!-- Header -->
Penyakit TBC Bisa Mematikan, Dinkes Lumajang Gelar Sosialisasi
Kesehatan

Penyakit TBC Bisa Mematikan, Dinkes Lumajang Gelar Sosialisasi

LUMAJANG, PEDOMANINDONESIA.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes ) Kabupaten Lumajang, menggelar Sosialisasi Penyakit TBC, di Aula Dinkes, Jum’at (27/4) siang. Hadir dalam acara ini seluruh dokter swasta se-Kabupaten Lumajang.

Dokter Bayu Wibowo, Sekretaris Dinkes Kabupaten Lumajang, menyampaikan, penyakit TBC merupakan masalah besar dan harus ditangani secara serius. “Saya katakan masalah besar karena jumlah yang diperiksa masih di bawah target. Target nasional penderita TBC sebesar 30 persen, sementara yang diperiksa masih dibawah itu“, ujarnya.

Siapa yang diperiksa? Yang diperiksa adalah orang yang disebut sebagai tersangka TBC. Setiap orang yang mengalami batuk lebih dari 2 minggu berarti tersangka TBC. “Itu yang diperiksa. Setelah dan diperiksa dan dipastikan sebagai tersangka TBC, maka langkah berikutnya adalah memeriksa dahaknya di puskesmas. Kemudian puskesmas  yang memeriksa tersangka ini membuat surat rujukan ke Puskesmas Pusat Rujukan Miskroskopik”, ungkapnya. Dari alat inilah nantinya bisa dipastikan apakah tersangka tersebut positif atau negatif penderita TBC.

Dijelaskan, ada tiga macam dahak yang periksa. Ada dahak tengah malam, pagi hari, dan dahak sewaktu. Jika pemeriksaan dahaknya selama 3 kali negatif bukan TBC, maka dipertimbangkan di rontgen paru-paru. “Kenapa harus begitu? Karena penderita TBC diobati minimal selama 6 bulan. Yang dua bulan obatnya diminum secara terus menerus dan yang 4 bulan obatnya diminum seminggu 3 kali. Selama 6 bulan pula si penderita terus diawasi agar berhasil. Kalau gagal diobati akan mengancam dirinya sendiri dan orang di sekitarnya, karena penyakit ini menular”, ungkapnya.

Dijelaskan, sukses pengobatan penderita TBC bisa diukur. Misalnya, pada saat pengobatan  awal positif 60 % maka diakhir pengobatan juga harus 60 %. Di Lumajang sendiri, tingkat keberhasilan pengobatan penyakit TBC sekitar 90 %.  Data penderita penyakit TBC di Lumajang tahun 2017 mencapai  1.401. Pada tahun 2018 tri semester pertama sudah mencapai 320 an penderita. Oleh karena itu, target pengobatan tersangka harus melibatkan seluruh pihak. Mulai dari pihak puskesmas,perawat, bidan, dokter praktek swasta, dokter di puskesmas, harus tertatar dan tersosialisasikan.

Dokter Bayu menjelaskan, penyakit TBC disebabkan kuman yang bernama mycobacterium tuberculosis dan gejalanya adalah batuk selama 2 minggu. Bila sudah terjangkit TBC, maka pengobatannya membutuhkan waktu selama 6 bulan. Bahayanya, penyakit TBC bisa menyerang siapapun (anak kecil, orang dewasa, lansia) dan menular.

“Lebih berbahaya lagi bila orang-orang yang ada di sekitarnya tertular. Makanya, bila ada penderita TBC maka minimal ada 15 orang sekitar yang juga ikut dilacak dan diperiksa untuk memastikan yang bersangkutan tertular atau tidak”, tukasnya.

Dia mengingatkan, pemberian obat (antibiotik) yang salah terhadap penderita TBC akan membahayakan dan merubah penyakit TBC yang kebal terhadap semua obat. Kalau sudah begitu, maka si penderita harus disuntik setiap hari selama 4 bulan. Masih menurut dr. Bayu, penyakit TBC ini termasuk penyakit kronis (menahun) yang menyerang paru-paru secara pelan-pelan. Kalau pengobatannya terlambat, maka si penderita bisa meninggal dunia karena paru-paru nya sudah tidak berfungsi lagi.

“Penyakit menahun ini menular secara langsung lewat dahak dan batuk. Agar tidak mudah menular, maka disarankan agar penderita menggunakan masker”, ungkapnya. Dia menambahkan, di Lumajang, target bebas penyakit TBC adalah 10 % dari tersangka TBC. Sementara target pengobatannya harus 100 % tuntas. Pencegahan penyakit TBC bisa dilakukan dengan cara pemberian imunisasi BCG terhadap semua bayi (sekali saja). SYAM