!-- Header -->
Ekonomi Lumajang

Pilih Prioritas Yang Akan Dikembangkan di Lumajang

LUMAJANG – Investasi itu penting terutama bagi kabupaten yang sedang berkembang, termasuk di daerah Lumajang. Apa dan bagaimana investasi di Kabupaten Lumajang? Berikut pandangan Agus Setiawan, SE, Pengamat Ekonomi dan ketua MPC Pemuda Pancasila Lumajang, saat mengisi acara Ngopi Pagi, di Radio Semeru FM, Sabtu 22 Agustus 2020.

“Ketika bicara investasi, kita bicara secara makro, bicara PDRB. Bagaimana untuk Lumajang, saat ini mengalami tekanan sebelum maupun saat corona. Ada tekanan, karena kita turun 4,7%. Artinya, pertumbuhan ekonominya yang paling kecil di Jawa Timur. Untuk mendongkrak PDRB, tidak sekedar belanja pemerintah melalui pengadaan barang dan jasa dan konsumsi masyarakat saja. Tetapi juga harus ada resource yang harus masuk dalam bentuk investasi.

Karena, ibarat sebuah mangkok. Kalau kita isi air setengah, kita goyang-goyang, diputar-putar tidak ada penambahan air. Tetap itu saja. Sedangkan manusianya tambah banyak. Ibaratnya seperti itu investasi ini. Di mangkok itu yang kita isi air setengah, kita tambah air setetes dua tetes lama-lama semakin bertambah. Bertambahnya air ini kapasitas ekonominya. Gambaran mukanya seperti itu.

Ketika kita bisa mendapatkan investasi, maka sumber daya dalam bentuk pendanaan yang masuk ke Lumajang bertambah. Pendanaan ini, investasi ini ikut diputar dalam bentuk kegiatan ekonomi, yaitu produksi barang dan jasa yang kemudian menghasilkan income. Nah ini masuk ke Lumajang dalam bentuk penambahan PDRB.

Kegiatan investasi ini yang pasti akan mendatangkan lahan pekerjaan. Membuka lapangan pekerjaan untuk penduduk lokal. Walaupun ada tenaga ahli dari luar itu wajar-wajar saja. Kemudian yang kedua, tentu ada value added (nilai tambah) yang kita terima. Contohnya kita punya beras. Jika selama ini dijual dalam bentuk mentah/ gabah keluar kota, dengan adanya investor yang masuk untuk mendirikan pabrik pengolahan beras, maka akan memberikan nilai tambah.

Secara makro angka produksi perusahaan tersebut akan tercatat sebagai penambahan di Lumajang sehingga nanti mengkatrol pertumbuhan ekonomi kita.

Investasi ini sangat penting karena dengan investasi lah kita akan mendapatkan pendanaan untuk kegiatan produksi barang dan jasa. Kemudian kita akan mendapatkan tranfer of technology. Dengan investasi masuk membawa teknologi baru kemudian pemain lokal bisa menirunya. Amati, tiru, modifikasi (ATM). Jadi, jangan alergi dengan investasi. Justru kita menarik investasi sebesar besarnya.

USAHA APA YANG LAYAK BAGI INVESTOR DI LUMAJANG?

Lumajang ini banyak terkenal dengan SDA nya yang luar biasa. Tanahnya subur alamnya indah. Hanya masalahnya kalah di akses. Kalau kita berpikir secara makro, bicara PDRB, maka perlu ada skala prioritas sektor mana saja yang mampu mengontrol PDRB kita dengan cepat dan melibatkan banyak orang. Ini harus jadi skala prioritas. saat ini ada tren hampir semua kabupaten di Indonesia memprioritaskan sektor pariwisata. Bahkan pemerintah pusat menunjuk 10 kawasan wisata yang akan menjadi prioritas dari pendanaan Pemerintah Pusat.

Lumajang mungkin bersentuhan dengan wisata di Bromo Tengger Semeru, TNBTS. Hanya saja, kalau kita bicara ekonomi makro, maka sumbangsih sektor pariwisata di Lumajang sangat minim. Ini bisa cari datanya di Dinas Pariwisata, BPS, dan lain lain. Memang, kalau kita bicara data dari Dinas Pariwisata, kunjungan wisatawan luar biasa. Bisa jutaan wisatawan ke ke tempat-tempat wisata di Lumajang. Hanya saja ini wisatawan lokal yang secara makro tidak dapat nilai tambah, karena tidak ada pendanaan yang masuk.

Yang ada hanya uangnya Lumajang kota masuk ke Candipuro, Senduro. Senduro dibelanjakan ke kota. Masuk ke kota lagi uangnya. Ini uangnya Lumajang yang muter-muter. Ibarat air di mangkok, diisi air separuh. Airnya diputar-putar aja. Diaduk. Seperti itulah ekonomi di Lumajang. Memang ada fungsinya meningkatkan konsumsi masyarakat Lumajang. Tingkat komsumsi masyarakat bisa menjadi salah satu indikator untuk menghitung pertumbuhan ekonomi atau PDRB.

Skala prioritas di Lumajang, hemat saya, tentu saja ke sumber daya alam karena ini keunggulan Lumajang. Hemat saya di area Lumajang dikenal sebagai lumbung pangan nasional dari hasil alamnya. Tidak usah ikut-ikutan dikenal sebagai daerah wisata. Karena, kalau kita tidak punya unggulan di sana, ya sudah. Kita kalah akses. Contohnya, gubernur datang ke Ranupane Lumajang tidak lewat arah Utara tapi dari Malang. Ketika orang disuruh memilih ke Ranupane malah lewat Malang, karena Malang infrastruktur nya lebih bagus, pendukung nya sudah baik, banyak wisata alternatif. Sehingga mereka datang dari Malang.

Jadi kalau kita bicara wisata jangan bicara wisata skala lokal, karena tidak akan ada nilai tambah. Hanya meningkatkan nilai konsumsi aja. Prioritasnya apa, tentu prioritasnya sumber daya alam. Bukan berarti mengeksploitasi besar besaran, tapi pakai sistem berkelanjutan. Contoh, kita punya produk dalam bentuk beras pertanian. Kita terkenal bagus 5 tahun yang lalu, produksinya selalu tumbuh hingga 2016 menerima insentif. Menerima anggaran khusus karena berhasil meningkatkan produksi pertaniannya. Tapi kemudian pertanian kita sejak menerima tersebut turun jauh. Hingga 2018 pertumbuhannya minus 0, sekian persen. Tidak sampai 1% pertumbuhannya. Artinya, sektor pertanian kita sangat tertinggal dan sangat diperlukan oleh petani. Apalagi dengan adanya corono seperti sekarang. Seharusnya kita mampu menyulap pertanian kita menjadi unggul, menjadi produk unggulan. Sehingga kita dikenal sebagai lumbung pangan nasional. Harus seperti itu.

Kedua sektor pertanian kita belum tersentuh. Tidak jelas kita punya pisang. Pisang kita unggul. Ada pisang Agung, Pisang Mas Kirana. Hanya pengelolaannya selama ini semrawut. Rata-rata hanya di tegalan tegalan masyarakat. Tidak ada yang benar-benar dikelola sebagai sebuah perkebunan. Terintegrasi, mulai dari penanaman, pemeliharaan hingga panen, hingga produksi panen dipacking, langsung diekspor atau dibawa ke kota-kota lainnya.

Selain itu perkebunan. Kita punya kayu. Kayu sengon terkenal hingga ke Jakarta. Tapi masalahnya sekarang adalah sengon kita, selain ditampung di pabrik lokal dibawa keluar kota. Tetapi mestinya pabrik tersebut dipaksa untuk membangun pabrik di Lumajang. Karena, semakin banyak pabrik semakin banyak serapan yang tinggi, permintaan semakin tinggi dan masyarakat akan menjual kayunya dengan harga yang bagus.

Kemudian kita juga punya pasir. Mestinya bisa dikelola dengan baik. Saya sangat sedih tata kelola pasir. Pengusaha yang kurang tertib yang mengakibatkan tata kelola pemerintahan pasir kita seperti di hutan rimba. Yang kuat dia yang menang. Saling makan, saling serobot. Sehingga tidak berkelanjutan. Bergugurlah pengusaha pasir Lumajang sehingga pasir Lumajang dianggap banyak 32 nya”, paparnya.

Setiawan lebih memilih Lumajang dikenal sebagai hasil buminya sebagai penopang utama, minimal di Jawa Timur dari pada memaksakan diri membuang-buang uang miliaran, puluhan miliar di sektor yang belum tentu bisa mendatangkan income untuk Kabupaten kita.

Apakah menjamin adanya investor untuk pariwisata?

“Jadi sebenarnya, karena pemerintah pusat sedang memprogramkan untuk prioritaskan pariwisata, maka hampir semua kabupaten di Indonesia berlomba-lomba untuk meningkatkan sektor pariwisatanya. Saya selalu ngomong tentang middle. Hanya kabupaten yang mampu mengembangkan pariwisata nya dengan baik, dengan pendanaan yang luar biasa, dengan keunggulan akses itu yang akan menang.

Jika tidak, maka kabupaten tersebut akan terperangkap di titik tengah. Pengembangannya tidak nanggung. Kalau kita bilang itu nanggung semua. Sudah berkali-kali dana miliaran. Terakhir 2018. Mungkin juga ada pengembangan tapi apa yang terjadi pengelolanya pun berganti-ganti. Contoh Ranu Klakah. Berkali-kali mendapatkan pendanaan. Apa yang terjadi sampai dengan sekarang. B29 dari masyarakat kita sendiri. Ada yang dari luar kota, itu bisa dihitung. Tidak mendatangkan income yang luar biasa untuk masyarakat kita.

Pengembangan pariwisata ini tidak boleh parsial. Kenapa? Yang pertama tentunya akses kita. Orang luar kota ketika kita mau berwisata yang dicari adalah seseorang yang mudah. Kecuali daerah tersebut memiliki wisata yang memang unik atau minat khususnya di Lumajang. Kita harus cari yang unik yang mana, yang minat khusus yang mana. Mungkin itu yang bisa dikembangkan. Kalau sekitar air terjun, air terjun di luar kota banyak yang lebih bagus. Kalau sekedar negeri di atas awan, mohon maaf, saya sudah pernah ke negeri di atas awan di kabupaten yang lain. Di Jogja, Sulawesi, di Maros sudah pernah dan lebih bagus. Aksesnya lebih mudah. Pengembangannya, pun lebih bagus.

Mungkin yang bisa saya katakan, Tumpak Sewu memang masuk radar internasional. Tumpak Sewu bagus. Hanya saya selalu sarankan, bahwa kalau kita mau mengembangkan pariwisata maka kembangkan sistem cluster. Apa itu sistem cluster? Kita harus berpikir, wisatawan ketika datang ke Lumajang tidak mungkin hanya kepingin melihat B29. Sama, ketika orang Lumajang datang ke Malang nggak mungkin hanya ingin ke Jatim Park. Pasti ingin ke beberapa tempat yang lain dalam satu perjalanan. Kemudian, untuk makan saja susah dan kelasnya mohon maaf, lokal.

Kalau orang luar kota harus kembali lagi ke kota. Beberapa restoran yang representatif tidak harus dipikirkan. Kedua, harusnya itu potensinya berapa sih pariwisata. Contoh, kalau kita menggelontorkan uang misalkan 50 miliar dalam beberapa tahun untuk pariwisata, berapa sih potensi income yang kita dapatkan. Berapa sih potensi yang bertambah. Berapa sih potensi pertumbuhan ekonomi akan terjadi. Berapa sih potensi tenaga kerja yang bekerja di sektor pariwisata. Berapa potensi income yang akan diterima oleh masyarakat sekitar. Berapa potensi investasi yang masuk ke Lumajang. Coba bandingkan dengan kalau 50 miliar kita jeburkan ke pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan.

Tolong dibandingkan lebih besar yang mana, lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang mana, apakah pariwisata ataukah yang terkait dengan sumber daya alam dan dan pertanian. Kenapa? Bahwa hampir 40% masyarakat kita itu terkait dengan sektor pertanian. Artinya, ratusan ribu masyarakat kita itu ada di sektor pertanian. Ini kan kasihan kalau yang ratusan ribu ini tidak sentuh. Hanya menyentuh beberapa tempat pariwisata yang mungkin yang menikmati hanya orang-orang tertentu.

Mohon maaf, manajemen wisata kita ini luar biasa kurang. Contohnya sekarang lagi heboh masalah jembatan perak sekian tahun terbengkalai. Telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Malah bukannya berhenti. Malah ditambahin gerbang dan tulisan Love.

Ketika kita bicara makro ekonomi, maka kita bicara mana sih yang manfaatnya. Maaf karena kita mengelola kabupaten yang orangnya banyak membutuhkan peningkatan kesejahteraan, maka kita harus memilih sektor mana yang harus diprioritaskan. Yang harus digelontorkan dana besar-besaran ke pariwisata seperti ini memang baik, bisa buat kita selfie, bisa kita pamer di Instagram, di Facebook, bisa kita nongkrong bareng bareng. Tapi secara bermanfaatnya kurang dibandingkan dengan kalau kita memperbaiki produktivitas pertanian”. DIN

Post Comment