Advertisement
!-- Header -->
Ekonomi Komunitas Lumajang

Pengerajin Batok Kelapa Justru Muncul di Tengah Pandemi

LUMAJANG – Covid-19 membuat perekonomian Indonesia sedikit banyak mengalami gangguan, termasuk pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) di Kabupaten Lumajang. Dengan modal yang tidak begitu besar mereka harus berjuang antara melanjutkan usahanya atau berhenti di tengah jalan.

Berbeda dengan pelaku UMKM khususnya yang bergerak di sektor pemanfaatan barang berserakan, batok kelapa. Usaha batok kelapa menjadi barang jadi berupa pot bunga, celengan, asbak, dan lainnya justru muncul dan berkembang di masa pandemi covid-19.

“Siapapun kena dampak covid-19. Terutama kawan kawan yang bekerja di sektor swasta”, ujar Achmad Djohari Irianto, penggagas dan pelaku kerajinan batok kelapa, saat ngobrol santai bersama PedomanIndonesia.com.

Pria yang tinggal di Jogoyudan Lumajang ini menceritakan ide batok kelapa menjadi pot bunga dan kerajinan lainnya sudah terbesit sejak lama. Namun, karena kesibukannya, ide tersebut hanya simpan dalam otaknya.

Baru setelah ramai covid-19 dan aktivitas masyarakat menurun, lebih banyak di rumah, dan perekonomian kembang kempis, ide untuk membuat kerajinan batok kelapa mulai dilakoni. Menariknya, gagasan cemerlang ini juga terinspirasi dengan banyaknya batok kelapa berserakan di Ranuyoso.

“Hampir tiap hari saya melihat batok berserakan di daerah Ranuyoso dan tidak ada yang ngambil. Menurut saya ini peluang dan bisa jadi uang”, ungkap pria yang masih bekerja sebagai Pendamping di KPM PKH Kecamatan Ranuyoso ini.

Karena dirinya tidak mungkin memungut sendiri batok-batok kelapa yang berserakan itu akhirnya dia melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar. Mereka diajak untuk mengumpulkan batok batok kelapa tersebut dengan harga yang sudah ditentukan. Semakin banyak mereka mengumpulkan batok kenapa tersebut maka akan semakin banyak uang yang akan mereka terima.

PENGERAJIN BATOK KELAPA : Pandemi covid-19 tidak menyurutkan pengerajin batok kelapa untuk terus berkreasi dan bertahan dari himpitan ekonomi. Foto Djohari di rumahnya. RED

Gagasan segar ini diterima oleh masyarakat, terutama mereka yang sudah berusia dan ingin mendapatkan penghasilan. Mereka antusias mencari dan menyetor batok kelapa tersebut ke Djohari.

Ratusan, bahkan ribuan batok ini tidak digarap sendiri oleh dia. Djohari merangkul dan bermitra dengan pengrajin batok yang mau bekerja sama dengan dia. Karena sama-sama mendapatkan keuntungan yang layak, maka Yusuf dan Ika sebagai pengerajin, menyambut baik kemitraan yang ditawarkan Djohari.

“Batok yang sudah kita beli dari masyarakat kemudian kita kirimkan ke pengrajin sebagai mitra. Di mereka inilah batok-batok kelapa ni di bentuk sesuai dengan keinginan pembeli sampai jadi. Lalu kita beli sesuai standar harga yang disepakati. Finishing ya…. tetap disini. Misalnya menghaluskan, merapikan sampai batuk ini benar-benar sudah dah ready untuk dijual”, papar alumni Widyagama Lumajang ini.

Sistem kemitraan yang diterapkan Djohari bertujuan untuk memperlebar peluang kerja. Bila hanya dia sendiri yang menggarap, finishing, dan memasarkan, maka peluang kerja bagi orang lain akan tertutup.

Suami Dwi Puspita ini, menuturkan, setiap seminggu sekali batok-batok kelapa ini dia ambil dengan pick up di lokasi yang sudah ditentukan. “Setelah sekitar 1 pick up kita ambil. Tapi kalau kebutuhan mendesak, gak sampai 1 pick up kita ambil meskipun dengan sepeda motor”, ujarnya.

Setiap hari si pengerajin ini mampu memproduksi 70 pot bunga batok. Mereka terus memproduksi bukan berdasarkan pesanan. Ini diakukan agar tidak kewalahan bila ada pesanan dalam jumlah banyak. “Sifatnya ready stock. Setiap hari mereka memproduksi. Lagian, biaya produksinya kan tidak terlalu besar,” tutur ayah tiga anak ini (Jibran, si kembar Gibran dan Gilang).

Kemana saja target pasar dan bagaimana cara memasarkan batok kelapa ini? Menurut Mas Djo, panggilan karibnya, awalnya pot batok kelapa ini dipasarkan di Kabupaten Lumajang dengan memanfaatkan medsos dan datang langsung ke kios-kios bunga.

“Namun ternyata, Alhamdulillah yang banyak pesan justeru dari luar Kabupaten Lumajang seperti Malang, Jember Magelang, Bandung, Jakarta, bahkan Kalimantan,” pungkas pria kelahiran Lumajang, 10 Januari 1982 ini dengan wajah sumringah.

Kini permintaan pembeli semakin beragam. Tidak hanya pot bunga yang dipesan, tapi merembet ke yang lain. Misalnya celengan, asbak, cangkir, ceret, pot karakter hewan/ binatang yang lucu-lucu, dan lainnya.

“Akhirnya kita mengikuti alur pasar. Apa yang mereka inginkan kita kerjakan. Selama bisa dilakukan ya kita layani”, selorohnya.

Laki-laki yang kini tinggal di Jalan Ciliwung No. 9, Kelurahan Jogoyudan, Kecamatan Lumajang ini, memaparkan tentang kelebihan pot batok garapannya bersama pengerajin.

Kelebihan yang dimaksud antara lain : klasik, mampu, air yang ada di pot mudah terserap batoknya, tidak mudah lapuk, tidak mudah dimakan raya, dan tidak lumutan. Satu lagi, harganya standar dan gak dibatasi. Berapapun kita layani”, imbuhnya seraya memperlihatkan beberapa hasil produksinya.

Bila ada yang ingin menjadi reseller maupun memesan langsung bisa menghubungi nomer HP nya di 085233709383. (Djohari Irianto). “Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, silahkan dipastikan dulu. Jangan langsung transfer sejumlah uang”, imbuhnya berpesan. RED

Post Comment