!-- Header -->
Komunitas Pariwisata Peristiwa

Perjuangan Pak Abdul Rohim Memelihara Situs Duplang

JEMBER –  Bukan pekerjaan mudah untuk menjaga dan memelihara benda-benda cagar budaya berupa batu kenong, menhir, dan dolmen di Situs Duplang dan kawasan Kamal, Arjasa, Jember. Selain harus merawat benda-benda cagar budaya, dia juga harus mengamankan mereka dari para pencuri, selain menjelaskan fungsi benda-benda itu kepada pengunjung. Pak Abdul ROHIM (nama panggilan Pak Darman), juru pelihara (jupel) Situs Duplang, belajar memahami keberadaan benda-benda cagar budaya itu dari praktik di lapangan bersama arkeolog  Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Trowulan (sekarang Balai Pelestarian Cagar Budaya), Pak Budi, pada tahun 1987.

Pak Darman menyampaikan hal itu ketika berdiskusi dengan pengurus Dewan Kebudayaan Jember (DeKaJe) dan peneliti dari Community for Advanced Humanities Studies (coHumaniS) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember di rumahnya, di kawasan Situs Duplang, 12/7/2021. Dalam diskusi yang berlangsung secara akrab dari selepas Dzuhur hingga selepas Ashar itu, ia mengutarakan pengalaman selama menjadi jupel.

Tahun 1985 ketika pertama kali ditunjuk menjadi jupel Situs Duplang, benda-benda cagar budaya di kawasan Kamal Arjasa banyak diincar oleh para pencuri untuk dikirim ke Bali. Berulangkali Pak Darman mengetahui adanya pencurian dan melaporkan ke pihak kepolisian. Bukan soal mudah, karena para pengepulnya merupakan jaringan yang rapi. Menurut catatannya, dari 3000 lebih benda cagar budaya kawasan Duplang yang didata Balai Trowulan, kini sudah banyak yang hilang. Di luar situs Duplang, saat ini hanya ada sekira 50 benda. Sesuatu yang cukup menyedihkan Pak Darman.

Yang menyedihkan, masih ada saja pihak yang berusaha mengambil keuntungan dari perjuangan Pak Darman. Pada tahun 1990an, seseorang meminjam SK dari Balai Trowulan terkait jabatannya sebagai jupel dan tidak pernah mengembalikannya. Akibatnya, ia tidak bisa diangkat menjadi PNS dan hanya menjadi jupel dengan honor. Sementara pihak yang meminjam SK itu diangkat menjadi PNS. Meskipun demikian, Pak Darman tetap bertahan dengan pekerjaannya. Untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, ia dan istrinya memelihara sapi.

Meskipun memelihara sapi, Pak Darman tidak pernah mengabaikan tugasnya sebagai jupel situs. Sehari-hari, setelah menjalankan sholat Subuh, ia bergegas membersihkan kawasan situs dengan senang hati. Setelah semua pekerjaan rutin itu selesai, baru ia berangkat mencari rumput untuk hewan ternaknya. Setelah cukup mendapatkan rumput, ia pun kembali ke rumah. Kalau ada pengunjung situs, Pak Darman pun siap memberikan penjelasan yang dibutuhkan.

SITUS DUPLANG : Pak Abdul ROHIM nama panggilan Pak Darman (foto tengah), juru pelihara (jupel) Situs Duplang. Foto dok. Dr. Ikhwan Setiawan. RED

Apa yang sekarang dipikirkan oleh lelaki yang berumur sekira 83 tahun ini adalah nasib benda-benda cagar budaya yang berada di luar situs. Posisinya yang menyebar di lahan perhutani dan penduduk sangat rawan dicuri. Sementara, untuk memindahkan juga bukan persoalan mudah karena membutuhkan diskusi lebih lanjut dengan BPCB Trowulan dan Disparbud terkait izin serta  membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“DeKaJe berkomitmen untuk selalu berkonsultasi dengan Pak Darman selaku jupel terkait kegiatan yang akan dilakukan. Selain itu, ke depan, apapun bentuk pengembangan kawasan, Pak Darman dan keluarga serta warga masyarakat harus dilibatkan agar kegiatan  pelestarian lebih jelas dan bermanfaat untuk komunitas,” tutur Eko Suwargono, Ketua DeKaJe.

Menurut Ikwan Setiawan, peneliti coHumaniS, Situs Duplang dan kawasan sekitarnya bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata yang memadukan kekayaan benda-benda carga budaya, ragam budaya masyarakat dan keindahan alam.

“Model wisata ini bisa memberi keuntungan untuk usaha pelestarian benda-benda cagar budaya serta memberikan dampak pada pemajuan budaya masyarakat, tanpa meninggalkan aktivitas konservasi lingkungan”, paparnya.

Sebenarnya DeKaJe bekerjasama dengan coHumaniS sudah mendesain sebuah acara tentang kepurbakalaan, budaya, dan komunitas di kawasan ini. Tujuan utamanya adalah memberikan edukasi kepada generasi muda terkait ragam benda cagar budaya di Duplang dan sekitarnya. Selain itu, akan dibuat event kultural berbasis budaya lokal. Pak Darman selaku jupel menyambut baik dan merestuinya. Sayangnya, pandemi menyebabkan acara itu harus ditunda terlebih dahulu. Karena tidak mungkin mengumpulkan pelaku budaya dan warga di tengah PPKM saat ini.RED

 

Post Comment