!-- Header -->
Opini Peristiwa

Jember, Mozaik ‘Peradaban Hilang’

ADANYA penemuan situs baru di Ledokombo, menunjukkan semakin banyak titik lapak arkeologis di Jember. Meski bisa disebut semuanya tenggelam dan rata dengan tanah. Situs Ledokombo adalah temuan berupa struktur batu bata kuno yg diduga kuat peninggalan era Klasik (Hindu-Buddha).

Belum ada kesimpulan tentang struktur terpendam berupa ‘batabang’ dengan varian ukuran dan motif guratan ini. Kongklusi awal mengacu pada tinggalan era Majapahit. Jika dirujuk, ada beberapa sumber yg bisa dibuat acuan terkait situs ini. Misalnya kitab Bhagawat Purana tentang Maharsi Markandeya, yg dikaitkan dg ‘Raung Civilization’. Seorang rsi dari tlatah Demalung, Dahyang (Peg. Dieng) Jawa Tengah, yg dihubungkan dg rajakula dari Medang Bhumi Mataram. Markandeya mengikuti ‘bedah kedhaton’ Pu Sindok ke Medang, Jawa Timur. Selanjutnya menetap di lereng Gunung Rahwang (Raung) dan menuju Bali. Mirip dengan Mpu Bharada, Rsi Markandeya adalah spiritualis “peletak batu” tengara peradaban, bisa jadi di lembah Gunung Raung, Ledokombo ini sentranya. Seperti dalam narasi rontal Pancaksara tentang ‘gemah ripah’ Bumi Sadeng (Jember) dalam naskah Nagarakretagama (Desawarnana) dan catatan Pararaton, Bujangga Manik, serta Suma Oriental-nya Tome Pires. Diperkuat dengan naskah tradisi pariwara seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kandha, Serat Centhini (Suluk Tembang Raras). Beberapa sumber ini banyak menarasikan romantika dan palagan hegemoni kekuasaan di Bang Wetan.

Zainollah ( kaos merah) di area penemuan situs Ledokombo Jember. RED

Deskripsi Suma Oriental (Tome Pires) menyebut banyaknya “bangunan suci” di kawasan Timur Jawa, yg lebih merujuk ke kawasan Jember. Dalam eksplorasi pegiat sejarah Forkom Bhattara Saptaprabhu, Jember begitu potensial sebagai deposit khazanah sejarah masa lalu. Buku “Babad Bumi Sadeng”, menyebutkan beberapa titik temuan arkeologis dari masa Klasik.

Kita tinggal berharap BPCB Jatim segera melakukan ekskavasi dan kajian di Situs Ledokombo. Akan lebih valid lagi jika Balai Arkeologi Yogyakarta ikut terlibat. Apakah itu berupa bekas benteng, candi, kedhaton, patirthan, tembok kutha/talut, dll.nya. Bisa jadi ini yg dimaksud sebagai “The Kingdom of O’Vale” dlm catatan Portugis?
Juga apakah terkait dengan era Majapahit, Sadeng, Kedhawung, Chamda, Blambangan, dll. Nanti hasilnya akan menjadi bahan diskusi dan penulisan yg menarik. Perlu dicermati, Jember merupakan kompleksitas peradaban Klasik, dari beberapa linimasa, dan tidak mudah utk diklaim dengan buru-buru. Terlebih jika klaim itu dilandasi semangat lokalitas sempit dan jumud, yg justru akan mendistorsi sejarah.

Selain itu, diperlukan adanya pengujian carbon dating, referensi dan kajian para ahli yg berkompeten di bidangnya. Dan yg penting, kita menunggu tindak lanjut Perda/Perbup tentang Tim Ahli Cagar Budaya (TACB Jember) yg belum ada (*)

Oleh : Zainollah Ahmad, Penulis ‘Babad Bumi Sadeng”

Post Comment