!-- Header -->
Pendidikan dan Agama

Perceraian Menurun di Masa Pandemi

BANYUWANGI – Selama kurun waktu 7 bulan masa pandemi angka perceraian di Banyuwangi tercatat menurun dibanding tahun sebelumnya. Dari catatan data Pengadilan Agama Banyuwangi, terungkap kasus penurunannya hingga 50 persen.

Panitera Pengadilan Agama Banyuwangi, Drs Subandi mengatakan, sejak Maret hingga  Selasa (22/9/2020), tercatat ada 2.673 kasus perceraian. “Bila dibuat rasio yang sama angka itu lebih kecil, tahun kemarin ada 4.491,” ungkap Subandi pada PedomanIndonesia.com di ruang kerjanya.

MENURUN : Angka perceraian masa pandemi di Banyuwangi, menurun. Suasana di PA dan Subandi (foto : kiri). WAN-RED

Menurutnya, banyak faktor yang mempengaruhi penurunan ini. Pertama karena imbas corona yang melumpuhkan semua sektor. Kedua bisa jadi masyarakat Banyuwangi sudah mulai sadar, dari pada bercerai lebih baik rukun lagi.

Lebih lanjut, Subandi mengatakan alasan ekonomi dan perselingkuhan menjadi penyebab utama maraknya kasus perceraian di Banyuwangi. Tercatat kasus tertinggi berada di Kecamatan Muncar, sedangkan yang terendah berada di wilayah kota.

“Gugatan banyak dilayangkan oleh pihak perempuan. Rata-rata karena nafkahnya ditelantarkan suami. Selanjutnya akibat adanya pihak ketiga atau perselingkuhan,” tandasnya.

Subandi berharap agar masyarakat Banyuwangi bisa lebih bijak dan tidak gegabah dalam memutuskan untuk bercerai. Karena dampak perceraian ini sungguh luar biasa. Selain berdampak kepada pendidikan dan psikologi anak juga pada ekonomi.

“Ketika ada persoalan dalam rumah tangga duduk bersama dan diselesaikan secara baik-baik. Dulu bisa kenapa sekarang tidak. Bagaimanapun keluarga adalah segala-galanya,” imbaunya. WANRED

Post Comment