!-- Header -->
Ekonomi Lumajang

Kurasi Produk UMKM, Setiawan : UMKM Lumajang Harus Naik Kelas

Advertisement

LUMAJANG – UMKM Lumajang tergolong banyak. Dari data yang ada di Dinas Koperasi dan UMKM, terdapat sekitar 26 ribu bahkan melonjak menjadi sekitar 40 ribu UMKM saat menerima bantuan permodalan dari pemerintah.

Produknya, pun bermacam-macam. Tidak hanya pedagang kaki lima saja atau pedagang pasar. Ada UMKM yang bergerak di bidang makanan dan minuman, bahan olahan dalam kemasan, di bidang craft, furniture, fashion, dan produk agrobisnis. Namun, dari jumlah itu yang murni bergerak sekitar 180 an UMKM.

Data ini muncul dan menjadi prolog acara Panorama Pagi Bersama Agus Setiawan, SE ( Ketua KADIN Lumajang), di Radio Semeru FM dengan tema “Kurasi Produk UMKM”, pada Sabtu (18/4/2021).

“Dan kecenderungan UMKM ini susah naik kelas kalau misalnya seperti itu itu aja. Silih berganti.  Mati satu tumbuh yang lain.  Seperti itu rentan sekali mengalami kegagalan”, ujar Agus Setiawan.

Sebelum panjang lebar menjelaskan soal UMKM, Setiawan memaparkan soal kurasi produk UMKM.

“Yang dimaksud kurasi produk UMKM adalah kita memberikan pendampingan kepada UMKM untuk melewati tahapan-tahapan hingga produknya benar-benar bisa diterima oleh pasar, baik itu pasar domestik, dalam negeri, maupun pasar internasional melalui tahapan-tahapan kurasi yang didampingi oleh kurator profesional.

Nantinya, produk UMKM akan mengalami perbaikan. Misalnya, UMKM yang selama ini tidak memiliki izin usaha kurasi mensyaratkan harus punya NIB. Minimal bisa diurus nanti. Ketika UMKM selama ini (mungkin) packaging-nya yang  ala kadarnya, melalui tahapan kurasi nanti diberikan pelatihan, sharing keterampilan bagaimana cara membuat packaging yang baik dan benar.

Nanti bisa dilatih juga akuntabilitasnya. Bagaimana mencatat pembukuan sederhana untuk UMKM, kemudian juga UMKM membuat langkah-langkah promosi yang baik misalkan digital marketing melalui sosial media, email marketing.

Kemudian nanti lokasi usahanya juga akan mengalami perbaikan. Tentu saja dari aspek di IT nya,  peralatannya juga. Ini tahapan-tahapan ini yang masuk dalam tahapan kurasi.

Ini nanti akan dinilai oleh kurator profesional sehingga kalau produknya sudah dinilai layak masuk ke pasar nasional atau ke luar negeri, ya nanti bisa jalan kesana. Misalkan di Lumajang ada produk gula merah. Selama ini mungkin tidak pernah melewati tahapan kurasi, sehingga ketika mereka mau ngurus PIRT selalu terkendala masalah higienis atau kesehatan rumah produksinya. Ini  butuh pendampingan supaya bisa melewati tahapan-tahapan kurasi. Sehingga, harapan kita juga, nanti ketika sudah melewati tahap kurasi memang pertumbuhan tersebut bisa naik kelas syukur-syukur bisa dilakukan ekspor,” tuturnya.

Sekarang Jatim salah satu provinsi yang ekspornya naik tinggi, tapi selama ini didominasi oleh bahan baku produk manufaktur. “Harapan kita, dengan dilakukan proses kurasi dari Lumajang yang nantinya layak untuk ekspor dan bisa melakukan kegiatan ekspor lain yang harus dijalankan dan harus sudah mulai dijalankan di Kabupaten Lumajang”, tuturnya.

UMKM BRILLIANCE

Selama ini data UMKM di Lumajang, kata Setiawan, belum fix, meskipun ada paguyubannya atau dan asosiasinya. Ini perlu dijadikan satu dan pendataannya terintegrasi. Selain jumlah juga jenis bidang usahanya.

Proses kurasi ini tidak harus dilakukan oleh pemerintah daerah. Pemerintah daerah fokus pada bidang lain. Pihak yang di swasta juga bisa membantu misalnya melalui KADIN mengirimkan beberapa instruktur kurasi dari Lumajang untuk diiikutkan pelatihan di rumah kurasi (di Kediri atau di Surabaya). Nanti melalui KADIN Institute. Setelah pulang dari pelatihan mereka bisa menjadi instruktur kurasi di Kabupaten Lumajang. Dan tugas mereka adalah melakukan kurasi pendampingan kepada orang lain yang ada di Lumajang. Karena sayang sekali UMKM di Lumajang. Contohnya di Pandanwangi. Di sana ada produk kerupuk kulit pisang, kripik kedeboks pisang. Hanya saja, karena mungkin masih belum ada pendamping kurasi, belum melalui tahapan-tahapan kurasi, maka produknya seperti itu.

“Kemarin kami berusaha melakukan pemasaran kerupuk kulit pisang dan melalui adik saya sendiri yang bisa masuk ke Sang Pisang Kaesang Pak Jokowi dan sampai sekarang masih bekerja sama. Hanya saja, sayang sekali bila produk tersebut hanya diambil Sang Pisang. Seharusnya produk tersebut bisa ditingkatkan. Kemudian, kalau produknya kualitasnya bagus tinggal kemasannya. UMKM juga harus dibatasi. Produknya sudah masuk ke pemain besar, produknya sudah kualitasnya lumayan, tinggal kemasannya”, tukasnya.

UMKM Lumajang ini saja, menurut Setiawan, belum punya legalitas, padahal legalitas penting sekali.  Akuntabilitas juga harus diperbaiki. Akuntabilitas tidak perlu ruwet. Cukup pembukuan catatan keuangan sendiri. Yang penting keluar masuk persediaan. Untungnya profit berapa itu ketahuan. Kalau legalitas sudah punya, akuntabilitasnya baik maka ketika mereka mengajukan KUR itu tidak susah, karena sudah bisa dipercaya ) kredibel. Kemudian banyak UMKM dalam melakukan promosi tidak punya akun sosmed, tidak punya toko online. Ini bisa dilakukan pendampingan. “Kalau tahapan-tahapan ketika suatu saat mereka diuji melalui proses seleksi mereka lolos, maka produknya layak naik kelas. Itu tujuannya”, tutur alumni STAN Jakarta ini.

Agus Setiawan, SE ( Ketua KADIN Lumajang dan Pengusaha sukses. RED

UMKM PROFESIONAL

UMKM profesional tentunya lolos kurasi. Dari aspek legalitas nya sudah memiliki NIB, lokasi usaha juga sesuai dengan perizinan, memiliki pembukuan yang baik. Karena usaha apapun, ketika pembukaannya tidak baik rentan bangkrut. Kemudian bisa melakukan promosi secara baik melalui sosmed, email marketing, melalui media seperti radio, media massa dan lain-lain. Selanjutnya, ketika sudah dinilai baik, maka usahanya harus memiliki dampak terhadap masyarakat sekitar. Apakah menerima tenaga kerja dari sekitarnya, harus memiliki strategi bisnis yang baik juga tentunya, dan harus menentukan target marketnya siapa. Karena, kalau kita tidak menentukan target market atau target marketnya tidak jelas, tidak bisa bagus. Ini semua jadi penilaian di dalam proses kurasi. Tentunya, di tahap awal pasti banyak yang tidak lolos. Bahkan mungkin semuanya tidak akan lolos, kecuali UMKM yang memang sudah sangat baik kondisinya.

“Tapi melalui tahapan-tahapan pendampingan, maka 7 hal tadi yang saya sampaikan bisa dimiliki oleh UMKM. Ketika sudah memiliki 7 hal ini, UMKM tersebut akan baik. Minimal omsetnya nambah, kualitas produknya akan bertambah baik, usahanya akan stabil. Kalau itu semua sudah jalan tentu yang menerima manfaatnya adalah UMKM dan para pekerjanya”, paparnya.

APA LANGKAH KADIN LUMAJANG? 

Seperti yang disampaikan, KADIN Jawa Timur memiliki KADIN Institute. Salah satu programnya adalah pelatihan kurator profesional. KADIN Lumajang akan mengikutinya, akan mengirimkan beberapa tenaga dari Lumajang untuk mengikuti pelatihan kurator di Jawa Timur. Sehingga, ketika mereka lulus menjadi kurator profesional di Kabupaten Lumajang. Inilah yang akan dikerahkan untuk melatih kurator kurator lokal, atau melakukan pendampingan UMKM.

“Kita harus punya UMKM unggulan. Tentu saja, karena setelah ada 1 UMKM yang lolos kurasi bisa melakukan ekspor, maka ini jadi motivasi, menjadikan UMKM termotivasi mengikuti langkahnya yang berhasil.

Kalau sudah ada 1 UMKM yang bisa ekspor, omsetnya bisa naik dan bisa lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia, UMKM yang lain tinggal ATM saja ( Amati, Tiru, Modifikasi) melalui tahapan-tahapan kurasi yang ditentukan oleh kurator tadi. Ketika dia lulus, maka dia akan mengalami hal yang sama dan kalau ini dilakukan (banyak UMKM) yang lolos kurasi, maka UMKM Lumajang akan jauh berkembang. Sepertiyang saya sampaikan tadi, tidak hanya yang bergerak di bidang makanan dan minuman, UMKM yang lain pun akan bisa lebih baik lagi”, katanya. RED

 

Post Comment