Advertisement
!-- Header -->
Hormati Perbedaan,  Tahun Baru 2019 Harus Lebih Baik
Suara Redaksi

Hormati Perbedaan, Tahun Baru 2019 Harus Lebih Baik

LUMAJANG, PEDOMANINDONESIA.COM – Dalam hitungan jam, tahun baru 2018 akan berlalu berganti tahun baru 2019. Seperti tahun-tahun sebelumnya, cara menyambut tahun baru beragam. Ada yang menyambut penuh kegembiraan dengan menyulut kembang api dan meniup terompet, tasyakuran di beberapa tempat ibadah (masyarakat Lumajang menyebutnya BARIKAN), diam di rumah bersama keluarga, kongkow-kongkow bersama teman, bahkan ada juga yang merayakan tahun baru dengan berpesta pora sambil berjoget ria.

Merayakan tahun baru ini pun memunculkan pendapat berbeda. Ada yang membolehkan dan melarang, bahkan ada pula yang mengharamkan UCAPAN SELAMAT TAHUN BARU. Tentu saja, pendapat berbeda dengan reasoning berbeda pula, tidak memercikkan api pertikaian dan permusuhan, tidak menjadi ‘kompor’ meledaknya kerusuhan, misalnya. Apalagi sampai membuat anak negeri ini terpecah belah dan saling caci maki.

Biarlah mereka memegang pendapat masing-masing asalkan pendapat yang dipegang itu rasional dan ada dasarnya, bukan pendapat yang KARDIMAN (karappa Dhibik/ seenakanya sendiri yang penting nyaman/ enak).

Itulan tolerasis sebagai sunnatullah. Karena pada hakikatnya, perbedaan itu rahmat (al ikhtilaafu ummatii rahmah). Indahnya pelangi karena beragam warna yang muncul. Indahnya bunga-bunga di taman karena beragam, warna-warni. Begitu kita ibaratkan.

Bukankah sudah jelas fakta sejarah mencontohkan Nabi Muhammad SAW dan umat Islam berhubungan harmonis dengan umat Kristen. Suatu ketika, utusan Kristen Najran menemui Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi untuk membuat perjanjian. Di saat tiba waktu sembahyang, enam orang utusan Kristen Najran berpamitan pulang untuk beribadah. Namun, Nabi Muhammad SAW melarangnya pulang. Mereka dipersilahkan beribadah di dalam Masjid Nabawi menghadap ke timur.

Inilah embrio lahirnya Piagam Madinah. Para pengikut Kristen Najran, gereja-gereja, dan kekayaan mereka dilindungi. Mereka juga dibebaskan menganut agama dan beribadah sesuai kepercayaan masing-masing. Itu antar Islam dan Kristen. Apalagi antar umat Islam sendiri, mestinya lebih akur dan erat.

Bukankah sudah jelas Sang Kholiq berfirman ; “Katakanlah hai orang-orang kafir, (1) aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, (2) dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, (3) aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, (4) dan kamu tidak pernah menjadi penyembah apa yang aku sembah, (5) untukmu agamamu dan untukku agamaku (Surat Al-Kafirun ayat 1-6).

Yang terpenting bagaimana tahun baru 2019 kondisi negeri ini semakin baik, semakin maju, dijauhkan dari musibah, masyarakatnya sehat baik jasmani-rohani, sehat secara ekonomi, saling menghargai perbedaan, aman tenteram di bawah panji Indonesia, para pemimpinnya (kades, lurah, camat, bupati, wali kota, gubernur, pemimpin adat, presiden, DPR/ DPRD, polisi, TNI) amanah dan tidak serakah, rakyatnya suka mendoakan pemimpinnya, para ulama, para tokoh agama lainnya mampu menjadi penasehat/ menasehati pemimpinnya dan pemimpinnya mau dinasehati . Sehingga negeri yang baldhatun toyyibatun warobbun ghofur, benar-benar terwujud.

Baldhatun toyyibatun warobbun ghofur, (negeri yang baik dengan rabb yang maha pengampun). Arti “Negeri yang baik (Baldatun Thoyyibatun) bisa mencakup seluruh kebaikan alamnya, dan “Rabb yang maha pengampun (Rabbun Ghafur) bisa mencakup seluruh kebaikan perilaku penduduknya sehingga mendatangkan ampunan dari Allah SWT.

Tahun baru 2019 tidak perlu diperingati berlebihan (apalagi sampai mabuk mabukan hingga merugikan diri sendiri dan orang lain). Karena segala sesuatu yang berlebihan tidak baik. Perbanyak merenung apa yang telah kita berikan pada bangsa ini? Lebih banyak berkomtemplasi, berdzikir agar kedepan kita tidak ‘buta’ dan tidak ‘tuli’ memandang persoalan yang muncul.

Tahun 2019 menjadi momen untuk menjad lebih baik dari tahun sebelumnya. (*)