Advertisement
!-- Header -->
Ekonomi Komunitas Lumajang

Pandemi Membawa Berkah, Permintaan Samiler Singkong Meningkat

LUMAJANG – Himbauan pemerintah agar masyarakat bekerja dan belajar di rumah selama pandemi global covid-19, ternyata berdampak positif bagi warga Sidomulyo, Lumajang. Pasalnya, warga yang beraktifitas di rumah membutuhkan cemilan atau kudapan, sehingga permintaan Samiler Singkong meningkat.

Jumiatin, salah satu pemilik Samiler Singkong, asal Jalan Merpati RT 17, RW 04, Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, menyampaikan, pesanan kudapan ringan meningkat sejak tiga bulan lalu. Permintaan dari konsumen langsung dan sejumlah pedagang bisa terpenuhi dengan menambah bahan baku.

Mama Hilyah, anak Jumiatin, memaparkan, Samiler Singkong yang di buatnya berukuran sedang. Cemilan ini kerap menjadi sajian seperti kerupuk. Pada kondisi normal, permintaan berasal dari warung, sedangkan selama masa pandemi Covid-19, permintaan  merembet ke rumah-rumah.

Menurutnya, hal ini terjadi karena warga masyarakat banyak memilih tinggal di rumah (stay at home), sehingga konsumsi cemilan diminati.

Sekali peroses pembuatan, Ibu dari satu orang anak ini memproduksi 50 kilogram singkong. Namun, banyaknya permintaan membuat dia memproduksi hingga sekitar 70 kilogram perhari.

Dia tidak merasa kesulitan untuk mendapatkan bahan berupa singkong. Mengingat, di kampungnya sendiri banyak petani salak dan singkong.  Bahan bakunya bisa beli di kampung sendiri dan sudah sangat memadai.

BERKAH PANDEMI : Masa Pandemi Covid-19 justeru membuat pesanan Samiliar Singkong semakin meningkat. RED

“Ya, hitung-hitung kita sama sama membutuhkan. Apalagi  pertanian singkong di sini sangat bagus dan kualitasnya, pun terjamin”, ujarnya.

Untuk pemasaran dia mengaku  lewat online. Tidak tanggung-tanggung, seringkali pesanan itu datang dari Bali dan Surabaya. Meskipun yang diorder belum banyak.

“Soalnya baru lewat pos saja. Kalo orderan banyak cuma di daerah Lumajang sini aja dan daerah Malang yang sekali kirim bisa mencapai 50 kilogram”, pungkasnya. Menariknya, dia membuat Samiler Singkong tanpa ada bahan pengawet.

“Pembuatan Samiler Singkong dengan cara tradisional tanpa bahan pengawet. Namun karena singkongnya sangat bagus dan bisa di simpan cukup lama hasilnya renyah saat digoreng”, ujar wanita kelahiran tahun 1988 ini saat berbincang ringan dengan Tim Lipsus PedomanIndonesia.com, Selasa (24 Nopember 2020).

“Sampai saat ini saya terus menekuni usaha Samiler”, paparnya. Karena usahanya semakin berkembang, dia mulai menarik beberapa ibu rumah tangga untuk bekerja di tempatnya. Ada dua orang pekerja. Mereka bekerja sesuai dengan tupoksinya masing-masing.

Dijelaskan, Samiler Singkong yang selesai dijemur akan dikemas dengan ukuran setengah kilogram. Per setengah kilogram dibandrol seharga Rp. 8.000,- untuk yang pedas dan Rp Rp 7.000,- ribu untuk yang gurih.

Konsumen kerap membeli dengan jumlah banyak untuk cadangan selama di rumah. Terlebih Samiler yang sering dijual di sejumlah kantin sekolah tidak bisa di peroleh sejak beberapa bulan terakhir ini.

Samiler Singkong yang dibuat dengan ukuran sedang-agar tidak terlalu keras dan harga lebih hemat-bisa digoreng untuk cemilan ketika acara santai bareng keluarga. Dibuat dengan varian pedas dan gurih.

Samiler Singkong bisa di manfaatkan sebagai alternatif lauk saat makan nasi”, imbuhnya seraya menambahkan, bila ingin coba-coba merasakan Samiler Singkong bisa pesan langsung ke Mbak Miatin Sakiler, Nomer Kontak 088227198410. (TIM LIPSUS)

Post Comment