuang begitu saja. Mendingan diuangkan”, imbuhnya seraya menambahkan, bila ada yang berminat menjual Minyak Jelantah silahkan hubungi alamat di atas atau contact person di : 085258072622/ 085258613748. RED

Post Comment