!-- Header -->
Advertisement
LUMAJANG, MENGINGINKAN BUPATI YANG SEPERTI APA?
Opini

LUMAJANG, MENGINGINKAN BUPATI YANG SEPERTI APA?

Oleh: *Satory
Masyarakat Kabupaten Lumajang, Jawa Timur pada tanggal 27 Juni 2018 nanti akan merayakan pesta demokrasi. Mereka akan menggunakan hak pilihnya untuk menentukan siapa yang pantas duduk di kursi bupati agar Lumajang lebih baik. Kalau kita lihat dari nama-nama yang beredar, bakal calon bupati Kabupaten Lumajang tahun ini cukup berwarna, karena berisi figur-figur dari berbagai kalangan. Mulai dari birokrat, politisi, pengusaha, sampai tokoh agama.

Perdebatan hangat pun hadir menyertai beredarnya nama-nama ini. Berbagai pendapat bermunculan tentang kemungkinan para figur memenangkan pertarungan pilkada mendatang. Dari berbagai pendapat yang beredar ada yang sangat optimis dan yakin kalau jagonya terpilih Lumajang akan lebih baik. Sebagian lagi bersikap skeptis, pesimis, dan  mempertanyakan keyakinan itu. Tapi dari semua perdebatan ini kita belum menemukan pertanyan “kenapa kita harus memilih?”. Padahal pertanyaan ini adalah esensi dari hajatan politik lima tahunan ini.

Sebab dalam iklim demokrasi yang sehat, pilkada merupakan ekspresi dari harapan masyarakat yang menginginkan sebuah perubahan yang nyata bukan hanya sekedar janji belaka.

Lumajang secara umum, memiliki permasalahan yang cukup kompleks. Mulai dari masalah pengangguran, sistem pendidikan, kriminalitas, ketidak adilan, penyediaan infrastruktur yang belum merata, pengembangan potensi wisata yang belum maksimal, sampai masalah korupsi dan nepotisme yang masih jadi PR bersama.

Karena itulah sebelum kita bicara lebih jauh siapa yang pantas menjadi Bupati Lumajang  2018 mendatang ada baiknya kita memahami dan menginventarisir dulu permasalahan yang kita hadapi, godok, kaji dan diskusikan. Baru setelah ada titik terang, nanti kita bisa menilai kesiapan para bakal calon untuk mengatasi masalah-masalah itu dan mewujudkan masyarakat Lumajang sejahtera.

Dari situ nanti kita akan bisa melihat mana bakal calon bupati yang memiliki keterampilan untuk menganalisis masalah yang komplek, membuat keputusan yang tepat dan logis. Bakal calon bupati yang juga mengerti visi organisasi, berperan untuk melihat dan merespon kebutuhan masyarakatnya secara cepat, bukan hanya bisa pencitraan, merangkai kata-kata indah, kosong melompong semacam “korupsi dan kemiskinan musuh kita bersama”. Kalimat ini indah namun hingga kini tak pernah terselesaikan.

Penulis : Mantan Aktivis FISIP Universitas Jember*