!-- Header -->
Komunitas Lumajang Pendidikan dan Agama

Forum Doktor Untuk Lumajang Lebih Maju

LUMAJANG – Forum Doktor Lumajang (FDL), menggelar  Halal bi Halal, di sebuah rumah makan di Lumajang, pada Selasa, 18 Mei 2021.

Dalam sambutannya, Ketua FDL,  Dr. Suhari, A.Per.Pen, MM, menyampaikan, FDL merupakan kumpulan para doktor di Lumajang dan dalam kegiatannya tidak berafiliasi dengan partai politik tidak berpolitik praktis.

“Kami ini bergerak dan memberikan masukan yang positif secara akademis sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing. Harapannya, Forum Doktor ini mampu memberikan dampak sosial yang positif kepada masyarakat, sehingga Lumajang lebih sejahtera dan lebih maju”, ujar Doktor Suhari yang juga Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Lumajang ini.

Sebelumnya, FDL sudah banyak melakukan kegiatan, baik kegiatan internal penguatan organisasi, pelatihan ekonomi, melakukan kegiatan sosial dan membantu sesama dalam hal  kebencanaan.

Sementara itu Bupati Lumajang, Thoriqul Haq, M.ML, menyampaikan,
Forum Doktor Lumajang ini harus berkelanjutan dan sudah pasti karena sudah paripurna, maka mereka punya pikiran, saran, dan diskusinya lebih dalam.

“Pertama, doktor itu paripurna. Saya yakin Forum Doktor ini akan menambah penguatan nilai tambah bagi kami semua yang ada di pemerintahan Lumajang,  sebagai pengambil kebijakan.  Supaya kebijakannya betul-betul manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat”, ujarnya.

Cak Thoriq lebih banyak memaparkan soal kondisi Lumajang sejak dilantik menjadi Bupati Lumajang 2018 lalu.

Disampaikan, ketika dilantik menjadi Bupati Lumajang ada landasan pola pikir mana yang menjadi prioritas dan menjadi catatan penting. Ada dua sisi yang menjadi dilema. Di sisi lain, bahwa pemerintah ini-tentu dengan segala keterbatasan yang dimiliki, dengan dengan segala domain yang harus dibuat keputusan pasti ada ada kebijakan yang tidak menjadi prioritas.

FDL For Lumajang : Halal bi Hal FDL, di sebuah rumah makan di Lumajang. RED

Begitu dilantik, dari sekian catatan yang harus dilakukan adalah yang berefek pada masyarakat. Misalnya insentif guru ngaji, pendidikan gratis, tambahan insentif untuk guru Non Nip, bantuan uang duka kematian, honor RT-RW.

“Yang begini ini menjadi bagian penting. Maka apa yang dilakukan supaya ini optimal? Pertama mengkalkulasi anggaran. Maka anggaran -anggaran yang tidak menjadi prioritas seperti perjalan dinas, rapat-rapat di luar Kabupaten Lumajang akhirnya dikurangi atau ditiadakan. Ini yang perlu dipahami. Bahwa setiap kebijakan yang diambil harus dipahami dan dimengerti. Karena ada skala prioritas”, ujarnya.

Setelah acara seremonial dilanjutkan dengan saran dan masukan dari para doktor ini kepada bupati. Beberapa masukan dan saran antara lain mengenai adanya forum lanjutan (rutin) yang menghadirkan bupati, perlunya adanya akutansi pesantren, dibentuknya desa modern sebagai desa percontohan dan binaan FDL, soal perkembangan Raperda disabilitas, soal Raperda kawasan tanpa asap rokok dan beberapa masukan lainnya.

“Soal kawasan tanpa asap rokok ini mohon kami berikan naskah akademiknya”, ujar mereka. Atas saran tersebut bupati menyambut baik, bahkan khusus ide adanya desa percontohan binaan FDL, Cak Thoriq menantang direalisasikan.

“Saya kok belum yakin. Karena para doktor ini sibuk semua. Tapi gak papa juga. Kalau tidak berhasil berarti apa yang saya katakan benar. Tapi sebaliknya, kalau ternyata berhasil berarti tantangan saya kalah”, tukasnya tersenyum.

Acara berlangsung sekitar 2 jam kemudian diakhiri doa dipandu oleh Doktor Wadud Nafis. RED

Post Comment