!-- Header -->
Ekonomi Komunitas Lumajang

Strategi Menggairahkan Iklim Investasi Lumajang

LUMAJANG – Di Indonesia ini banyak kabupaten. Di beberapa kota di Asia banyak sekali yang city branding luar biasa. Sudah terkenal di dunia internasional. Di Jawa Timur sendiri  hampir semuanya ikut berlomba mengenalkan kabupatennya, City Branding. Mereka berlomba-lomba mengembangkan sektor pariwisata misalkan, termasuk Lumajang harus ikut dalam perlombaan tersebut dan harus lari cepat. Kalau tidak akan ketinggalan. Hanya saja dalam perlombaan tersebut tidak harus semuanya satu tipe. Misalkan di Jawa Timur, banyak kabupaten yang mengembangkan dan fokus ke pariwisata. Tidak harus ke sana. Positioning itu penting. Diferensiasi itu penting. Ketika semua Kabupaten mengembangkan sektor pariwisata, maka Lumajang fokusnya bukan pariwisata. Misalnya jadi lumbung pangan nasional. Itu lebih bagus karena positioningnya lebih tepat dan diferensiasinya lebih menonjol.

“Intinya, tidak harus ikut-ikutan.Kalau ikut-ikutan akan terjebak dengan namanya middle trap, posisi tengah. Akan di posisi midle kalau kita ikut-ikutan. Tidak akan berada di posisi atas. Karena kita kalah duluan. Dari segi infrastruktur kalah. Dari daya tarik wisatanya kalah. Kalau kita mau membandingkan dengan Malang-Banyuwangi, apalagi Bali. Dengan beberapa kabupaten yang lain di Jawa Timur, mungkin kita kalah duluan. Maka sekarang kita terperangkap di posisi tengah. Semuanya serba nanggung”, ujar Agus Setiawan, SE, pengamat ekonomi, saat mengisi acara acara “Ngopi Pagi”, di Radio Semeru FM Lumajang, Sabtu (5 Agustus 2020) pagi dengan tema : Implementasi Empat Strategi Marketing Untuk Menggairahkan Iklim Investasi di Lumajang ; Image, Attraction, Infrastucture, dan People.

Pemerintah daerah Lumajang, menurutnya, perlu riset kembali. Mencari kembali dihubungkan dengan visi misinya yang utama mensejahterakan masyarakat. Kira-kira sektor mana kalau dikembangkan betul paling cepat membuat rakyat sejahtera. Apakah benar sektor pariwisata. Ataukah dialihkan ke sektor lain. Maka ini harus dicari. Karena visi utamanya tujuan pemerintah yang paling utama adalah mensejahterakan masyarakat, bukan mencari pencitraan. Bukan mencari seolah-olah dikenal hebat, bukan mencari seolah-olah kota ini city branding nya bagus, tapi di dalam masyarakatnya tidak sejahtera. Bukan seperti itu.

Kalau memang sekarang Pemerintah Kabupaten Lumajang mau ikut berlomba di sektor pariwisata, harus all out. All out artinya tidak harus diserahkan hanya kepada Dinas Pariwisata, tapi seluruh OPD (Organisasi Perangkat Daerah), badan, lembaga-lembaga masyarakat semua jadi “Dinas Pariwisata” dalam tanda kutip.

Artinya, semua program yang ada di dinas tersebut harus dikaitkan dengan kegiatan pariwisata. Contoh misalkan Dispora mengadakan lomba maraton dari Pronojiwo – Lumajang. Maka dikaitkan dengan pariwisata. Ada daya tarik wisatanya. Sport tourism. Tapi kalau Dinas Pariwisata berjalan sendirian, maka akan masuk pada midle trap. Kalau benar-benar fokus di parisiwata, maka harus all out. Semuanya harus mendukung. Birokrasinya, DPRD nya, pihak keamanannya, dan masyarakatnya mendukung. Kalau itu tidak bisa dijadikan satu melangkah bersama, maka kita tidak akan berhasil dan sudah pasti kita akan tenggalam di midle trap”.

Sekedar diketahui arti middle trap = perangkap pendapatan menengah adalah suatu keadaan ketika suatu negara berhasil mencapai tingkat pendapatan menengah, tetapi tidak dapat keluar dari tingkatan tersebut untuk menjadi negara maju.

BUAT SISTEM KLASTER

Parisiwata itu harus punya network, baik di penyelenggaranya maupun dari objek wisatanya. “Kalau saya mengenalnya istilah sistem klaster. Kita analogikan, ketika orang mau wisata ke Lumajang tidak akan mau hanya ke satu tempat. Minimal 3 sampai 5 tempat yang ingin dikunjungi. Karena rugi dengan biaya transportasinya kalau hanya 1 tempat wisata. Kemudian mereka pasti akan mencari oleh-oleh. Inilah yang saya maksud sistem klaster.

Di beberapa kabupaten lain sudah melakukan hal ini. Kalau mau ke Malang misalnya, sudah ada tempat-tempat wisata yang akan dikunjungi bukan hanya satu tempat wisata. Belum lagi mereka mencari oleh-oleh. Kalau datang ke Lumajang apa yang kita cari? Apa yang kita tahu tentang Lumajang? Misalkan kita mendapatkan brosur tentang Tumpak Sewu. Setelah dari Tumpak Sewu apa yang akan ditawarkan? Tidak mungkin, kan orang dari luar kota atau luar negeri hanya akan melihat Tumpak Sewu. Rugi mereka dan tidak akan jalan.

Makanya harus ada sistem klaster. Ada klaster Selatan atau tiap-tiap klaster ada wisata unggulannya. Yang paling diunggulkan yang mana. Jadi maskotnya apa. Contoh icon klaster selatan pantai selatan, Tumpak Sewu. Wisata pendukungnya apa? Mungkin bisa pantai Bambang kalau dianggap menarik dan lain-lain. Lalu wisata penunjangnya apa. Pusat kegiatan ekonominya apa. Dan pusat oleh-oleh dimana. Kalau mau makan di restoran di restoran mana. Kalau mau nginap, nginapnya di mana.

AGUS SETIAWAN, Pengamat Ekonomi dan Ketua PP Kabupaten Lumajang. RED

Ini yang harus dijawab dulu oleh pemerintah kita dan oleh masyarakat Lumajang umumnya. Kira -kira, kalau itu ditawarkan ke luar daerah tertarik gak mereka? Kita anggap kita orang luar Lumajang atau luar negeri. Kalau ditawarkan ke Lumajang hanya Tumpak Sewu mau gak? Karena, kalau hanya mencari pemandangan yang eksotik di luar banyak. Di Malang banyak, di Jember alamnya juga Indah. Mereka juga punya tempat wisata di atas gunung. Apalagi dibandingkan dengan Probolinggo. Probolinggo lebih nyaman akses ke TNBTS-nya. Di sana juga ada puncak yang bisa melihat Gunung Bromo. Sudah dibangun sedemikian rupa. Apa yang kita tawarkan ke luar daerah?

“Kalau mau fokus di pariwisata langkahnya bagaimana. Perlu ada strategi. Perlu langkah. Semuanya masih tanggung. Akhirnya pengembangan tempat-tempat wisata masih tanggung. Rata-rata masih swadaya masyarakat. Pokdarwis misalnya. Gak bisa misalnya (mohon maaf) Tirtosari mau bersaing dengan daerah yang dikembangkan sedemikian rupa. Tirtosari sekarang berbenah sedikit demi dengan swadaya. Dengan dukungan masyarakat setempat. Mungkin nunggu dari penjualan tiket untuk pengembangan. Ini akan lama dan belum tentu 1, 2 tahun kedepan belum tentu akan menarik dari luar kota”.

REKRUT ORANG PROFESIONAL DAN KREATIF

Dalam paparannya Setiawan juga menyinggung soal festival budaya menjawab pertanyaan pendengar. “Kita melihat realita, beberapa tahun yang lalu itu terutama di periode Pak As’at,  almarhum Sjahrazad, Pemerintah Kabupaten Lumajang  banyak yang menyelenggarakan festival budaya. Mungkin Tim Dinas Pariwisata pada saat itu luar biasa, kreatif. Saya melihat dari dulu festival Jaran Kencak masa Almarhum Pak Sjahrazad. Kemudian juga festival seribu penari Godril. Itu luar biasa. Waktu itu saya masih Jakarta. Kemudian ada juga festival berapa kabupaten, kegiatan-kegiatan di Pura Senduro, di Gucialit, dan banyak kegiatan festival budaya lainnya.

“Sekarang harusnya, apa-apa yang sudah baik di masa lalu diteruskan. Kalau bisa ditingkatkan, bukan malah mengalami kemunduran. Jadi, sayang sekali karena pura Senduro dikenal memang sudah punya daya tarik luar biasa untuk masyarakat terutama yang di Bali dan masyarakat Lumajang. Maka sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan. Perlu ada komunikasi dengan pengelola Pura. Ada komunikasi dengan tokoh di Bali. Bahkan kita sudah MoU dengan sister city dengan Bali. Itu harus diimplementasikan sekarang. Apa bentuknya implementasinya sepertinya belum ada”, ungkapnya.

Dikatakan, festival-festival yang ada di Lumajang sekarang lebih cenderung ke anak muda.  Contohnya festival prapatan yang tidak menarik masyarakat secara keseluruhan. Acara pemerintah dikemas sepertinyan hanya untuk kepentingan anak-anak muda lagi. Ini yang perlu pemerintah kembali melakukan riset pengembangan budayanya seperti apa. Karena, sebenarnya Lumajang ini yang bagus adalah festival budaya yang ditunggu oleh masyarakat luar. Kalau hanya mengandalkan eksotisme alamnya saja, mohon maaf, di luar kota pun banyak yang indah dan luar biasa.

“Kita tidak boleh over klaim seolah-olah alam Lumajang paling indah se-Indonesia, misalnya. Atau paling indah sedunia. Gak boleh over klaim. Suatu kota yang memiliki dataran tinggi pasti banyak alam yang indah. Pasti ada air terjunnya, terutama kalau mereka punya pantai pasir putih. Pemerintah daerah perlu memikirkan tim pengembangan wisata yang luar biasa. Harus benar-benar kreatif. Assesment orang orang itu secara profesional. Kalau memang mereka punya daya kreativitas untuk mengembangkan pariwisata budaya Lumajang rekrut. Jangan hanya orang-orang tertentu saja yang (misalnya) menjadikan kegiatan itu proyek. Padahal di Lumajang, mohon maaf, banyak orang-orang di pinggiran yang lebih kreatif. Lebih mengerti tentang budaya. Lebih tahu caranya mengembangkan budaya Lumajang hingga menarik wisatawan dari luar Lumajang. Ini yang perlu dilakukan. Kalau saya dibilang nyinyir bolehlah, tapi kenyataannya seperti itu. Sampai dengan sekarang kita belum menyelenggarakan event yang bertaraf nasional. Itu yang saya lihat”, paparnya.

“Saya meneruskan soal klaster. Klaster utara sudah. Klaster barat wilayah Senduro kira-kira apa saja yang ditawarkan.  Mungkin wisata unggulan yang ditawarkan B29. Wisata pendukungnya Pura, bisa air terjun yang ada di Senduro. Pusat pengembangan ekonomi masyarakat misalnya di Pasar Senduro, perlu penataan. Kemudian pusat oleh-olehnya dimana? Kalau pun ada di Kota Lumajang harus ditata. Jangan hanya didominasi hanya dari satu atau dua toko. Wilayah Utara, klaster utara juga bagaimana. Contoh utara wisata Ranu Klakah. Wisata penunjangnya dan pendukungnya ranu lagi. Ini perlu dikembangkan dan cara mengembangkannya harus bisa selevel dengan wisata di daerh lain. Kalau tidak bisa selevel tidak bisa menyalip mereka. Daya tariknya berkurang. Nah, pemerintah daerah sekarang fokus dan bersepakat target market pengembangan wisata di Lumajang itu siapa? Kalau wisatawan lokal berarti orang Lumajang sendiri. Kalau dihitung tingkat kunjungan mereka ke tempat-tempat wisata, termasuk alun-alun itu bisa mencapai jutaan 1 tahun.  Karena mereka bisa jadi dalam satu minggu pergi ke tempat wisata dua atau tiga tempat. 

“Lalu wisatawan domestik, dari Indonesia sendiri. Nah, ini kira-kira berapa targetnya yang didatangkan. Perlu ada perhitungan. Kemudian wisatawan asing berapa yang mau didatangkan. Targetnya berapa. Dihitung ini. Kira-kira ini perputaran ekonominya sampai berapa duitnya dibandingkan dengan ongkos yang dikeluarkan untuk mengembangkan pariwisata tersebut.  Dibandingkan juga kalau ongkos tersebut diberikan ke sektor yang lain. Lebih bermanfaat yang mana? Lebih mendatangkan hasil yang luar biasa itu yang mana? Melibatkan orang lebih banyak yang mana? Kemudian pengaruh pendapatan perkapita penduduk sekitar lebih baik yang mana?  Ini perlu dihitung. Jangan sampai nanti kita sudah menggebu-gebu mengembangkan pariwisata tapi terjebak dengan namanya midle trap akhirnya tidak dapat apa-apa,  mubazhir.  Yang berkunjung orang-orang Lumajang sendiri”, seloroh lulusan STAN Malang ini.

Sistem klaster menurut Setiawan, tujuannya supaya bisa memasarkan objek-objek wisata di Lumajang dalam sistem paket ke luar daerah. “Kita bisa beriklan di Facebook, di Instagram, di Google Ads, menggandeng blogger-blogger untuk menulis tentang Kabupaten Lumajang. Mungkin bisa dibentuk dalam event lomba blogger’. Perlu juga ada wisata minat khusus yang hanya orang-orang yang memiliki minat khusus itulah yang akan datang ke Lumajang. Ini perlu dipikirkan. Karena, kalau pengembangan wisata wisatanya masih sporadis seperti sekarang akan jadi masalah. Mubazir karena pasti terjebak yang namanya middle trap”, pungkasnya.

PERLUNYA INVESTOR SEKTOR PERTANIAN 

Setiawan kembali menandaskan, dunia pertanian Lumajang sepertinya perlu investor masuk. Kalau mengandalkan pemerintah daerah yang sedang berkutat di sektor pariwisata, maka beberapa tahun kedepan sektor pertanian di Lumajang tidak akan meningkat produktivitasnya. Kalaupun meningkat hanya mungkin setengah persen, satu persen dalam setahun. Ini sangat disayangkan. Bisa dilihat di sektor pertanian turun terus. Dari sekitar 49 persen beberapa tahun yang lalu, hingga sekarang tinggal 39 persen kalau tidak salah. Ini kan sudah turun 10 persen dalam waktu beberapa tahun ini. 

“Kalau ini tidak diperbaiki, maka akan banyak buruh tani yang kehilangan pekerjaan, karena orang yang selain bertani karena hasilnya tidak memuaskan mereka akan merubah fungsi lahannya.  Mungkin bisa dijual jadi kavlingan. Mungkin ditanam sengon, ditanam balsa dan lainnya.  Orang akan cenderung memilih yang lebih menguntungkan”.

Meski demikian, Setiawan mengajak para petani tidak patah semangat. Sebaiknya mereka mengorganisir diri menjadi kelompok-kelompok tani. Kalau perlu kelompok-kelompok tani mengundang investor sendiri. Entah dalam bentuk industri pertanian untuk masuk atau bagaimana. Ini perlu dipikirkan. Saya berkali-kali menyentil Pemda supaya lebih fokus ke sektor pertanian. Karena pertanian kita ini sedang “merana” kalau saya bilang. Kalau tidak percaya atau tidak setuju dengan kata-kata saya, silakan dilihat datanya.

“Kalau pertumbuhannya minus (nol sekian persen) itu sudah “merana” Sementara sektor lain bisa tumbuh 7 persen 8 persen. Bahkan ada juga yang mungkin di atas 8 persen dalam 1 tahun. Sedangkan pertanian tumbuh 1 persen saja susah. Ini yang yang perlu mendapatkan perhatian dari Bupati dan Bunda Indah supaya saudara-saudara kita yang bergerak di sektor pertanian dapat lebih mendapatkan perhatian”, paparnya. 

Dia meminta jangan hanya diserahkan ke Kepala Dinas Pertanian saja, mengingat sumber daya manusianya terbatas, tenaganya juga terbatas. Penyuluh-penyuluh pertanian juga terbatas. Mereka bekerja dengan semangat luar biasa, pun efeknya tidak akan menyuruh karena keterbatasan. Satu keterbatasan anggaran dan keterbatasan personel. Kasihan mereka. Mereka harus didukung. Didukung dengan apa? Kalau kita fokus di sektor pertanian, maka beberapa dinas yang terkait dengan pertanian harus ikut membantu kegiatan-kegiatannya juga. Tinggal bagaimana strateginya nanti. Tapi yang jelas perhatiannya yang ditunggu.

“Karena sampai dengan sekarang kita lebih banyak mendengar berita-berita tentang pariwisata, tambang, dan sektor-sektor lain. Jarang dipublis berapa sih produktivitas pertanian kita. Berapa peningkatannya. Kalau pun turun berapa penurunannya.  Ini yang perlu disampaikan ke masyarakat supaya masyarakat bisa aware, bisa peduli dan bisa mengetahui bahwa kondisi pertanian kita sedang tidak baik, sehingga mereka berani bersuara”.

Kalau mereka sudah berani bersuara, maka pemerintahan harus mendengarnya, dan Insya Allah dengan tekanan dari masyarakat pasti akan lebih diperhatikan. Tapi yang jelas data-data yang dipublish oleh pemerintah daerah kita dan oleh BPS kondisi pertanian kita sampai dengan sekarang masih “merana”. Kalaupun pemerintah daerah tidak memiliki anggaran yang luar biasa untuk sektor pertanian, maka jangan sayang untuk mendatangkan investor. Jangan sayang untuk mendatangkan modal dari luar kota bagaimana caranya pertanian di Lumajang dikembangkan dengan lebih modern. Petani diajak kerja sama sharing. Hasilnya bisa dibagi. Petani untung, investor untung dan pemerintah daerah mendapat prestasi karena produktivitas pertanian meningkat. Itu yang kita harapkan”.

MANFAATKAN JALAN TOL  

Terkait jalan Tol Probolinggo – Lumajang dan Lumajang – Jember, Setiawan kembali memberikan masukan. “Kalau kita bicara investasi di daerah, maka masyarakat ikut memasarkan daerahnya (people marketing). Kalau bupati ingin mengembangkan pariwisata di wilayah utara, maka people marketingnya harus jalan. Masyarakat sekitaran Ranu Klakah, Ranu Bedali diberikan pemahaman untuk mengembangkan atau memasarkan daerahnya sendiri.

“Tapi ini tidak akan terjadi kalau masalah air saja masih jadi masalah di sana. Masih menjadi hambatan. Mau diajak mempromosikan daerahnya akan susah. Karena urusan air aja susah bagaimana mau promosi wisata. Mereka juga akan berpikir ini wisata yang nanti dinikmati siapa saja. Apakah seluruh masyarakat akan menikmatinya atau hanya pengelolanya saja? Atau hanya yang datang di tempat wisata saja. Ini perlu dipikirkan masalah. Masalah air ini sangat krusial. Bila masalah air di daerah tidak bisa diselesaikan, maka pengembangan wisata di wilayah utara akan terhambat. Karena masyakat di sana tidak akan bisa diarahkan untuk mendukung kegiatan pariwisata”.

Kemudian terkait dengan jalan tol. Jalan tol seperti yang pernah saya ungkapkan, akan mematikan banyak UMKM di sepanjang jalan nasional dari Kedungjajang sampai ke Probolinggo. Perlu ada penggantinya. Kegiatan ekonomi yang hilang tadi harus ditambal dengan sumber-sumber ekonomi yang baru. Kegiatan-kegiatan ekonomi yang baru. Kemarin saya usulkan kalau di daerah itu dibuat semacam blue print kawasan industri sebagai daerah penghubung antara Pelabuhan Probolinggo yang di sana sedang dibangun kawasan industri bertaraf internasional dengan Jember dan Banyuwangi Selatan.

Lumajang harus bisa menjadi kawasan pusat ekonomi masyarakat. Contoh misalkan di utara bisa dibuat kawasan industri khusus untuk pengolahan kayu. Dari pada mereka dimoratorium tidak boleh membuat pabrik, kemudian pabriknya berdiri di luar kota, lebih baik mereka diarahkan untuk mendirikan pabriknya di kawasan utara langsung dekat dengan exit tol.  Ini lebih menarik. Blue printnya harus sudah jadi dari sekarang supaya bisa ditawarkan ke investor. Perlu konsep dari sekarang pengembangan kawasan utara terkait dengan adanya tol.

“Tawarkan mulai sekarang supaya ada investor yang tertarik dan melakukan studi dari sekarang. Ketika tolnya jadi mereka bisa langsung membuat bangunannya,  tidak perlu lama-lama lagi mengurus perizinan dan lain-lain”, paparnya.

JANGAN “MUSUHI” SWASTA

Banyak orang berpikir investasi itu apa? Sederhananya begini. Kita menempatkan sejumlah dana di masa sekarang tujuannya mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang. Kalau dalam studi ilmu bisnis pengaitan sumber-sumber dana dalam jangka panjang untuk menghasilkan laba di masa yang akan datang. Lebih mudahnya adalah menempatkan dana sekarang untuk mendapatkan keuntungan di masa mendatang.  

Kemudian kalau dari sudut pandang pemerintahan investasi itu penting. Kenapa? Karena investasi adalah sebuah peluang untuk mengembangkan kemampuan atau potensi yang dimiliki oleh daerah melalui pemicu poster berupa dana yang dihasilkan dari adanya investasi yang masuk. Tidak bisa hanya menggantungkan ke APBD. Perlu pihak swasta.

Saya bilang pemerintah itu tidak boleh memusuhi swasta. Karena yang menggerakkan ekonomi adalah pihak swasta, para pengusaha baik dari sisi ekonomi atau industri besar.  Itulah yang menggerakkan ekonomi. Jangan dimusuhi. Perlu diberi karpet merah. Untuk mengembangkan investasi di daerah perlu strategi. Yang pertama adalah strategi image marketing. Image marketing adalah sejenis kepercayaan yang dimiliki orang terhadap suatu daerah. Jadi kita ingin di kepala orang-orang luar itu Lumajang tergambarkan dalam bentuk apa. Seperti yang saya sebutkan, di Asia Tenggara banyak kota-kota yang sekarang sedang mengembangkan dirinya. Lumajang harus punya image apa yang perlu dikembangkan? Apa yang perlu ditonjolkan dan apa yang perlu dikenalkan? Tidak hanya slogan Lumajang Eksotik. Apa itu eksotik? Ketika orang luar membaca Lumajang eksotik itu gambaranya apa? Ini yang perlu dilihat dan diimplementasikan oleh pemerintah daerah, supaya ketika slogan tentang Lumajang Eksotik dibaca oleh orang luar mereka langsung punya gambaran apa sih Lumajang itu.

Kemudian ada namanya atraction marketing. Banyak hal yang bisa kita kembangkan, tumbuhkan atau ciptakan dari kegiatan-kegiatan atraksi. Seperti misalkan kita ciptakan dari ketiga atraction tersebut kita menggunakan produk-produk unggulan Kabupaten Lumajang. Di bidang perkebunan menciptakan yang namanya pisang Mas Kirana. Ini perlu dikembangkan terus.  Jadi ini tidak hanya mengandalkan pada hal apa yang dihasilkan oleh alam sekitar. Kita perlu adanya proses produksi untuk menciptakan produk unggulan dari Lumajang. 

“Kita juga perlu adanya etalase daerah dalam bentuk pusat logistik daerah. Di Lumajang juga perlu pusat pusat pameran, eksebisi. Kita harus membuat sebuah pusat pameran di Jakarta, Surabaya, Medan. Perlu ada perwakilan disana. Mungkin bisa bergabung dengan eksebisi yang ada di sana. Mungkin ada lapak tetap di sana. Jangan hanya seperti di Lumajang dalam bentuk pameran dinas ini. Kita datang hanya disodori foto-foto foto binaan. Bukan seperti itu sekarang zamannya. Harus lebih atraktif supaya masyarakat lebih tertarik ketika kita menawarkan. Kemudian infrastuktur. Ketika menawarkan investasi keluar daerah yang ditanyakan masih masalah sarana prasarana fisik dan nonfisik”, kata Setiawan.

Dia menambahkan, yang sering dikeluhkan oleh teman-teman soal perijinan. Ini perlu didengar oleh Bupati dan Bunda Indah untuk diperbaiki. Sekali kali temen-temen itu diundang. Diserap apa sih keluhan mereka. Kenapa selalu ada masalah dengan perizinan. Ada apa? Kenapa setiap sidak ada masalah dengan izin. Jangan-jangan dalam tanda kutip. Karena setiap kali Bupati dan Bunda Indah sidak selalu ada masalah perijinan. Ini perlu di perbaiki. 

Perbaiki juga di kualitas infrastrukturnya. Ketersedian lahannya untuk investor bagaimana. Apakah bisa dibantu untuk pembebasan lahannya. Tenaga kerjanya bagaimana. Keamanannya bagaimana. Itu masuk di infastruktur marketing. Lalu people marketing. Bagaimana caranya orang Lumajang ini bangga dengan daerahnya, tahu keunggulan daerahnya sendiri dan ikut memasarkan Lumajang keluar daerah.

“Lumajang juga bisa mengundang influncer internasional ke Lumajang untuk membuat sebuah film, membuat sebuah vide, membuat sebuah foto supaya bisa dikenal di kalangan sosial media. Atau menggunakan kegiatan-kegiatan yang mengundang banyak orang terkenal beraktivitas di Lumajang. Ini cukup membantu mengenalkan Lumajang”, imbuhnya. RED

 

Post Comment