!-- Header -->
Dzikir Budaya di Situs Biting Kutorenon
Pendidikan dan Agama

Dzikir Budaya di Situs Biting Kutorenon

LUMAJANG – Acara “Dzikir Budaya” Perumahan Bumi Biting Indah, Kutorenon, Sukodono Lumajang, Jawa Timur, digelar di lokasi menuju Situs Biting, Jumat (27 September 2019) malam.

Acara ini dihadiri oleh seluruh masyarakat Perumahan Bumi Biting Indah Kutorenon, tokoh masyarakat, anggota DPRD Lumajang Deddy Firmansyah, calon Kepala Desa Kutorenon, H. Faisal Rizal, Polsek Sukodono AKP Akhmad Sutiyo, dan eleman masyarakat lainnya.

Faisal Rizal (calon incumbent Kades Kutorenon), dalam sambutannya, mengajak masyarakat Kutorenon khususnya dan masyarakat Lumajang untuk menjaga lingkungannya tetap aman kondusif.

“Saya ini hadir di sini sekarang bukan atas nama kepala desa, tapi sebagai calon kades. Karena saya maju lagi sebagai cakades untuk periode berikutnya. Mari bersama-sama mensukseskan pilkades pada tanggal 18 Desember 2019”, pungkasnya.

AKP Akhmad Sutiyo, dalam sambutannya, menyampaikan, dalam mencari rejeki, maka perlu lingkungan yang aman. “Oleh karena itu, sistem keamanan yang bagus harus tetap dijaga. Ciptakan dan galakkan terus siskamling di lingkungan kita masing-masing”, paparnya.

Ia juga mengatakan, tahun ini di Lumajang menggelar pilkades serentak. Meskipun di Desa Kutorenon calonnya hanya 2 orang tetap harus diwaspadai kemungkinan pihak luar yang mencoba masuk mencari mangsa.

“Pencalonan Kades Kutorenon ini musuh dalam selimut. Siang musuh malam kawan. Meskipun calonnya hanya 2 orang, bisa saja ada yang ingin masuk mencari mangsa, mbegal”, ungkapnya.

Sutiyo juga menyinggung masih adanya begal meskipun Tim Cobra Polres Lumajang terus tanpa henti menjaga keamanan. Bahkan, kasus begal yang korbannya dari Jember, belum lama terjado.

“Ayo kikis habis bahwa Lumajang yang sebelumnya terdengar dan dikonotasikan kota begal tidak lagi menjadi kota begal”, tukasnya. Diakuinya, aparat kepolisian (di polsek) hanya 12 personil. Kalau masyarakatnya tidak peduli, maka akan berbahaya.

“Personil kita memang minim. Meski demikian, kekurangan ini tetap membuat Lumajang kondusif, jauh dari balak dan personil personilnya diberi kesehatan. Itu yang kita harapkan”, tuturnya.

Sementara itu, KH. Mahrus Ali dari Pulosari, saat memberikan tausiyahnya, menyampaikan, masyarakat Indonesia harus cinta bahasa Arab karena al-Qur’an berbahasa arab. Tapi bukan berarti seperti orang Arab.

“Jadilah Islam yang baik tapi tidak hilangkan budaya Indonesia. Yang pake baju batik silahkan pake baju batik. Yang senang pake baju putih silahkan. Yang penting menutup aurat”, tutur KH. Mahrus Ali dari Pulosari.

Diceritakan pula bawha Islam masuk ke Indonesia tidak dengan pedang, tapi dengan kedamaian dan lemah lembut serta lewat budaya masyarakat sekitar. DIN

Post Comment