!-- Header -->
Para Ketum dan Sekum Parpol “Rontok”
Lumajang Pileg 2019 Politik & Pemerintahan

Para Ketum dan Sekum Parpol “Rontok”

LUMAJANG – Dalam dunia politik terkadang tidak mengenal senior atau junior, pendatang baru atau orang lama, pengurus parpol atau anggota, berpendidikan tinggi atau rendah khusunya dalam pecaleg kan.

Siapa yang pintar adu strategi dan taktik (stratak) serta mengeruk banyak suara, dialah yang bakal jadi pemenangnya. Apalagi, saat ini sistem yang dipakai suara terbanyak, bukan berdasarkan nomor urut. Siapa yang suaranya terbanyak di daerah pemilihannya, dialah yang berhak menjadi anggota legislatif.

Di Lumajang, Jawa Timur, misalnya. Beberapa Ketua Umum dan Sektraris Umum Partai Politik, tahun ini ikut bertarung memperebutkan kursi dewan. Namun “dewi keberuntungan” belum memihak kepada mereka. Para petinggi parpol ini harus menerima kenyataan dan bersabar untuk 5 tahun kedepan bila ingin bertarung kembali.

Berikut adalah nama – nama petinggi parpol yang terpental/ gagal menduduki kursi “empuk” selama 5 tahun kedepan (sesuai Rekapitulasi Penghitungan Perolehan Suara Pemilu 2019 di Kabupaten Lumajang oleh KPU) selama 3 hari :

1. Sujatmiko, SH, MH, Ketua DPD Partai Golkar Lumajang daerah pemilihan 5. Dia memperoleh suara 2.808.

2. Sekretaris Partai Demokrat Lumajang, Muhammad Sofi, dapil 5. Jumlah perolehan suaranya hanya mencapai 783. Sofi pernah merasakan “kursi empuk” DPRD Lumajang tahun 2009 – 2014.

Pada pemilu 2014 dia nyaleg lagi, namun gagal. Pada pemilu serentak 2019, Sofi kembali mencalonkan diri sebagai anggota dewan. Tapi lagi lagi terpental, bahkan suaranya tidak signifikan.

3. Sekretaris Partai Gerindra Lumajang, Zulkifli, S.Pdi. Pria yang biasa dipanggil Gus Bagong menjadi caleg dapil 5, nomer urut 1. Gus Bagong berhasil meraup 2.945 suara tapi tak mampu mengdongkraknya ke “Wonorejo”.

4. Sekretaris Umum DPC PPP Lumajang, Haji Saiful Adi, SH, daerah pemilihan 5. Dia hanya mampu memperoleh suara 1.491. Sebelumnya (periode 2009 – 2014) dia menjadi anggota DPRD Lumajang dari PKB. Kemudian pindah ke PPP.

5. Mochammad Subhan S.Pd, MM, Ketua NasDem, dapil 1. Dia hanya mampu mendulang suara 3.410. Suaranya tertinggal dengan caleg dari parpol lain yang sedapil.

Saat bergabung dengan PKB, Subchan berhasil menjadi anggota dewan Lumajang selama 2 periode. Setelah gagal sebagai anggota dewan dari PKB, dia melompat ke Partai NasDem, bahkan menjadi Ketua Umum NasDem Lumajang hingga sekarang.

Sayang nya, kursi dewan masih “enggan” diduduki kembali oleh Subhan. Mantan Ketua Umum PC GP Anshor Lumajang ini harus legowo tetap menjadi Ketua Umum NasDem tanpa ada tambahan jabatan sebagai anggota dewan.

6. Sekretaris PDI Perjuangan, Solikin, SH. Dia berangkat sebagai caleg PDIP dapil 2 nomer urut 1. Sebenarnya perolehan suara Solikin cukup tinggi, yakni 6.688. Namun karena masih berada di bawah Yudha Adhi Kusuma, SH (nomer urut 5 dengan perolehan suara 7.129), maka Solikin terpental.

Yudha Adhi Kusuma merupakan putra Agus Yudha Wicaksono (Ketua DPRD Lumajang dan Ketua DPC PDI-P Lumajang) yang sama-sama bertarung di dapil 2. Yudha merupakan pendatang baru yang langsung suaranya melejit dan mengalahkan para seniornya di PDIP.

7. Ketua Umum Partai Hanura, Eni Sunarni, dapil 5 nomor urut 1. Srikandi yang masih aggota DPRD Lumajang periode 2014 – 2019 ini memperoleh suara 3.324. Suaraya masih dibawah caleg lain yang sedapil. Dia harus menerima kekalahannya dan tulus kursinya di dewan diduduki orang lain.

8. Agus Suherman, SH, Sekretaris Umum Partai NasDem, dapil 4. Dia mendapatkan suara 3.494. Sehingga di dapil ini, partai yang didirikan Surya Paloh ini tidak memiliki wakil di dewan Lumajang.

9. Fahrul Hasan, Ketua PSI Lumajang, dapil 3 nomor urut memperoleh 266 suara

10. Bahrul Ulum, Sekretaris PSI Lumajang, dapil 5 nomor urut 2 dengan perolehan suara dibawah 50.

11. Sekretaris PBB Lumajang yang juga mantan Komisioner KPU, Ir. Hery Sugiharto, dapil 1 nomor urut 1, mengantongi 150 suara.

12. Ketua Partai Berkarya, Mawardi. Partai ini masih baru dan tidak lolos untuk mengikuti pemilu berikutnya. Mawardi nyaleg di dapil 4 nomor urut dengan perolehan suara 132.

Apakah karena partai yang didirikan Tommy Soeharto (Putra alm. Soeharto Presiden RI) ini masih baru atau karena calegnya tidak total bergerak, yang jelas Mawardi hanya mampu memperoleh 132 suara. Pun dengan Sekumnya, Zainol Abidin yang menjadi caleg dapil 1 nomor urut 1. Suaranya tidak signifikan dan harus rela memberikan “kursi empuk” DPRD Lumajang kepada caleg lain.

Itulah nama-nama Ketum dan Sekum parpol di Kabupaten Lumajang yang belum bisa duduk (kembali) sebagai wakil rakyat untuk 5 tahun kedepan.DIN