Advertisement
!-- Header -->
NU – Muhammadiyah Ajak Masyarakat Tenang Pasca Pilpres 2019
Suara Redaksi

NU – Muhammadiyah Ajak Masyarakat Tenang Pasca Pilpres 2019

LUMAJANG – Saling klaim antara Kubu Prabowo dan Jokowi menenangkan Pilpres RI 2019, membuat organisasi Islam terbesar di Indonesia (NU dan Muhammadiyah) angkat bicara.

Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, di Kantornya Yogyakarta, kemarin, meminta kepada dua kontestan dalam Pemilihan Presiden 2019 untuk menjaga suasana kondusif saat penghitungan suara. Kedua pasangan calon presiden RI itu juga diminta agar tidak membuat pernyataan kontroversial saat proses penghitungan suara.

Masyarakat pendukung juga diminta kembali ke aktivitas seperti biasa dan tetap menjaga kerukunan dan persatuan bangsa.

Sebenarnya, tidak disuruh pun masyarakat sudah kembali dan sibuk dengn aktivitasnya masing masing. Yang tukang becak kembali mengayuh becak, yang tukang sapu kembali menyapu, tukang sol sepatu kembali menjahit sepatu pelanggannya, yang guru kembali mengajar, yang petani kembali mencangkul, yang nelayan kembali melaut, yang PKL kembali ke titik titik lokasi semula dimana mereka mengais rejeki. Bahkan yang biasa berprofesi sebagai “pengacara” (pengangguran tanpa ada acara) juga masih bertahan sebagai “pengacara”.

Justeru yang perlu diingatkan adalah para elit politik, para orang-orang pintar, para komentator, ulama/ kiai/ pemuka agama, habaib, agar statmennya menyejukkan dan mencerahkan. Bukan sebaliknya.

PWNU Jatim juga sama. Masyarakat diminta menunggu hasil resmi dari KPU. Kemarin, melalui Ketuanya sendiri, KH Marzuki Mustamar, saat Konferensi Pers di Kantor PWNU Jatim, Jalan Masjid Al-Akbar Timur No.9 Surabaya, menyampaikan, meskipun banyak yang mengeluarkan hasil hitung cepat,  masyarakat diajak tenang menunggu hasil final resmi dari KPU.

Keputusan KPU dinilai sebagai keputusan pemilu hasil pilihan rakyat Indonesia. “Percayakan kepada KPU yang akan mengumumkan hasil pemilu berdasar seluruh TPS yang ada” begitu kata beliau.

Menariknya, PWNU Jatim menyatakan akan menerima apapun hasil dari Pemilu 2019 ini. Kini tinggal KPU yang benar-benar harus menjalankan tugasnya sesuai dengan aturan dan tidak mencoba main-main.

Ratusa juta mata “mlototi” kinerja KPU. Integritas KPU sebagai penyelenggara pemilu menjadi taruhannya. Semoga hasil Pilpres kali ini betul-betul menghasilkan pemimpin yang merakyat dan mampu menjadikan Indonesia yang Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghofuur (negeri yang subur dan makmur, adil dan aman).

Apa itu BaldatunThayyibatun wa Rabbun Ghafuur?

Pertama, Ulama harus berilmu dan menjadi tempat bertanya bagi ketiga unsur lainnya dan mau belajar ilmu agama.

Kedua,  Umara atau pemimpin harus adil tidak membeda-bedakan rakyatnya.

Ketiga,  orang kaya dermawan yang suka bersedekah kepada yang membutuhkan.

Keempat, orang fakir hendaknya selalu berdoa untuk ulama, umara dan orang kaya, karena golongan ini do’anya lebih makbul. Semoga.(REDAKSI)