!-- Header -->
“Ngopi” Bareng Sekum Parpol Pemenang Pemilu di Lumajang
Lumajang Pemilu 2019 Pileg 2019 Politik & Pemerintahan

“Ngopi” Bareng Sekum Parpol Pemenang Pemilu di Lumajang

Eko Adis  : Saatnya Membangun Lumajang Bukan ‘Gontok-Gontokan’

PEDOMANINDONESIA.COM – Habis taraweh dua hari lalu, PedomanIndonesia.com (PI), berkesempatan ‘ngopi’ (ngobrol politik) ringan terkait pemilu serentak 2019 sambil ngopi bersama Sekretaris Umum DPC PKB Kabupaten Lumajang, Eko Adis Prayoga (EAD), di sebuah rumah makan di Kota Lumajang. Yang diobrolkan seputar kemenangan PKB di Lumajang, pada pemilu 17 April 2019 lalu. Ngopi bersama hanya berlangsung sekitar 1 jam. Berikut petikannya :

PI      : Mas Eko, kelihatannya masih segar bugar, ya?

EAD   : Alhamdulillah, masih sehat. (Dia tersenyum lalu mengambil posisi duduk dan mengawali obrolan ringan di luar masalah politik. ‘Ngopi’ baru dimulai setelah nyeruput secangkir kopi dan mencicipi makanan ringan)

PI      : Mas Eko, pemilu kali ini PKB Lumajang menjadi partai pemenang. Ada yang ingin disampaikan kepada masyarakat atas kemenangan ini?

EAD   : Pertama, saya ingin ucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Lumajang karena telah mempercayakan suaranya kepada PKB. Terutama untuk simpul-simpul partai yang banyak membantu kita kemarin. Dari pengurus struktural, dari NU, jam’iyah NU, poro kiai, pengasuh pondok-pondok pesantren sebagai segmen kita.  Kini PKB Lumajang kembali menjadi pemenang pemilu serentak 2019.

PI      : Apa yang membuat PKB hari ini menjadi partai pemenang?

EAD   : Tentu kemenangan ini bukan ujuk ujuk menang. Kemenangan ini lahir dari konsolidasi, kerja politik yang maksimal sejak jauh hari sebelumnya. Bahkan sebelum pilkada 2018, kita sudah konsolidasi dan menghidupkan mesin partai.

PI      : PKB mengantongi 10 kursi dari 50 kursi yang ada. Apakah 10 kursi ini sesuai dengan target PKB?

EAD   : Sebenarnya target kita 13 sampai 14 kursi. Tapi, dengan pola penghitungan seperti sekarang ini partai besar cukup berat. Partai-partai besar berat mendominasi secara keseluruhan. Hitung-hitungan awal kami sekian suara, ternyata tidak bisa terpenuhi.  Meskipun demikian, kita masih terobati dengan perolehan 10 kursi dan menjadi pemenang pemilu di Lumajang, walaupun belum sesuai harapan.

PI      : Sebenarnya apa faktor utama PKB sehingga meraih kemenangan? Apakah karena faktor caleg, dukungan para kiai, ulama, atau faktor lainnya?

EAD   : Banyak faktor. Ada faktor pemilih tradisional, ada juga faktor di luar pemilih tradisional. Bagaimana partai ini berusaha masuk dan diterima oleh masyarakat di luar segmen pemilih kita yang tradisional itu. Satu sisi kita jaga basis tradisional, di sisi lain kita keluar mencari pemilih di luar itu. Kalau hanya mengandalkan pemilih tradisional kita rugi. Karena jaman ini berubah.  Polanya juga harus berubah. Segmen pemilih yang bukan tradisional kita jaring dan berhasil.

Pemilih tradisional dan menjadi irisan PKB yang saya maksud adalah pondok pesantren, NU dan jam’iyahnya, poro kiai, termasuk kiai-kiai langgar. Kelompok tradisional ini merupakan irisan besar PKB, modal besar PKB. PKB tidak lepas dari ulama, kiai-kiai NU. Apalagi PKB dilahirkan oleh ulama. Nah, di luar itu kita kemudian bergerak menjaring kekuatan lain, mencari irisan-irisan baru. Caranya bagaimana? Kita sampaikan bahwa PKB bisa memenuhi harapan-harapan masyarakat dengan menempatkan kader terbaik di eksekutif sebagai Bupati Lumajang.

PI      : Apa ini bisa diartikan perolehan suara PKB yang paling dominan berasal dari NU, para kiai, atau justeru karena faktor kader PKB yang kini menjadi bupati Lumajang (H. Thoriqul Haq, M. ML/ Cak Thoriq)?

EAD   : Yang jelas semua berperan. Tidak bisa dikatakan ada yang paling dominan. Tapi tidak bisa kita pungkiri, bahwa penempatan kader terbaik di posisi penting di pemerintahan sangat  berpengaruh pada kemenangan PKB. Misalkan, kader kita sekarang sebagai orang nomor satu di Lumajang. Tentu ini membawa dampak besar pada pola pergerakan dan kemenangan PKB.

PI      : Kalau diiris, berapa prosentase peran dan sumbangsih Cak Thoriq untuk PKB?  (Eko Adis Prayoga tertawa renyah kemudian memberikan jawaban diplomatis).

EAD   : Nggak bisa dijelaskan secara gamblang. Kita nggak bisa ngukur seperi apa besar kecilnya irisan itu. Semua tergantung pada pola gerakan kita. Bahwa bupati kita berasal dari PKB, iya. Bupati Lumajang dari PKB memunculkan persepsi positif, bahwa kader PKB itu mampu menjadi pemimpin daerah, dipercaya masyarakat.  Wah, ternyata PKB punya kader terbaik, berasal dari dunia pesantren, punya kemampuan mengelola Lumajang, dan bisa memberikan harapan-harapan besar bagi kemajuan Lumajang. Ini yang kemudian membuat masyarakat memberikan suaranya kepada PKB untuk duduk di legislatif.

PI      : Mas Eko, jumlah perolehan kursi PKB  ada di dapil mana saja?

EAD   : Merata. Mulai dari dapil 1 sampai 5 kita mendapatkan kursi. Masing-masing dapil kita memperoleh 2 kursi. Suara terbanyak di dapil 2 yang notabene dapil itu tempat kelahiran bupati kita, Cak Thoriq. Dapil 2 itu meliputi Yosowilangun, Rowokangkung, Kunir, dan Tempeh.

PI      : Bisa dijelaskan rahasia strategi kemenangan PKB?

EAD   : Iya. Kita banyak melakukan konsolidasi. Konsolidasi internal dan konsolidasi keluar, menyatukan simpul-simpul kekuatan PKB. Semuanya bergerak. Tidak hanya mengandalkan kekuatan caleg. Mesin partai dihidupkan. Patron politik yang menjadi rujukan adalah para kiai. Kita kombinasikan semuanya. Kami bekerja bersama dan sama-sama bekerja untuk PKB.  Di PKB tidak ada Superman. Yang ada team work. Kerja bersama. Nggak ada calon dominan. Semuanya bekerja. Itu yang menjadi kunci kemenangan PKB.

PI      : Dalam waktu dekat apa yang akan dilakukan PKB?

EAD   : Kita menunggu pelantikan. Waktu terus berjalan. Kita baru bisa mulai bekerja pasca pelantikan. Tentu, sebagai partai pemenang kita sudah harus merencanakan siapa yang bakal dipasang sebagai Ketua Dewan, pimpinan komisi, fraksi, dan seterusnya. Karena sesuai aturan, partai pemenang pemilu menjadi Ketua Dewan. Kita harus menata mulai sekarang siapa kader PKB yang dinilai layak duduk sebagai pimpinan dewan. Kader yang sekiranya bisa menjaga marwah partai dan mampu berkomunikasi dengan semua kekuatan di dewan.

PI      : Di internal PKB sendiri apakah ada mekanisme untuk menjadi ketua dewan?

EAD   :  Untuk menjadi ketua dewan dan mengisi posisi posisi lain di dewan, PKB punya aturan sendiri. Ada ukuran-ukuran yang menjadi bahan pertimbangan. Misalnya track record, kemampuan intelektualitasnya, senioritas, pengalaman, dan besar kecilnya perolehan suara. Semua akan menjadi pertimbangan dan kewenangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB. DPP secara mutlak memutuskan siapa yang dianggap layak menjadi pimpinan dewan setelah mendengar masukan dari bawah, DPC.  

PI      : Berarti posisi Ketua Dewan ini akan menjadi perebutan ‘panas’ di internal PKB? (Mantan aktivis mahasiswa Jember ini kembali tertawa).

Ketum dan Sekum DPC PKB Lumajang, Anang dan Eko Adis. (dok)

EAD   : Tidak ada istilah itu (panas) di PKB Lumajang. Dari awal kami sudah berkomitmen meninggalkan cara-cara konvensional dan perdebatan yang tak pernah selesai. Kita tidak memakai sistem voting maupun penunjukan. Yang dikedepankan adalah musyawarah, sehingga keputusan yang diambil tidak membawa dampak negatif bagi partai, apalagi menjadi konflik berkepanjangan. Ketika sudah diputuskan dengan musyawarah mufakat semuanya harus menerima. Yang bisa kita lakukan hanya mengusulkan nama-nama calon pimpinan dewan kepada DPP PKB. Selanjutnya mereka yang memutuskan.

PI      : Seperti kita ketahui, di Lumajang hubungan antara eksekutif dan legislatif sempat renggang dan tegang. Kedepan,  ketika PKB menjadi Ketua Dewan ada jaminan hal itu tidak akan terulang kembali?

EAD   : Harapannya, pengalaman-pengalaman itu tidak terjadi lagi di masa kepemimpinan ini.  Karena semua pihak dirugikan. Partai dirugikan, masyarakat dirugikan, eksekutif dan legislatif dirugikan. Dengan tidak sinerginya eksekutif dan legislatif, maka pembangunan jalan di tempat. Eksekutif dan legislatif ini ukuran bisa tidaknya program pembangunan dilaksanakan. Persepsinya harus disamakan. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Saya yakin masa lalu tidak akan terjadi lagi. Tinggal bupati kita yang notabene juga kader PKB untuk bisa bersinergi.

PI      : Bisa dicontohkan seperti apa polanya?

EAD   : Kuncinya komunikasi. Harus kita sadari, PKB yang hari ini menjadi pemenang pemilu bukan single majority. Masih ada kekuatan lain yang bisa ‘bermain’. Maka dari itu, komunikasi intensif harus dibangun. Kita komunikasikan dengan fraksi-fraksi, dengan komisi komisi yang ada di internal dewan. Sehingga apa yang menjadi harapan dari masing-masing fraksi dan masyarakat bisa dikerjakan dengan baik. Tidak boleh ada lagi salah parpol yang merasa paling menang, merasa paling besar, dan egois sehingga menimbulkan kecemburuan.

PI      : Ada closing stament dan harapan untuk masyarakat Lumajang?

EAD   :  Ya. Untuk masyarakat Lumajang, sakali lagi saya sampaikan terima kasih karena sudah memberikan kepercayaan dan amanah kepada PKB. Selaku pengurus parpol pengusung Cak Thoriq, kami akan mengawal kebijakan pemerintah yang tertuang dalam visi-misi beliau. Kita pahami bersama, apa yang dicanangkan bupati bersama wabup banyak membantu.

Kalau memang ada yang harus diluruskan harus kita luruskan. Ada check and balance eksekutif dan legislatif. Artinya, dalam bekerja kita tetap proporsional. Yang terpenting adalah, bagaimana membawa Kabupaten Lumajang ini lebih maju, lebih hebat, lebih bermartabat dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain. Kita optimis akan ada percepatan pembangunan di bawah kepemimpinan saat ini. Terima Kasih. (REDAKSI)

 

Post Comment