!-- Header -->
Ekonomi Lumajang Peristiwa

Resesi Ekonomi, Setiawan : Utamakan Putra Daerah

LUMAJANG – Beberapa hari yang lalu pemerintah melalui Menteri Keuangan  secara resmi mengumumkan kondisi perekonomian mengalami periode resesi ekonomi. Resesi ekonomi adalah penurunan indikator ekonomi, pertumbuhan ekonomi secara terus-menerus dalam waktu  berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Tetapi mayoritas ahli ekonomi mengukurnya dari pertumbuhan triwulanan. Kalau 2 kali 3 bulan tetap mengalami pertumbuhan minus berarti dianggap sudah mengalami resesi.

“Indonesia kemarin kuartal kedua sudah mengalami sekitar 5 %, kuartal ketiga 3,40 % minus, berarti kita sudah memasuki periode resesi ekonomi, “ungkap Agus Setiawan, SE, pengamat ekonomi, saat Ngopi Pagi, di FM Sabtu (7 Nopember 2020).

Dijelaskan, resesi  ekonomi suatu ukuran yang menyatakan bahwa kondisi ekonomi secara keseluruhan di Indonesia memang mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Tidak hanya di bidang perdagangan dan jasa secara keseluruhan, termasuk angka pengangguran, kemiskinan juga mengalami peningkatan.

Untuk menghadapi resesi ekonomi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, sudah berusaha mencegah bermacam cara, termasuk apa namanya mengeluarkan program perlindungan sosial untuk meningkatkan konsumsi masyarakat.

Kenapa konsumsi masyarakat harus ditingkatkan? Karena, kalau kondisi masyarakat turun maka pertumbuhan ekonominya akan semakin minus dan dalam. Di kuartal ketiga ini pertumbuhan ekonomi minus tetapi sudah lebih baik dari kuartal kedua.

“Kalau Bu Menteri Keuangan kita mengatakan masa buruk sudah kita lewati. Ini merupakan harapan yang baik karena yang terburuk kita lewati. Berarti sekarang kita sudah mulai menanjak naik kembali. Harapan kita bersama nanti kuartal keempat pertumbuhan ekonomi kita setidaknya juga harus juga jauh lebih baik”, paparnya.

BANTUAN SOSIAL PERLU DIGELONTORKAN TERUS

Resesi ekonomi ini lebih sering disebabkan karena memang adanya kontraksi ekonomi global yang menyebabkan aktivitas masyarakat terbatas. Di seluruh dunia memang mengalami penurunan ekonomi.

Penurunan ekonomi menyebabkan konsumsi masyarakat maupun pemerintah seluruh dunia mengalami kontraksi yang ini menyebabkan kegiatan ekspor impor juga terbatas. Kemudian kegiatan ekspor impor yang terbatas ini, seperti Indonesia, ekspor berhasil naik tapi impor terbatas menyebabkan ada goncangan di supply and demand yang menyebabkan banyak  produk masyarakat yang tidak menemukan pembelinya.

Contohnya di bidang garmen sekarang mengalami kondisi yang cukup sulit.  Biasanya bisa diekspor ke Timur Tengah, Amerika, jauh berkurang karena permintaannya tidak ada atau jauh berkurang. Ini menyebabkan perusahaan tersebut mengalami kontraksi dan pada akhirnya mengurangi karyawan dan sebagainya. Multiplayer effect ini sampai ke tingkat desa. Karena, ketika permintaan atau penghasilan masyarakat turun atau menghilang otomatis akan tidak bisa memiliki daya beli cukup tinggi. Daya beli turun otomatis permintaan akan barang barang berkurang.

Nah ini juga berimbas ke supliernya termasuk masyarakat desa. Kalau dulu buah-buahan gampang dijual sekarang susah. Karena yang mau beli masih mikir-mikir. Ini antara nabung atau saya belikan barang. Itu yang kita alami.

Kita berharap pemerintah tetap menggelontorkan bantuan sosial karena ini satu-satunya cara untuk tetap mengerek daya beli masyarakat. Tetap mempertahankan daya beli. Bahkan pemerintah sekarang pun mengimbau masyarakat untuk belanja. Orang-orang kaya pun dihimbau untuk belanja  supaya terjadi perputaran ekonomi. Supaya tingkat konsumsi masyarakat juga tetap tinggi sehingga pertumbuhan ekonomi kita akan jauh lebih baik dari kuartal tiga kemarin.

Oleh karena itu masyarakat desa yang tidak memahami perlu diberikan pengertian dan pemahaman oleh pemerintah. Bahwa kondisi ekonomi dunia sekarang sedang tidak baik. Otomatis terjadi penurunan permintaan barang. Tidak hanya buah-buahan. Hampir semua barang pun mengalami penurunan.

Tapi Alhamdulillah sektor pertanian masih cukup baik. Kenapa? Karena walaupun krisis ekonomi masyarakat masih membutuhkan pangan. Ini  yang harus dipertahankan dan perlu diberikan pengertian supaya masyarakat mengerti dan bisa memanage harus seperti apa mereka mengatur distribusi barangnya.

RESESI EKONOMI BERKAITAN DENGAN AKSI KRIMINALITAS

Apakah benar resesi ekonomi akan memper buruk dan meningkatkan aksi kriminal dan apa yang perlu dilakukan pemerintah daerah?

Atas pertanyaan Akhi tersebut, Setiawan menjelaskan, kriminal berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat. Ketika sekarang daya beli menurun perekonomian menurun terjadi resesi banyak pengangguran.  Mau tidak mau ini akan berhubungan langsung dengan tingkat kriminalitas kalau tidak dilakukan pencegahan atau antisipasi oleh pemerintah.

Oleh karena itulah kenapa pemerintah pusat menggelontorkan ratusan triliun dalam bentuk pinjaman lunak, hibah, dalam bentuk bantuan permodalan, bantuan sosial untuk masyarakat. Tujuannya tetap untuk mempertahankan daya beli masyarakat, sehingga masyarakat yang mungkin kehilangan pekerjaan bisa mendapatkan bantuan Rp 600.000 sebulan. Setidaknya mereka bisa bertahan.

Kalau tidak punya penghasilan sama sekali akan terbuka pikiran bermacam-macam. Ketika mereka kepepet, mendapatkan pinjaman susah akhirnya melakukan tindakan kriminalitas. Ini yang tidak diinginkan kita bersama. Oleh karena itu, harus dilakukan pencegahan. Karena, kalau kesejahteraan masyarakat menurun pengangguran semakin banyak itu korelasi dengan kriminalitas ada. Kalau tidak dilakukan pencegahan dalam bentuk bantuan sosial dan lain-lain kriminalitas akan naik lagi.

“Khusus Lumajang bagaimana? Pemerintah Pusat sudah menggelontorkan bantuan berbagai macam-macam. Pemerintah Daerah di Lumajang bisa melakukan program yang sama untuk menambal apa yang belum diberikan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Propinsi. Misalkan bantuan lunaknya, pinjaman tanpa bunganya diperbesar atau mungkin diberikan bantuan lain yang diperlukan oleh masyarakat.

Kalau itu tidak dilakukan masyarakat tidak semuanya mampu akan bertahan dengan daya upayanya sendiri. Pasti ada sebagian yang berpikiran macam-macam dan ujungnya melakukan tindakan kriminalitas,” ungkapnya.

Pemerintah daerah, menurut Setiawan perlu lebih kreatif. Kalaupun melakukan program pembangunan infrastruktur harus yang padat karya. Semaksimal mungkin anggarannya dikucurkan dan diperoleh oleh pengusaha-pengusaha daerah, oleh putra daerah. Untuk zaman seperti sekarang utamakan putra daerah.

“Jangan sampai seperti sekarang. Mohon maaf, kita bisa analisa, pekerjaan  penunjukan langsung atau PL itu mayoritas diperoleh dari luar daerah. Ini kan cukup memprihatinkan. PL saja yang pekerjaannya itu mudah seperti plengsengan, perbaikan jalan itu diperoleh oleh bukan putra-putra Lumajang.  Memang kalau lelang lelang yang besar itu bolehlah semua orang mengikuti orang. Mungkin orang Lumajang kalah itu wajar. Tapi kalau penunjukan langsung diberikan juga keluar daerah ini tidak wajar. Ini  harus diperhatikan oleh seluruh masyarakat Lumajang”, selorohnya.

Contoh pengadaan barang dan jasa. Misalkan anggaran 200 miliar per tahun.  Yang masuk ke PL misalkan Rp 150 miliar. Kalau 50 % saja yang lari ke non putra daerah berarti sudah 75 miliar yang hilang.

“Oke lah, mereka sebagian buruhnya memakai orang lokal. Tapi tetap keuntungannya, tenaga kerja dan bahan-bahannya pasti pakai dari luar  Lumajang. Ini yang kita sayangkan. Seharusnya kesempatan ini diperoleh oleh putra daerah untuk penunjukan langsung. Toh pekerjaannya mudah.  Sehingga tenaga kerjanya diambil dari Lumajang secara keseluruhan. Kemudian tenaga ahlinya juga dari Lumajang. Kemudian materialnya juga dari Lumajang secara keseluruhan. Keuntungannya pun diperoleh oleh putra daerah. Oleh pengusaha Lumajang sehingga bisa diputar di Lumajang lagi.

Kalau dibawa lari ke Jember, Bondowoso, Surabaya, Probolinggo,  berputarnya disana. Ini yang perlu dipikirkan. seyogyanya yang namanya APBD itu bisa jadi semacam stimulus, fiskal untuk perekonomian daerah. Kalau apa-apa diberikan ke orang luar daerah, yaaa.. tidak akan berputar di Lumajang. Ini yang kita lihat tahun 2020,” ujarnya. DIN

Post Comment