!-- Header -->
Ekonomi Lumajang

Usaha Itu Dibuka Bukan Hanya Dibicarakan

LUMAJANG – Mau mau tidak mau jika ingin memperbanyak usahawan muda atau pengusaha muda di Indonesia, maka pemerintah harus bergandengan tangan dengan pihak swasta dan masyarakat. Apalagi jika  dibandingkan dengan negara lain, jumlah pengusaha Indonesia masih kalah jauh.

Hal itu diungkapkan Agus Setiawan, SE, dalam acara Ngobrol Pagi (Ngopi), di Semeru FM Lumajang, Sabtu Pagi (4 Juli 2020) pagi. “Kerjasama ini bertujuan untuk mengorganisir bagaimana caranya supaya pertumbuhan pengusaha di Indonesia, bisa dipercepat untuk mengejar ketertinggalan”, ujarnya membuka obrolan.

Menurut  Samco, panggilan karibnya, menggerakkan perekonomian juga dibutuhkan keterlibatan pihak swasta. Pihak swasta juga butuh para pengusaha. Mereka inilah yang menggerakkan kegiatan transaksi jual beli dan lain-lainnya.

“Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kita mendorong pemuda yang memang sudah punya niat, ide, dan memikirkan bagaimana caranya berusaha untuk segera eksekusi. Segera berani bertindak mengambil keputusann, memulai usaha. Karena usaha yang baik itu bukan usaha yang dipikirkan, bukan hanya dibicarakan. Tapi langsung action. Dimulai. Nggak usah takut. Karena memang seorang usahawan itu pasti menemui masalah, tantangan. Bahkan bisa jadi menemui kegagalan. Tapi ingat, kegagalan adalah satu langkah menuju keberhasilan. Kalau kita menemui kegagalan jangan berkecil hati sehingga kita bisa menapak lebih jauh lagi. Dan pasti kita menemukan jalan keberhasilan di depan sana. Saya berani ngomong ini karena sudah pernah mengalami beberapa kali kegagalan. Itu yang membuat saya termotivasi dan penasaran untuk berhasil”, ungkapnya.

Samco juga menyampaikan, seperti diketahui, merangsang pemuda (desa) untuk menjadi pengusaha tidak mudah. Saat ini para pemuda disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang lebih mengarah ke hedonisme. Mereka lebih suka main game dibanding membaca artikel atau buku. Mereka lebih suka main billiar dibanding olahraga. Ada juga yang lebih suka nongkrongnongkrong tidak jelas, bahkan menghabiskan waktu semalam suntuk hanya untuk nongkrong saja tanpa ada nilai tambah. Mereka lebih sibuk mengikuti tren yang sedang viral dibanding menyibukkan diri menambah kualitas dirinya sendiri.

“Tapi memang perlu dorongan dari pemerintah. Baik itu pemerintah pusat, provinsi, pemerintah daerah dan pemerintah desa dengan gerakan masif, yang akhirnya mereka terdorong untuk mulai terjun ke dunia usaha”, ujarnya.

Pemuda di desa sebenarnya sangat berpeluang untuk menjadi pengusaha. Karena pasarnya sudah jelas, yaitu masyarakat desa itu sendiri. Meskipun ada persaingan yang berat, karena di desa pasti ada orang-orang yang sudah menjadi pengusaha, ada minimarket, dan lain-lain.

“Tapi jangan berkecil hati. Karena peluang itu banyak sekali. Caranya? Coba cari apa sih kebutuhan manusia yang belum tercukupi. Mereka sedang menghadapi masalah apa. Apa yang selama ini selalu kekurangan. Itu kita carikan solusinya. Setelah solusinya ketemu, kita pikirkan ada ide usaha nggak di sana? Suatu masalah bila kita bisa menemukan solusinya dan kita bisa menawarkan konsepnya, maka itu bisa diuangkan atau bisa dijadikan peluang usaha. Oleh karena itu, memang dibutuhkan charakter building sejak dini seperti yang disampaikan penelepon. Di desa mungkin bisa menggerakkan karang taruna, menggerakan bumdes, melatih anak-anak muda untuk berekreasi. Mungkin dilakukan training training yang diinisiasi oleh pemerintah bekerja sama dengan NGO yang peduli dengan generasi muda. Apabila gerakan masif ini tidak dilakukan, maka tidak akan bisa menarik perhatian para pemuda. Ujung ujungnya mereka tetap tenggelam dalam aktivitas sehari-hari yang tidak mendatangkan keuntungan apa-apa”, ujarnya.

Diakuinya, selama ini pemerintah sudah berusaha banyak menggerakkan dunia usaha. Namun, diharapkan apa yang dilakukan oleh pemerintah bisa lebih baik lagi, lebih taktis, dan lebih aplikatif di lapangan. Jangan hanya sekedar training yang tidak ada tindak lanjutnya.

Bagaimana peran orang tua? Menurut Samco, pertama kali  yang harus didahulukan di kalangan para pemuda adalah membuka pikiran (open mind). Bahwa pemuda tidak bisa selalu menggantungkan diri kepada orang tua. Ada saatnya pemuda dan pemudi itu memikul tanggung jawab menggantikan kedua orang tuanya. Itu yang harus segera mulai disadarkan pada anak-anak muda. Mereka diajak ngobrol dari hati ke hati. Selama ini kekurangan ortu dan anak adalah komunikasi. Komunikasi yang dibangun lebih banyak top down (dari orang tua) memerintahkan anak muda. Akhirnya anak-anaknya cenderung melawan (bandel), malas, dan terpengaruh teman-temannya.

“Atau sebaliknya. Orang tua yang terlalu memanjakan anaknya. Akhirnya si anak hanya mengejar apa yang dia suka. Kalaupun dia diajari kerja, ya seadanya. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan adalah membuka pikiran. Diajak ngobrol dari hati ke hati. Mulai diberikan pandangan-pandangan, bahwa mereka akan tiba waktunya untuk memikul tanggung jawab. Perlu persiapan. Perlu latihan. Kalau itu terus menerus dilakukan, saya yakin anak-anak muda juga akan ngerti itu yang akan terjadi. Kalau mereka tidak mau bersiap sejak dini, mereka akan kelibas. Ketinggalan. Dan ketika mereka terjun ke dunia usaha, mereka kaget. Karena dia melihat teman-temannya sudah mulai sukses. Dia minder. Setelah dia minder akan lebih malas lagi,” paparnya.

Mengajak ngobrol dari hati ke hati, memang tidak bisa satu dua kali. Perlu berhari-hari, bahkan bisa berbulan-bulan. Itu harus dilakukan orang tua, meskipun awalnya pasti merepotkan. Perlahan lahan berikan tanggung jawab agak lebih. Ajak komunikasi. Ajak untuk mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.

Pengusaha muda asli Lumajang ini, menyampaikan, data-data pengangguran pemuda sebenarnya sudah diketahui pemerintah. Hanya saja kelemahannya di tingkat pelaksanaan masih lemah. Maka perlu didorong supaya aplikasi di lapangan dioptimalkan. Kita sekarang sedang menghadapi bonus demografi. Beberapa tahun kedepan, Indonesia akan kelebihan anak muda. Kalau itu tidak dimanfaatkan akan menjadi bumerang. Akan jadi beban, bukan jadi peluang.

Jadi, pemerintah daerah bisa segera mengeksekusi program-program yang bisa membantu anak muda untuk maju dengan cara mengkaryakan karang taruna misalnya, membentuk Bumdes, dan mempercayakan beberapa tanggung jawab kepada anak-anak muda seperti bekerjasama dengan organisasi organisasi kemasyarakatan, memberikan pelatihan-pelatihan tentang peluang usaha/  bagaimana cara berusaha yang baik dan benar.

“Dan yang terakhir, yang penting adalah memberikan kemudahan perizinan. Ini yang paling penting. Kenapa? Karena anak muda itu nggak mau ribet dengan perizinan. Oleh karena itu, mudahkan perijinannya. Kalau perlu pemerintah jemput bola. Kalau mereka menemukan orang yang sedang membuka usaha, segera dibantu perizinannya. Jangan dipersulit. Jangan selalu menyalahkan para pengusaha. Jangan selalu menyalahkan para usahawan. Jangan selalu menyalahkan para enterphreneur. Pengusaha, terutama pengusaha pemula, apabila dia mengurus izin kemudian mereka mendapatkan kesulitan pasti mundur. Pasti melangkah ke belakang. Nggak mau lagi ngurusin. Di Lumajang sendiri, mohon maaf, kalau ingin mendirikan usaha, teman-teman selalu bilang “udah dirikan saja dulu perizinan belakangan. Kalau diurus sekarang perizinannya, nggak akan pernah berdiri bangunan usahanya”, ungkapnya.

Samco berharap pemerintah harus selalu cepat, responsif, dan aplikatif di lapangan, termasuk dalam hal supporting modal usaha lunak tanpa bunga.

Saat tanya jawab soal bisnis kuliner yang tepat bulan apa, dia menyampaikan, bisnis kuliner jangan sampai buka ketika menjelang lebaran. Lebih baik bukannya di awal tahun. Perlu latihan dulu. Ketika membuka kuliner menjelang puasa pasti grudak-gruduk ramai. Saat ramai akhirnya lupa riset konsumen. Lupa bisnis plan. Lupa cari modal tambahan. Lupa segmentasi pasar dan lain-lain.

“Ketika kita buka di awal tahun, awalnya mungkin sepi. Tapi disitulah yang namanya usaha. Bagaimana caranya kita mengaplikasikan cara-cara supaya bisnis kita berhasil, terutama di bisnis kuliner”, tuturnya.

Dan tantangan terberatnya dalam bisnis ini, ungkap Samco, adalah bagaimana caranya menciptakan arus manusia mau datang ke tempat usaha kita, yang itu berasal dari orang yang tidak kita kenal sama sekali. Atau yang berasal dari orang-orang di luar lingkaran kita.

“Kalau yang datang itu hanya sahabat kita, keluarga kita, teman komunitas, dan tetangga kita, maka akan tiba saatnya gulung tikar”, selorohnya.

Namun demikian, jangan takut rugi. Itu merupakan sebuah latihan untuk evaluasi. Kalau membuat suatu bisnis jangan takut rugi. Jangan selalu negatif thinking pada orang lain. Lebih baik positive thinking. Tetap belajar mencari ilmu. Bertanya ke orang/ teman yang sudah sukses duluan. Mencari literatur. Jangan sampai berlebihan memberikan gratis agar terlihat ramai, misalnya. Di samping itu, seperti disampaikan sebelumnya masalah keuangan (membuat/ menyusun sebuah pembukuan), perlu diperhatikan.

“Ini yang paling penting karena adalah nyawanya sebuah usaha. Kalau pengaturan cash flow kita berantakan, usaha kita pasti juga berantakan. Akhirnya kita minta uang lagi ke orang tua”, katanya. Kemudian punya bisnis plan. Usahanya inginnya seperti apa, targetnya apa, terus proses bisnisnya seperti apa, konsep yang kita tawarkan ke masyarakat itu apa. Kalau ini tidak menarik orang tidak akan datang. Kalau hanya sekedar membuka tempat usaha tapi tidak dilakukan langkah-langkah menciptakan alur manusia datang ke sana, tentu tidak akan menarik. Dan dan akhirnya gulung tikar”, jlentrehnya.

Kemudian harus dilakukan riset pelanggan. Tujuannya apa? Supaya tahu target marketnya siapa. Kalau target marketnya anak tongkrongan, maka omsetnya tidak akan bisa besar. Karena dari situ bisa dihitung turn overnya bagaimana, seperti apa.

Agus Setiawan, SE

“Mereka datang pesen minuman atau makanan yang mungkin hanya Rp 20 ribu atau Rp 25 ribu, duduknya 2 sampai 3 jam. Bahkan duduknya ada yang sampai tutup. Jumlah mejanya misalnya 20 biji. Kalau separuhnya diisi dengan tipe customer yang nongkrong lama, ya…turn overnya rendah. Sehingga, dalam satu malam omset kita hanya sekitar Rp 100 ribu atau Rp. 200 ribu sampai Rp. 300 ribu. Bisa dihitung dalam 1 bulan tidak sampai 10 juta. Untuk bayar listrik, gaji pegawai, dan lain-lain untungnya nggak seberapa dibanding dengan capeknya”, papar Samco.

Selain itu, kata Samco, harus dilakukan modifikasi. Dilakukan perbaikan-perbaikan, update supaya usaha kita ini terus-menerus selalu kelihatan ada perkembangan. Dan jangan lupa, ketika sudah mulai bagus carilah modal tambahan untuk memperbesar kapasitas usaha.

“Mungkin itu yang perlu dilakukan, supaya ketika akan memulai sebuah usaha, kita punya bisnis plan, perencanaan usaha dan langkah-langkah antisipasi kalau usaha kita sepi. Kalau produk kita kurang bagus apa yang dilakukan. Dan satu hal lagi, ini sekarang sedang trend. Tipe customer sekarang tidak melihat kualitas sebuah produk tapi emosinya. Contoh iklan rokok. Iklan rokok tidak pernah memperlihatkan orang sedang merokok. Atau bilang tembakau saya paling enak. Mereka hanya memperlihatkan pria gagah naik gunung atau terjun payung. Itu emosi yang sedang dimainkan. Maka ketika orang merokok, merasa dirinya seperti itu. Ini kunci ketika kita mau mengembangkan bisnis sekarang ini. Kualitas produk itu penting. Tapi ikatan emosi itu jauh lebih penting”, imbuhnya. DIN

Post Comment