Advertisement
!-- Header -->
Ekonomi Lumajang Peristiwa

Es Cendol Toga, Pendapatan Turun Drastis Awal Covid-19

LUMAJANG – Siapa yang tak kenal Es Cendol yang mangkal persis di selatan lampu merah Toga, Jalan Bridjend Katamso. Setiap hari, ratusan pembeli memadati cendol ini. Mereka rela antri demi segelas Es Cendol.  

Budi nama penjual Cendol Toga ini. Dia tinggal di eaerah Veteran Lumajang. Saat bincang-bincang santai bersama Tim Lipsus Pedomanindonesia.com, Jum’at (27 Nopember 2020), dia menceritakan, awalnya ikut temannya berjualan Es Cendol. Lama kelamaan, setelah tahu cara berjualan dan membuat cendol, dia membuka sendiri, berjualan Es Cendol.

“Awalnya, 8 tahun yang lalu saya harus berjualan secara berkeliling seputar Lumajang. Kadang-kadang di Alun-Alun”, ujarnya. Tentu saja jualannya tidak langsung laku keras saat itu. Terkadang hanya laku 50 bungkus, kadang-kadang lebih, bahkan kurang dari 50 bungkus perhari.

Meskipun laku hanya kurang lebih 50 bungkus perhari tidak membuatnya berkeluh kesah, apalagi putus asa. Dia jalani usahanya dengan penuh optimisme dan keyakinan akan berhasil dan banyak pembeli. Dan benar, perlahan-lahan 50 bungkus perhari naik menjadi 100 bungkuis, 200 bungkus, 300 bungkus.

“Alhamdulillah sekarang sudah bisa menjual 400 sampai 500 bungkus perhari”, ungkap pria yang kini masih berusia 38 tahun ini. Bersama istri setianya, Esti Setiawati, dia terus menjalani usahanya meskipun masa pandemi covid-19.

Apa yang membuat banyak pembeli suka dengan Es Cendol miliknya? Usut punya usut, di samping harganya murah (Rp 2.000 ribu pergelas/ bungkus, Es Cendol buatannya asli tanpa bahan pewarna dan pengawet.

“Pergelas hanya kami jual Rp 2.000 rupiah. Gulanya asli. Tanpa bahan pengawet, tanpa bahan pewarna. Santannya juga begitu, asli. Mungkin karena semua asli, murah, harum, enak dan seger banyak pelanggan setiap hari berdatangan”, tukas ayah Desta (Kelas 1 SMA) dan Adiba (usia 4 tahun) ini. 

EC CENDOL TOGA : Pelaku UMKM, Es Cendol Lampu Merah Toga, bertahan di tengah pandemi belum selesai. RED

Es Cendol jualannya dia produksi sendiri. Setiap hari dia harus berbelanja gula asli. Pukul 03.30 WIB untuk membuat cendol hingga pukul 05.00 WIB. Sekitar pukul 09.00 WIB dia sudah stand by di lokasi berjualan. Sebelum masuk waktu asar atau pas asar sekitar pukul 15.00 WIB ludes.

Bagaimana selama masa pandemi Covid-19? “Awal ada corona di Indonesia, jualan saya turun drastis hingga 50 persen. Mengingat, saat itu ada aturan ketat agar orang-orang tinggal di dalam rumah jika tidak ada kepentingan mendesak. Tidak boleh minum dan makan di tempat jualan. Kalau beli harus dibungkus. Sekolah juga ditutup sehingga jarang siswa yang mampir beli Es Cendol”, tuturnya di dampingi istrinya.  

Kondisi itu, kata Budi, berjalan hampir 3 bulan lamanya. Setelah mulai longgar, banyak orang keluar rumah dan minum di warung, Es Cendolnya perlahan-lahan mulai naik lagi.

“Tiga bulan lebih pendapatan menurun. Tapi kami terus berjualan tanpa putus asa. Alhamdulillah setelah kondisi mulai norma-meskipun masih covid-19 belum berakhir, berangsur-angsur pembeli mulai banyak lagi hingga sekarang”, papar pria yang tidak punya latar belakang sebagai pedagang/ penjual ini. Dia berharap kondisinya kembali seperti sebelum ada Covid-19. RED  

Post Comment