!-- Header -->
Mr. Buntaran Is The Dark Horse
Opini

Mr. Buntaran Is The Dark Horse

Oleh : Syamsudin Nabilah*

Muscab III Partai Demokrat (PD) Kabupaten Lumajang, pada Rabu (12/7/2017) lalu, di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, telah menetapkan dr. Buntaran Suprianto, M.Kes secara aklamasi sebagai Ketua Umum DPC PD Lumajang periode 2017-2022.  Dari 21 PAC yang punya hak pilih 20 di antaranya memilih dr. Buntaran Suprianto, M. Kes, sementara 1 PAC berhalangan hadir.

Kemunculan dr. Buntaran di gelanggang politik memang tanpa disangka-sangka, baik oleh politisi, pengawai negeri maupun para penikmat kopi di warung-warung kopi. Berbagai pertanyaan dan pernyataan, pun bermunculan. Misalnya kalimat,  “kok bisa ya? kok mau ya Pak Buntaran menjadi Ketua Partai Demokrat? Untuk apa ya dr. Buntaran jadi Ketua Umum Partai Demokrat? Mestinya dr. Buntaran menikmati masa tua, dia cuma boneka untuk mendukung Bupati As’at menjadi bupati lagi, dia sengaja diletakkan di Partai Demokrat hanya untuk menjegal salah satu bakal calon bupati”, dan pernyataan-pernyataan miring/ negatif lainnya.

Persepsi beragam, pertanyaan dengan nada heran, pernyataan negatif baik dari rival politik maupun kawan politiknya boleh-boleh saja dengan catatan tidak sampai menyebarkan berita hoax, memfitnah, dan tidak memvonis bahwa dr. Buntaran itu menyimpang dan telah berbuat ‘dosa politik’ sehingga harus melakukan ‘taubatan nasuha’. Karena di era reformasi siapapun berhak menjatuhkan pilihan politik dan berlabuh di partai politik yang diinginkan. Apakah dia  seorang pensiunan PNS, aktivis, LSM, kuli tinta, kuli bangunan, abang becak, akademisi, anak muda, orang tua, bahkan ‘pensiunan preman’ pun tidak ada larangan untuk masuk di partai politik dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Dari berbagai persepsi dan asumsi yang berkembang asumsi paling dominan adalah niatan dr. Buntaran dan barisannya untuk ‘menghabisi’ Indah Amperawati, dan salah satu cara untuk menghabisinya adalah merebut Ketua Umum DPC Partai Demokrat Lumajang. Publik tahu bahwa Indah Amperawati (adik kandung alm. Bupati Sjahrazad Masdar) digadang-gadang hendak mencalonkan diri/ dicalonkan sebagai Bupati Lumajang. Indah Amperawati dianggap ‘dekat’ dengan Partai Demokrat karena alm. Sjahrazad Masdar pernah menjadi Ketua Umum DPC Partai Demokrat Lumajang hingga mengantarkannya menjadi Bupati Lumajang untuk kedua kalinya. Asumsinya, bila Partai Demokrat jatuh ke tangan orang yang pro Indah Amperawati, maka Ia bisa diberangkatkan dari partai ini (meskipun tetap harus berkoalisi dengan partai lain karena Partai Demokrat hanya memiliki 6 kursi). Andaikan dia dia benar-benar berangkat dari Partai Demokrat, maka calon Petahana dianggap akan berhadapan dengan lawan tangguh dalam pesta demokrasi 2018.

Asumsi ini semakin diperkuat dengan kedekatan dr. Buntaran dengan Bupati As’at yang secara politik ada kesenjangan hubungan dengan keluarga Masdar, meskipun sebelumnya Gus As’at posisinya sebagai wakil bupati. Dengan kata lain, posisi dr. Buntaran sebagai Ketua Umum DPC Partai Demokrat Lumajang tidak lepas dari intervensi Bupati As’at dan orang-orang sekelilingnya untuk melanggengkan kekuasaannya. Itulah persepsi liar yang belum tentu benar adanya. Jikalau persepsi dan asumsi itu benar berarti Bupati As’at betul-betul hebat karena mampu ‘menjinakkan’ para punggawa DPD dan DPP Partai Demokrat dengan memilih dr. Buntaran sebagai Ketua Umum DPC Partai Demokrat Lumajang masa bhakti 2017 – 2022. Apakah semua asumsi, persepsi, tudingan (atau apapun istilahnya) itu benar? Hanya dr. Buntaran dan sebagian elit partai demokrat yang tahu.

Terlepas semakin liarnya persepsi/ rumor/  asumsi yang belum tentu benar adanya, kini dr. Buntaran telah menceburkan diri ke pusaran politik praktis. Ibarat sebuah pertandingan, dr. Buntaran telah masuk ke gelanggang. Untuk itu pantang menjadi pecundang dan tidak akan pulang sebelum menang.  Pada saat terjun ke politik praktis maka apapun bisa terjadi dan idealnya dr. Buntaran jangan terlalu banyak disetir oleh kelompok-kelompok pragamatis yang punya kepentingan sesaat dan bertentangan dengan hati nuraninya. Bisakah? Semuanya tergantung pada sosok dr. Buntaran yang kenyang pengalaman di dunia birokrasi.

Buntaran, menurut penulis, merupakan figur menarik untuk dikupas dan diperhitungkan. Di balik kelemah lembutannya, dr. Buntaran ternyata mempunyai sikap tegas dan semangat tinggi dibandingkan dengan kaum muda. Hal ini terlihat jelas saat menerima Pataka Partai Demokrat. Dengan suara lantang, tenang, dan sikap tegak Buntaran menerimanya sambil mengucapkan janji/ komitmen untuk mengibarkan hingga ke pelosok-pelosok desa, memenangkan pilbup, pilleg, dan pilpres mendatang. Itu yang  pertama.

Yang kedua, karir dr. Buntaran terlihat begitu cemerlang dan cenderung tidak pernah menimbulkan persoalan di OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Kabupaten Lumajang yang dinahkodai. Meskipun pernah ditempatkan di posisi yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya, dr. Buntaran tetap survive dan dijalani dengan penuh kesabaran dan loyalitas yang tinggi. Menariknya, jenjang karir dr. Buntaran tanpa lobi-lobi dan tidak mudah diprediksi. Semua mengalir seperti air dari hulu ke hilir, termasuk di saat diangkat menjadi Sekda Lumajang oleh alm. Sjahrazad Masdar tanpa disangka-sangka.

Pasca Lumajang di tinggalkan Sjahrazad Masdar, maka posisi Gus As’at naik menjadi bupati, sementara kedudukan wabup diisi oleh dr. Buntaran. Jabatan wabup ini juga tanpa Ia minta. Informasi yang berkembang saat itu, beberapa tokoh, kolega, teman dekat mencoba melakukan lobi-lobi politik agar dr. Buntaran bersedia maju sebagai wabup namun ditolak dengan alasan dirinya tidak ingin menyakiti orang lain yang punya keinginan menjadi wabup. Dr. Buntaran tak ingin karena ‘nafsu’ politiknya membuat orang lain tersingkirkan. Ia baru menyatakan kesediannya setelah mayoritas parpol pengusung pasangan alm. Sjahrazad-As’at tidak ada yang dicalonkan selain dirinya.

Hal yang hampir sama terulang di saat Partai Demokrat Lumajang butuh figur yang bisa menjalankan roda partai, menggerakkan mesin partai menghadapi pilbup, pilgub, dan pilpres. Nama dr. Buntaran lagi-lagi muncul/ dimunculkan, padahal sebelumnya-seperti yang ditulis media-Ia menolak memimpin Partai Demokrat Lumajang. Baginya, meminta sebuah jabatan tidak etis dan tanggung jawabnya besar baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang artinya, “Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

Dalam Syarh Riyadhis Sholihin, disebutkan, “sepantasnya bagi seseorang tidak meminta jabatan apapun, namun bila ia diangkat bukan karena permintaannya maka ia boleh menerimanya akan tetapi jangan ia meminta jabatan tesebut dalam rangka wara’ dan kehati-hatiannya, karena jabatan dunia itu bukanlah apa”. Suatu ketika Rasullah SAW, menasehati Abdurrahman bin Samurah RA, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, jangalah engkau meminta kepemimpinan karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah SWT dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karna permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu/ tidak akan ditolong”. (Hadist Riwayat Bukhori). Itulah salah satu dasar dr. Buntaran berkali-kali menolak untuk rebutan ‘kue’ kekuasaan.

Namun, setelah mendapatkan banyak masukan dan berbagai pertimbangan maslahah mafsadahnya (baik buruk), demi kondusifitas partai demokrat serta kebaikan Lumajang kedepan, dr. Buntaran akhirnya bersedia dinobatkan sebagai Ketua Umum DPC Partai Demokrat Lumajang. Dengan demikian, kemunculan dr. Buntaran secara tiba-tiba tidak bisa ‘diremehkan’, tidak diperhitungkan sebelumnya. Ibarat sebuah pertandingan, Mr. Buntaran is The Dark Horse (Bapak Buntaran adalah Kuda Hitam).

Apa itu Kuda Hitam? Kuda Hitam bisa berarti kuda yang bewarna hitam. Namun, secara figuratif berarti seseorang yang semula tidak dijagokan atau tidak diyakini memiliki kemampuan yang hebat untuk memenangkan pertandingan, ternyata akhirnya menjadi juara. Istilah Dark Horse memang sering digunakan di dunia olah raga. Dalam sebuah pertandingan, kuda hitam adalah pemain yang tidak begitu dikenal namun memberikan kejutan dengan menjadi lawan yang tangguh pada pertandingan tersebut. Maka disebutlah Ia dengan istilah kuda hitam. Istilah Dark Horse di luar negeri adalah ungkapan untuk menyatakan seseorang yang memiliki kemampuan rencana dan perasaan tersembunyi sehingga sulit untuk diprediksi dalam suatu pertandingan, namun memilki potensi mengalahkan pemain terhebat. Dark Horse biasanya dianggap pemain yang mengejutkan.

Akankah istilah Dark Horse ada pada dr. Buntaran dalam pemilihan Bupati Lumajang 2018? Bila dilihat dari sekian rentetan yang terjadi tanpa diduga-duga sebelumnya, maka tidak menutup kemungkinan hal itu akan terulang. Mr. Buntaran will be The Dark Horse, akan menjadi pemain yang mengejutkan semua kalangan.

Penulis : *Pimred Pedomanindonesia.com dan Alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep Madura.