Advertisement
!-- Header -->
Ekonomi Lumajang

Susu Kedelai Klakah Semakin Diminati Meski Kondisi Pandemi

LUMAJANG – Apakah pembaca sudah minum susu? Kalau masih belum, sebaiknya konsumsi susu kedelai saja. Apalagi susu yang diolah ini banyak mengandung kalsium dan baik bagi kesehatan.

Kini susu kedelai banyak diproduksi oleh masyarakat Lumajang, salah satunya oleh  Rohman, warga Desa Melawang, Kecamatan Klakah, RT 01, RW 07, Kabupaten Lumajang. Rohman tertarik menekuni dunia bisnis ini sejak 10 tahun lalu, hingga sekarang.

“Sampai sekarang saya terus menekuni usaha ini”, paparnya kepada Tim Lipsus PedomanIndonesia.com. Karena usahanya semakin berkembang, dia mulai menarik beberapa tetangganya (terutama pada ibu-ibu rumah tangga) untuk bekerja di tempatnya. Ada sembilan orang yang direkruit. Mereka bekerja sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Bapak dari dua anak ini mengusung konsep minuman kesehatan. Dia tidak menambahkan bahan pengawet di dalam produk susunya. Dia ingin konsumen benar-benar mengonsumsi susu kedelai murni. Berangkat dari hal ini, produk susu kedelai buatannya banyak digemari oleh kalangan orang tua/ manula.

“Kedelai mengandung banyak protein dan gizi yang bermanfaat bagi tubuh. Makanya, saya terpikir untuk membuat susu kedelai sehingga bisa dikonsumsi secara langsung,” katanya.

Mengenai bahan dia beli di Pasar Klakah. Sedangkan bahan resep lainnya saya dia beli di Pasar Baru Lumajang. Per hari dia hanya memproduksi 4 sampai 5 kilo.  “Dengan omset rata-rata 400 bungkus per-hari”, tuturnya.

Rohman memproduksi dalam dua jenis kemasan bungkus plastik dengan takaran 20 mili. Dia banderol dengan harga Rp 2.000 sampai Rp 2.500 per bungkusnya. Susu tersebut ditimbang sesuai takaran. Selesai ditimbang kedelai direndam selama 6 jam. Setelah itu proses penggilingan kedelai ke kompor besar atau kompor jos sampai posisi mendidih atau menguap.

“Setelah itu proses penggilingan lagi. Sebelum dilanjut, kedelai harus benar-benar bersih  kemudian digiling lagi. Selesai di giling direbus kembali ke kompor jos sampai mendidih, lalu campur gula dan diamkan sampai mendidih lagi”, tuturnya.

Setalah itu, dipindah ke kompor kecil sampai proses penyusutan. Kalau sudah agak menyusut baru ditambah garam dan madu. “Ditunggu sampai sekitar 15 menit baru disaring. Habis itu di kukus lalu dipres dengan mesin pres. Selesai langsung susu kedeleai siap dipasarkan”, jlentrehnya.

Seiring berjalannya waktu, kapasitas produksi mulai mengurang. Di saat anak sekolah masuk, dia bisa memproduksi susu sebanyak 1.000 bungkus bahkan lebih perharinya. “Kalau sekarang produksi kami bisa mencapai 400 bungkus perharinya, karena terdampak covid-19”, tuturnya.

SUSU KEDELAI SEMAKIN DIMINATI : Rohman bergelut dunia susu kedelai sejak 10 tahun lalu hingga hari ini. RED

Menghadapi kondisi ini, dia harus merubah sistem penjualannya sedemikian rupa agar memperoleh hasil maksimal. Jika dulu (sebelum pandemi) marketnya di sekolah-sekolah, kini sistem door to door. Ke setiap rumah. Pasalnya, titik kumpul atau pusat keramaian anak-anak bukan lagi di sekolah, tapi di rumah.

“Itu yang kami proses agar bisa mempertahankan usaha di tengah covid-19 yang belum berakhir”, imbuhnya.

Untuk bahan baku susu, sama-sama menggunakan kedelai lokal. Demi menjaga kandungan gizi, dia enggan memakai kedelai impor. “Saya pilih kedelai lokal karena proses penanamannya alami. Berbeda dengan kedelai impor yang biasanya pakai rekayasa genetik,” ujar bapak kelahiran tahun 1990 an ini.

Rohman optimis masa depan bisnis susu kedelai cerah. Keyakinan ini terus tumbuh seiring dengan meningkatnya permintaan produk susu kedelai dari konsumen. Masyarakat yang paham manfaat susu kedelai bagi kesehatan semakin banyak. RED

Post Comment