!-- Header -->
Gonjang-Ganjing Pilkada 2018, Lumajang Lama Atau Baru?
Opini

Gonjang-Ganjing Pilkada 2018, Lumajang Lama Atau Baru?

Oleh : Syamsudin Nabilah*

Perhelatan akbar pilkada Lumajang 2018, diprediksi berlangsung seru. Pasalnya, kandidat yang akan bertarung memperebutkan posisi bupati adalah orang-orang kawakan, kenyang pengalaman, cukup lama berkecimpung di dunia politik/ birokrasi, dan (konon) mereka golongan berduit serta sama-sama memiliki semangat membara untuk

Sebut saja Drs. H. As’at, M. Ag. Bakal calon imcumbent ini memiliki kekuasaan karena masih menjabat sebagai Bupati Lumajang, Ketua MWC NU Kecamatan Sukodono dan konon akan diusung oleh PDIP Lumajang sebagai pemenang pemilu sebelumnya.

Jabatannya sebagai Bupati Lumajang, Gus As’at memiliki peluang besar membangun kekuatan dengan berbagai kegiatan yang telah dicanangkan. Bupati As’at lebih banyak bertemu dengan rakyat melalui program-program kerjanya. Sekilas dan menurut hitung-hitungan di atas kertas, Gus As’at memiliki modal suara minimal dari kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS), kepala desa dan perangkatnya, hingga pengurus RT-RW, dan sebagian juga dari kalangan nadhliyin/ NU. Belum lagi kekuatan PDIP sebagai pemenang pemilu legislatif Kabupaten Lumajang. Jika parpol besutan Megawati Soekarno Putri ini solid, maka ini menjadi tambahan  modal bagi Gus As’at.

Bagaimana mengenai logistik Gus As’at? Khusus menyangkut hal  ini pembaca mungkin tidak akan mengetahui secara pasti. Mengingat pada waktu maju sebagai  cawabup bersama cabup Dr. Sjahrazad Masdar (Allahumma Yarhamhu) pada pilkada 2008 dan pilkada 2013, Gus As’at dikabarkan nyaris tidak banyak mengeluarkan ‘gizi’ pemenangan. Saat menjabat sebagai Wabup dan Bupati Lumajang menggantikan almarhum Sjahrazad Masdar, Bupati As’at (sekilas) tidak terlihat menumpuk-numpuk kekayaan. Lalu dari mana amunisinya untuk bergerak menuju kembali menjadi N1? Adakah dari pihak lain atau dari partai pengusung sendiri yang membiayai? Jawaban pasti ada pada diri Gus As’at sendiri. Terlepas banyak atau sedikit amunisi yang dimiliki, Gus As’at bertekat bulat untuk kembali merebut ‘kursi empuk’ Bupati Lumajang.

Lalu bacabup Thoriqul Haq, M.ML. Diakui atau tidak, bacabup Lumajang dari PKB ini memiliki modal besar. Cak Thoriq masih muda, energik, mantan aktivis kampus, anggota DPRD Jatim selama 2 periode, dan dekat dengan kalangan kiai. Dilihat dari amunisi, Cak Thoriq sepertinya tidak kalah dengan bakal calon bupati lainnya. Terbukti, bantuan kepada Klinik/ Rumah Sakit NU Lumajang lewat Cak Thoriq cukup besar. Begitu pula informasinya, bantuan sepeda motor untuk MWCNU Lumajang cukup banyak.

Berbagai even besar seperti jalan sehat, lomba karaoke lagu Cak Thoriq berjudul “Selokambang” dengan berbagai hadiah puluhan bahkan ratusan juta, menunjukkan bahwa dia punya banyak ‘amunisi’ untuk maju sebagai Calon Bupati Lumajang 2018. Mesin politik PKB juga ‘gres’ dan partai pemenang kedua dengan jumlah kursi di dewan sembilan.

Modal lain, Cak Thoriq dekat dengan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) Ketua Umum DPP PKB. Ini penulis anggap sebagai sebuah kekuatan. Karena di tangan DPP lah rekomendasi itu diputuskan. Minimal, urusan cabup rekomendasi DPP PKB kepada Cak Thoriq sudah tuntas, meskipun secara fisik belum dikantongi. Bagaimana dengan keberadaan massa riil dan tidak riil (floting mass)? Massa riil tentu saja warga PKB, simpatisan PKB, dan warga NU (sekalipun suara warga NU diprediksi tidak akan bulat) karena sebagian akan tumpah ke Gus As’at, H. Rofik, dan Indah lewat jalur Lora Bagong, Sekum DPC Partai Gerindra Lumajang.

Modal lain dia adalah anggota DPRD Jatim. Massa Cak Thoriq saat pemilihan legislatif  cenderung akan merapat kembali ke dia dalam  pilkada 2018. Itulah modal riil Cak Thoriq. Sementara ribuan massa yang sering datang dalam setiap even yang digelar Cak Thoriq seperti jalan sehat, lomba karaoke Cak Thoriq, dan even-even lain yang mendatangkan massa besar belum tentu menjadi pendukung setianya. Karena kehadiran mereka ke berbagai even itu lebih banyak terdorong oleh banyaknya hadiah/ door prize.

Lalu Ir. Indah Amperawati, M. Si.  Satu-satunya bakal calon bupati perempuan ini tidak bisa diremehkan. Selain pengalamannya selama 25 tahun di birokrasi, dia adalah adik kandung mantan Bupati Lumajang, Dr. Sjahrazad Masdar (Allahumma Yarhamhu). Pengalamannya selama 25 tahun menjadi modal paling berharga dan signifikan. Mengingat negeri ini idealnya dipimpin oleh orang yang memahami betul tentang birokrasi, atau paling tidak mengerti dunia birokrasi. Karena mereka akan memimpin manusia, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa.

Coba lihat dan baca di beberapa mass media, rata-rata para bacabup berusaha mencari pasangan cawabup seorang birokrat. Karena mereka sadar bahwa pasangan yang berasal dari kalangan birokrat lebih memudahkan dalam memimpin sebuah pemerintahan ketimbang pasangan yang sama-sama (misalnya) tidak jelas latar belakangnya. Meski demikian, tidak ada jaminan 100 persen pasangan yang ada unsur birokratnya akan memuaskan rakyatnya secara keseluruhan karena mereka juga manusia, bukan  malaikat atau nabi.

Satu poin lagi dimiliki Indah Amperawati, yakni sebagai seorang birokrat  murni. Tinggal mencari gandengan yang bukan birokrat namun visioner dan memahami betul Kota Lumajang.

Modal Indah yang lain adalah nama besar kakaknya Sjahrazad Masdar (Allahumma Yarhamhu). Disadari atau tidak, loyalis – loyalisnya masih ada. Baik yang ada di pemerintahan tingkat kabupaten maupun  mantan pejabat dan rakyat biasa. Apalagi saat menjadi Bupati Lumajang banyak yang merasa diuntungkan (walaupun yang merasa tersakiti juga ada).

Kehadiran Kiai Zulkifli Abbas (Lora Bagong) yang notabene berdarah NU dan masih keluarga besar Pondok Pesantren Syarifuddin Wonorejo dan sepupu imcumbent Gus As’at, menjadi modal tambahan dan darah segar dalam perjuangan merebut kursi bupati. Apalagi Lora Bagong relatif belum terkontaminasi dan ‘tercemari’ oleh hingar-bingar perpolitikan dan ‘kue’ kekuasaan. Lora Bagong akan menjadi magnet tersendiri di kalangan NU dan warganya. Tinggal bagaimana peran maksimal dan totalitas permainan cantiknya untuk menarik simpatik keluarga besar Ponpes Syarifuddin dan warga NU se Kabupaten Lumajang.

Bagaimana dengan modal materi (amunisi) yang katanya harus bermiliar-miliar bila ingin maju sebagai cabup atau cawabup? Menyangkut amunisi, Indah (sepertinya) tidak seberani dan jor-joran seperti bacalon lain. Makanya sejak awal dia mengopinikan dan mengajak untuk menolak praktek money politic. Bahkan kabar (burung) yang sempat berseliweran, Indah enggan maju jika harus mengeluarkan fulus bermiliar-miliar sebagai mahar agar mulus memperoleh rekom dari parpol pengusung. Meskipun pada akhirnya suara-suara (burung) itu hilang seiring dengan posisinya sebagai Ketum DPC Partai Gerindra Lumajang.

Dalam konteks ini, muncul persepsi bahwa urusan amunisi bukan lagi menjadi kendala serius Indah demi membangun Lumajang lebih sejahtera, mandiri, dan bermartabat  serta demi meletakkan dasar-dasar pemerintahan yang baik dan benar. Dengan kata lain, urusan amunisi (sepertinya) sudah tuntas. Apakah tuntasnya urusan amunusi itu karena Indah mendapat suntikan dari relawan, kerabat, atau dari pihak lain itu ranah dia sendiri.

Satu lagi, Indah adalah satu-satunya calon perempuan. Masyarakat Indonesia saat ini lagi ‘demam’ calon pemimpin perempuan. Apalagi di beberapa daerah calon perempuan banyak terpilih sebagai kepala daerah. Sekedar contoh Wali Kota Surabaya, Bupati Probolinggo, dan Bupati Jember semuanya perempuan. Modal ini menjadi daya tarik tersendiri dan perlu dimanfaatkan semaksimal oleh seorang Indah.

Kemudian bacabup H. Rofik Abidin, SH. Selain dikenal sebagai pengusaha yang berduit, dia juga anggota DPRD Jawa Timur, mantan Ketua PCNU Lumajang, mantan Ketua DPC PKB Lumajang, dan kini kader PPP. Dalam teori perang, H. Rofik Abidin dengan slogannya ‘Kerja Cepat Hadir Untuk Rakyat dan Lumajang Baru” sudah memiliki senjata lengkap, punya pasukan, dan amunisi (peluru). Tinggal melihat apakah pasukannya itu tahu cara menggunakan senjata (memahami strategi dan taktik) dan bisa membidik lawan tanpa ada perlawanan berarti.

Bila diamati perjalanannya, H. Rofik bersama tim nya telah menyusun dan memetakan kekuatan hingga ke tingkat desa sejak setahun yang lalu. Para relawan hingga ke pelosok-pelosok desa dia bentuk. Hampir seluruh desa di Lumajang rata dengan baliho, banner/ spanduk bergambar dirinya. Bahkan stikernya menempel di berbagai angkutan kota, becak dan tempat-tempat lain. Ini merupakan modal signifikan yang kemungkinan tidak dilakukan oleh bacabup lain. Kalau pun dilakukan oleh bacabup lainnya, mereka kalah start dengan H. Rofik.

Modal lain, H. Rofik masih memiliki hubungan emosional dengan mantan pengurus PKB yang loyal kepadanya. Mantan pengurus dan warga PKB yang loyal kepadanya tidak akan berpikir panjang untuk mendukungnya. Begitu juga dengan warga PPP.

Langkah H. Rofik ini ternyata lebih cepat (cag-ceg). Tengok saja, di saat tergeser dari PKB dia langsung putar haluan ke PPP dan berhasil menjadi anggota DPRD Jatim dari PPP. Dalam perebutan ‘tiket’ cabup Partai Golkar, dia berhasil mendepak 4 bakal calon lainnya (Gus As’at, Cak Thoriq, Ngateman, Basuki Rakhmad). PKS pun mampu ditarik sehingga berkoalisi ria dan mengusung H. Rofik.

Begitu pula dengan Partai Nasdem. Partai yang didirikan oleh Surya Paloh ini sudah mendeklarasikan  H. Rofik sebagai Cabup Bupati Lumajang Periode 2018-2023. Partai Demokrat kabarnya diajak ‘berjuang’ bersama untuk mendukungnya. Andaikan kabar  (burung) itu benar, maka slogan ‘kerja cepat’ alias cag-ceg layak disandangnya. Tinggal bagaimana para parpol pengusung ini mampu bersatu padu dan tidak mudah dicerai-beraikan.

Sebagai catatan akhir, cawabup yang digandengnya harus seorang tokoh/ person yang mampu menambah kekuatannya. Syukur-syukur bila yang bersangkutan berpengalaman di bidang birokrasi sehingga mampu mengimbangi cabup/ cawabup yang sama-sama dari kalangan birokrat.

Kini masyarakat Lumajang tinggal menimang dan menimbang siapa yang akan dijadikan pemimpin untuk 5 tahun kedepan (2018-2023). Apakah kabupaten yang sumber daya alamnya kaya raya ini akan dijadikan lebih Indah, lebih hebat, Lumajang baru, atau tetap Lumajang ‘lama’? Pilihan ada di hati masing-masing pemilih. Dan yang terpenting lagi tidak ada yang saling memprovokasi rakyat seperti yang disampaikan Ketua DPRD Lumajang, Agus Yudha, saat sidang paripurna, pada Senin, 30 Oktober 2017 lalu.

 *Penulis : Jurnalis, Alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep dan Mantan Ketum HMI Sastra Universitas Jember.