!-- Header -->
Lumajang Do Dolan Siap Tampung UMKM, Sajikan Hiburan Menarik
Ekonomi Hiburan Komunitas Lumajang

Lumajang Do Dolan Siap Tampung UMKM, Sajikan Hiburan Menarik

LUMAJANG –  Bupati Lumajang sudah melansir kalender even selama 1 tahun. Salah satunya adalah Lumajang Do Dolan, pada 26 Maret 2020. Even Do Dolan artinya jualan. Bisa juga dolan/ datang/ ayo bermain ke Lumajang.

Demikian ungkap Zainul, mewakili pihak Managamen GM Lumajang, penggagas Do Dolan saat Lounching, di Resto GM, Senin (2/2/2020) bersama beberapa kepala OPD Pemkab Lumajang.

Di sana, kata Zaenul, akan ada orang berjualan. Menariknya, yang dijual makanan tradisional dan internasional seperti jajanan pasar. Sedangkan makanan internasional seperti Suki, Yakiniku bisa menjadi satu.

“Ini merupakan satu perpaduan dimana kearifan lokal, masakan  masakan nusantara dan masakan milenial yang digandrungi anak muda sekarang bisa menjadi panggung. Di sana, selain  makanan dan minuman kita sajikan kebudayaan, baik tarian, musik atau dolanan anak-anak.  Ini menjadi segmen tersendiri”, tuturnya.

Kenapa dilaksanakan? “Kita harus perpikir tagline Lumajang  Eksotik harus didukung karya karya. Karya makanan, permainan musik yang menjadi satu dan menyatu”, tukasnya.

Apa yang menjadi perbedaan dari segmen segmen yang lain? “Kita menggunakan sistem pembayaran dengan koin, tidak menggunakan sistem pembayaran uang. Ini pembelajaran edukasi dan menambah keunikan”, selorohnya.

Hari ini, kata Zainul, pihaknya  melakukan koordinasi dengan OPD terkait agar pelaksanaan Do Dolan  ini semakin baik.  Karena even ini pertama kali digelar di Lumajang. Atau mungkin di daerah lain belum  ada. “Kita bahu-membahu memberikan kontribusi pada even ini”, paparnya.

Dipaparkan, tujuan even ini  antara lain :  mengenalkan potensi budaya di Lumajang, potensi kuliner, dan potensi kearifan lokal. Baik dalam sistem pelayanan komunikasi dan sistem edukasi.

“Misalkan anak-anak melihat bagaimana cara membuat rujak legi. Di sana ada prosesnya. Orang menunggu, melihat. Itulah sistemnya yang ada di sana. Dan saya rasa sekarang jarang sekali kita jumpai, even-even yang digagas di beberapa wilayah yang  sistemnya kayak ini. Semuanya serba sudah jadi. Hanya bertemu antara seller and buyer (penjual dan pembeli), tinggal bayar tanpa proses, selesai,” tukasnya.

Jadi, konsepnya nanti sembari pengunjung menikmati makanan tradisional atau internasional, di panggung ada atraksi kesenian, dolanan anak-anak, musik, atau tari-tarian. Ini sesuatu yang menyatu.

“Kami juga membuka selebar-lebarnya untuk UKM yang ingin berjualan biar isinya heterogen.  Monggo kami buka dengan sistem bagi hasil. Pembagian hasil ini untuk biaya operasional seperti air, kebersihan, dan sebagainya. UMKM  yang berminat dipersilahkan datang ke atau Hotel GM atau GM Plaza. Tentu UMKM nya sesuai dengan kriteria”, imbuhnya. DIN

Post Comment