!-- Header -->
Advertisement
Kadindik : Kekurangan Pagu Itu Hal Biasa
Pendidikan dan Agama

Kadindik : Kekurangan Pagu Itu Hal Biasa

LUMAJANG, PEDOMANINDONESIA.com – Tahun pelajaran 2017-2018, mayoritas Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kekurangan pagu. Kalaupun ada yang kelebihan pagu itu terkonsentrasi di sekolah-sekolah favorit, misalnya SMPN 1 Sukodono, SMPN 1, 2, 3, dan 5 Lumajang, SMPN 1 Tempeh, SMPN 1 Candipuro, SMPN 1 Pasirian, SMPN 1 Yosowilangun, dan SMPN 1 Jatiroto. (baca tabel).

Atas kondisi ini, Siswinarko, Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Lumajang, menanggapi dengan nada biasa. Bahkan menurutnya, mereka yang bisa masuk ke sekolah yang kekurangan pagu.

Nggak papa. Nanti mereka yang tidak diterima di sekolah pilihan pertama karena pagunya sudah terpenuhi, bisa masuk di sekolah yang pagunya belum terpenuhi,” tukasnya.

Kata Siswinarko, tidak boleh lagi ada anak yang tidak sekolah gara-gara tidak diterima sesuai dengan pilihan pertama. Mereka harus ditampung di sekolah yang masih banyak kosong atau kekurangan murid.

“Kita ingin melanjutkan wajib belajar 12 tahun. Kita harus merespon mereka yang tidak diterima di sekolah pilihannya itu. Pokoknya  gak boleh lagi ada anak putus sekolah,” paparnya.

 

Siswinarko

Saat ditanya mengapa mayoritas SMP Negeri di Lumajang meleset jauh dengan pagu yang sudah ditetapkan, Siswinarko tidak memaparkan secara detail dan gamblang. Dia hanya menyampaikan bahwa mereka (calon peserta didik baru) ragu-ragu dengan pilihannya.

“Mereka juga belum paham soal zona. Dengan adanya zona seolah-olah calon peserta didik baru tidak boleh masuk ke zona lain. Padahal mereka boleh masuk ke zona lain asalkan mampu secara akademik,” paparnya.

Dia memaklumi karena penerapan zona merupakan hal baru dan masih pertama kali diberlakukan mulai tahun ini.  FIK