!-- Header -->
Kesehatan Lumajang Pendidikan dan Agama

Mulai Ada Sekolah Hentikan Guru Sambang, Belajar Dekat Kandang Sapi

LUMAJANG –  Guru Sambang Siswa yang diberlakukan di Lumajang oleh Dinas Pendidikan, mulai menimbulkan polemik dan masalah. Setelah salah seorang guru SMPN 2 Padang terkonfirmasi covid-19 dan menghentikan program guru sambang siswa (kembali daring),  kini pengehentian Guru Sambang Siwa, juga dilakukan oleh SDN Tompokersan 03, Kecamatan Lumajang. Surat ini beredar di grup WhatsApp.

Hal itu mereka lakukan setelah hasil tes positif covid-19 yang oleh salah seorang guru di sana. Keputusan ini dibuat oleh Kepala SDN Tompokersan 03, Sukaryo, S.Pd dengan disetujui oleh Komite Sekolah di Samsul Hadi, S.Pd, perwakilan paguyuban kelas 2, kelas 4, dan kelas 5.

Keputusan tersebut dikirimkan kepada seluruh wali murid SDN Tompokersan 03 Kecamatan Lumajang. Berikut isi suratnya :

“Sehubungan dengan keputusan rapat Komite dan Paguyuban Sekolah SDN Tompokersan 03 Lumajang tentang hasil tes positif covid-19 yang dilakukan oleh Bu RS, guru kelas, maka dengan ini pelaksanaan guru sambang siswa sementara dihentikan sampai keadaan membaik dan ada pemberitahuan lebih lanjut. Pelaksanaan pembelajaran siswa dilakukan secara daring seperti biasanya”.

Hal yang sama juga dilakukan oleh SMP Negeri 3 Lumajang. Mereka mengirimkan surat Pemberitahuan Kegiatan Guru Sambang pada tanggal 8 Agustus 2020 kepada orang tua wali murid kelas 7, 8, dan 9. Surat tersebut kalimatnya berisi :

“Menindak lanjuti surat pemberitahuan dari bidang Dikdas Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang, pada 4 Agustus 2020 perihal guru sambang, yang intinya guru sambang tidak boleh pada zona merah.

GURU SAMBANG SISWA : Surat pemberitahuan penghentian sementara Guru Sambang Siswa di beberapa sekolah di Lumajang. foto bawah belajar 10 anak/ kelompok. Foto atas guru tak kenakan masker dan siswa siswi duduk berdekatan. RED

Berkaitan dengan hal tersebut disampaikan hal-hal sebagai berikut :

1.  kegiatan guru sambang dihentikan sementara sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan.

2. KBM yang dilaksanakan secara daring/online melalui wa google classroom, Google formulir, dan lain-lain tergantung tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran.

3. Waktu kegiatan KBM daring/online dilakukan sesuai jadwal yang telah diberikan oleh guru pengajar

4. Bila orang tua atau siswa kurang paham tentang tugas yang diberikan dapat menghubungi wali kelasnya atau bapak ibu pengajar

5. Orang tua/ wali murid selalu mendampingi putra-putrinya selama belajar dan memantau kegiatan diluar belajar di dalam rumah”.

Surat tersebut ditandatangani oleh Kepala SMP Negeri 3 Lumajang, Drs. Subari M.Pd. Sayangnya, meskipun banyak para wali murid dan guru yang gelisah mereka tidak bisa menolak. “Karena ini merupakan perintah atasan, Mas. kebijakannya yang terburu-buru salah menjadikan siswa dan guru sebagai sasaran tembak covid-19”, ujar beberapa guru SD yang enggan publikasikan namanya.

Parahnya, pantauan media ini, ternyata tidak semua guru melaksanakan protokol kesehatan. Saat mengajar siswa di rumah mereka tidak mengenakan masker (foto dokumentasi ada). Alasan mereka simpel, tidak nyaman dalam menerangkan dan bicara kepada siswa.

Aturan main maksimal 5 anak dalam satu kelompok, juga masih ada yang melanggar. Bahkan, saat PedomanIndonesia turun ke lapangan di lokasi belajar, ada 10 anak dalam satu kelompok (foto dokumentasi ada di PedomanIndonesia.com). Teori jarak 1 sampai 2 meter juga ada yang mengabaikan (foto dokumentasi pedomanIndonesia.com ada).

Persoalan lain pada guru sambang. Sebagian dari mereka bercerita, bahwa tempat untuk belajar di rumah siswa tidak cukup aman dari sisi kebersihan. Tidak jarang rumah tempat berkumpulnya siswa dalam belajar berdekatan dengan kandang sapi, bahkan tepat berada di sebelah rumahnya/ berdempetan. RED

 

 

Post Comment