!-- Header -->
Menumbuhkan Budaya Baca Sejak di Sekolah Dasar
Opini

Menumbuhkan Budaya Baca Sejak di Sekolah Dasar

Oleh : Noerlaili Mardina*

ERA teknologi informasi dan digital sedikit banyak telah menimbulkan ekses negatif bagi dunia pendidikan. Dampak negatif yang ditimbulkan salah satunya adalah keengganan anak didik, terutama yang berada di Sekolah Dasar (SD) untuk membaca buku. Mereka lebih tertarik bermain game dan hand phone ketimbang membaca buku pelajaran maupun buku-buku bacaan lainnya. Belum lagi ditambah dengan kondisi lingkungan sekolah yang tidak mendukung, minimnya perpustakaan sekolah yang menarik, lingkungan keluarga (orang tua) yang tidak pernah menciptakan kebiasaan membaca buku, dan lingkungan sekitar dimana mereka bersosialisasi dan berinteraksi.

Padahal membaca merupakan pintu masuk untuk meraih kesuksesan, memperoleh ilmu pengetahuan bahkan menguasai dunia. Karena pentingnya membaca sang Khaliq memerintahkan kepada hamba pilihannya Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril untuk membaca (iqra’) meskipun saat itu Nabi Muhammad SAW tidak bisa membaca. Para Mufassirin menginterpretasikan membaca (iqra’) beragam. Iqra’ bisa berarti membaca (buku, kitab), menganalisa, mendalami, menyampaikan, merenungkan, dan meneliti. Jadi, kata iqra’ (membaca) maknanya umum.

Nasaruddin Umar, Rektor Perguran Tinggi Ilmu Qur’an, Rebak Bulus, menginterpretasikan iqra’ menjadi 4 bagian. Iqra’ pertama adalah bagaimana membaca dengan benar (how to read), iqra’ kedua bagaimana mengetahi maknanya, meneladani artinya dan interpretasinya (how to learn), iqra’ ketiga bagaimana menghayati dan mengejawantahkan (how to understand), dan keempat bagaimana menyingkap tabir dibalik apa yang telah dibaca.

Bila maknanya lebih dikhusukan pada pelajar SD, maka perintah iqra’ berarti membaca buku pelajaran dan buku-buku pendukung lainnya. Berlatih membaca sejak dini (SD) merupakan awalan penting untuk masuk pada tahapan menganalisa, meneliti, dan menciptakan sebuah karya nyata. Bagaimana mungkin bisa melahirkan karya nyata, menganalisa/ meneliti dan menyelesaikan berbagai persoalan bila kebiasaan membaca (buku) tidak terbangun sama sekali sejak dini.

Contoh kecil dalam sebuah pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar ada bab khusus yang berisi bacaan untuk dianalisa. Sebelum dianalisa bacaan itu wajib dibaca terlebih dulu agar analisanya tajam, mendalam, dan tidak keluar dari konteks. Inilah yang kemudian disebut mengasah kemampuan untuk membaca apa yang tertulis dalam bacaan itu.

Minat Baca Lemah

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia mengetahui manfaat membaca. Dengan seringnya membaca, maka berbagai informasi terkini baik dari dalam negeri maupun luar negeri bisa diperoleh dengan mudah. Melalui bacaan maka wawasan keilmuannya semakin bertambah, terasah, dan akan mampu bersaing dengan negara maju. Sayangnya, yang terjadi saat ini rasa malas untuk membaca.

Data World’s Most Literate Nation-sebagaimana dilansir JPNN-minat baca bangsa Indonesia ada diurutan ke 60 dari 61 negara. Data ini merupakan hasil penelitian Central Connectitute State University tahun 2016. Sebelumnya, tahun 2012 UNESCO mencata bahwa dari setiap 1.000 penduduk Indonesia hanya ada 1 orang yang serius membaca buku. Ironisnya lagi minat baca pelajar SD berada diurutan ke 38 dari 39 negara. Kemudian 83% pelajar membaca karena ada tugas dari gurunya. Angka tersebut menunjukkan bahwa pelajar Indonesia malas membaca. Membaca belum menjadi sebuah kebutuhan seperti halnya makan dan minum, apalagi menjadi budaya. Membaca belum menjadi hal utama untuk mendapatkan berbagai informasi baru.

Ada banyak faktor yang menyebabkan lemahnya minat baca pelajar Indonesia, terutama tingkat SD. Beberapa faktor itu antara lain : kondisi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan sekitar rumah, melubernya tontonan menarik di televisi, ketidak mampuan orang tua membeli buku bacaan, dan budaya dongeng yang masih dominan dari pada membaca sendiri.

Pertama kondisi lingkungan keluarga. Ada pepatah yang mengatakan, “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Dalam konteks keluarga, peran orang tua sangat dominan dalam mendidik anak-anknya. Putih tidaknya anak tergantung kepada kedua orang tua. Maka tidak heran bila sifat yang dimiliki anak tidak jauh berbeda dengan sifat kedua orangtuanya, termasuk tingkah lalu setiap hari. Adakah kebiasaan membaca orang tua setiap hari? Ini pertanyaan sederhana dan mayoritas jawabannya sama, yakni belum terciptanya kebiasaan membaca. Untuk itu tidak perlu heran kebiasaan ini juga tidak tertanam pada diri anak. Begitu pula sebaliknya, kebiasaan membaca anak bisa tercipta manakala kebiasan itu dilakukan/ dibentuk oleh orang tua. Karena pendidikan awal sebelum masuk sekolah adalah pendidikan keluarga.

Kedua kondisi lingkungan sekolah dan guru. Yang tak pentingnya adalah Madrasah kedua, yakni sekolah. Lingkungan sekolah memiliki peran besar bagi terbentuknya kecedasan intelektual, emosional, sikap, sifat, dan kebiasan anak. Lingkungan sekolah yang nyaman akan memacu anak didik untuk mengukir prestasi, begitu juga sebaliknya. Benarkah? Lihat saja negara lain seperti Malaysia, Australia, dan Singapura, Indonesia cukup jauh ketinggalan terutama dengan fasilitas dan lingkungan yang nyaman. Peserta didik di sana terlibat langsung dan peduli pada lingkungan sekolahnya sendiri. Kondisi lingkungan yang nyaman, ruang kelas yang bersih, udara sekitar yang sejuk, cukup pepohonan yang rindang, cukup tempat bermain dan olah raga, sistem sanitasi yang baik, tempat pembuangan sampah yang memadai, jauh dari suara bising (suara pabrik, jauh dari jalan raya padat lalu lintas), bagunan sekolah yang bagus, perpustakaannya representatif akan membuat peserta didik menjadi tumbuh kembang baik, menyenangkan, dan akhirnya melahirkan anak-anak cerdas berkualitas.

Peran penting lain adalah teladan dari para pendidik (guru). Guru merupakan orang tua kedua di sekolah. Peran dan fungsinya tidak jauh berbeda dengan peran orang tua di rumah, yaitu sebagai teman bermain dan sebagai orang tua dalam mendidik. Oleh karena itu, kebiasan, tingkah laku, gaya berbicara, cara berkomunikasi dan mengajar bisa berpengaruh pada tingkah laku dan kebiasaan anak di sekolah bahkan terbawa sampai ke rumah, termasuk kebiasaan membaca. Melihat fonomena yang terjadi sekarang, kebiasaan guru membaca sudah luntur tergantikan dengan kebiasaan memainkan gadget. Hampir tidak ada lagi kesempatan menciptakan kebiasaan membaca di kalangan guru sendiri, apalagi kebiasaan membaca di kalangan anak didik. Mereka memilih bersantai ria dengan HP ketimbang menikmati buku bacaan. Jadi, tidak perlu heran mengapa anak didiknya tidak punya motivasi dan ketertarikan yang kuat untuk mencintai buku. Jangankan membaca buku-buku pengetahuan umum, membaca buku pelajarannya pun tidak tertarik kecuali ada PR.

Ketiga, perpustakaan sekolah. Sebagaimana dalam Undang-Undang Perpustakaan No. 43 Tahun 2007 disebutkan, perpustakaan adalah institusi pengelolaan koleksi karya tulis, karya tulis cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para siswa sebagai pengguna perputakaan. Sementara perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang berada di lingkungan sekolah.

Manfaat perpustakaan sekolah antara lain; menimbulkan kecintaan peserta didik untuk membaca, memperkaya pengalaman belajar peserta didik, menanamkan kebiasaan belajar mandiri, mempercepat proses penguasaan teknik membaca, membantu perkembangan kecakapan berbahasa, memperlancar tugas-tugas peserta didik, membantu guru, peserta didik untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu perpustkaan sekolah mempunyai fungsi edukatif, informatif, rekreasi, riset dan penelitian (Bafadal : Pengelolaan perpustakaan sekolah).

Menciptkan Minat Baca
Ada beberapa langkah agar budaya baca terbentuk, antara lain; pertama, dibiasakannya keluarga di rumah membaca setiap hari. Buku bacaan bisa berupa novel, cerpen, resep masakan, kitab suci, buku umum, buku agama, dan buku buku lainnya. Di samping itu ajak dan dampingi anak untuk melihat-lihat buku yang dibaca. Agendakan setiap minggu/ bulan anak ke toko buku bukan hanya ke mall, super market atau tempat hiburan seperti kafe, karaoke, dan sejenisnya.

Kedua, ciptakan lingkungan sekolah agar peserta didik tertarik dan terbiasa membaca buku. Pihak sekolah bisa memasang tulisan-tulisan yang berisi ajakan bahwa membaca itu penting, bisa membuat masa depan bahagia, dan tulisan-tulisan menarik lainnya. Sebelum jam pelajaran dimulai, guru bisa menyediakan waktu 5 atau 10 menit peserta didik untuk membaca buku di luar buku pelajaran. Ini merupakan langkah tepat selain pemberian tugas membaca. Adanya expo buku murah, lomba membaca cepat dan tepat, lomba kliping, lomba pembuatan mading, pemberian hadiah bagi peserta didik yang paling banyak menghabiskan buku juga langkah jitu pihak sekolah/ guru. Yang tak kalah pentingnya lagi adalah adanya perpustakaan sekolah menarik, nyaman, dan koleksi buku-bukunya beragam. Bukan sebaliknya, membiarkan kondisi perpustakaan sekolah apa adanya.

Ketiga, ciptakan lingkungan perumahan untuk gemar membaca buku. Langkah ini memang tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan karena menyangkut masyarakat. Untuk itu peran Ketua RT-RW, tokoh masyarakat, dan kepala desa sangat dibutuhkan untuk menciptakan perpustakaan itu. Apabila pendirikan perpustakaan ini dirasa sulit maka sebagai langkah alternatif pendirian taman baca. Taman baca bisa dibuat secara swadaya oleh masyarakat atau kepala desa setempat.

Keempat, intervensi pemerintah daerah. Menciptakan budaya baca di kalangan Sekolah Dasar tidak bisa lepas dari pemerintah daerah. Mereka memiliki tanggung jawab untuk menjadikan masyarakatnya melek huruf, pandai, jujur, makmur, sejahtera. Oleh karena itu pemerintah perlu menggalakkan kegiatan yang berhubungan dengan terciptanya budaya membaca. Anggaran yang berorientasi pada peningkatan budaya membaca perlu diperbesar, bukan malah dikurangi. Selama ini pemerintah belum melakukan langkah-langkah spektakuler demi peningkatn budaya baca di sekolah, lebih-lebih di SD. Kalaupun ada perpustakaan keliling misalnya, itu sebatas program monoton yang belum berhasil menggugah peserta didik (terutama anak SD) untuk membaca. Mestinya, perpustakaan sekolah lebih diprioritaskan untuk dipercantik, diperbesar.

Peringatan hari hari besar seperti HUT RI, Hardiknas, Harkitnas, hari jadi kabupaten/ kota jarang diisi dengan lomba yang mengarah pada pada peningkatan kemampuan dan budaya membaca. Kondisi ini terjadi bertahun-tahun lamanya. Makanya Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara dalam hal membaca dan nomer 33 dari 34 negara untuk tingkat SD dan SMP. Langkah-langkah yang penulis kemukakan akan berhasil bila benar-benar dijalankan dan Indonesia tidak lagi akan lagi berada di urutan buntut. Semoga.

Penulis : *Mantan Aktivis Kampus (FKIP) Universitas Jember