!-- Header -->
Warga Jarit Ancam Tutup Jalan Jika CSR Rp 15 Ribu Tidak Dipenuhi
Peristiwa

Warga Jarit Ancam Tutup Jalan Jika CSR Rp 15 Ribu Tidak Dipenuhi

LUMAJANG, PEDOMANINDONESIA.COM – PT. Lumajang Jaya Sejahtera (PT. LJS) merupakan salah satu perusahan tambang pasir di Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur.

Belum lama beroperasi (9 Desember 2017), puluhan warga Desa Jarit, mendesak agar perusahaan tambang ini ‘mencipratkan’ dana sosial atau corporate social responsibility (CSR) nya.

Menariknya, warga yang mendesak CSR tersebut bukan dari desa tempat perusahaan tambang itu beroperasi (Jugosari), namun dari desa sebelah (Jarit) yang merasa terganggu oleh lalu-lalang truk pengakut pasir milik perusahaan tambang ini.

Mereka menjelaskan, sejak beroperasi truk-truk pengangkut pasir dari PT LJS, mengakibatkan jalanan di kawasan itu menjadi berlubang. Mereka juga khawatir pada jam berangkat sekolah siswa truk-truk besar yang melintas menyeburkan pasir dan debu ke sekitarnya.

Oleh karena itu, puluhan warga Jarit, kamis pekan ini, mengundang perwakilan manajamen PT. LJS untuk datang ke Kantor Desa Jarit untuk berdialog. Dalam dialognya, warga mengancam menutup akses jalan yang biasa dipakai truk-truk pengakut pasir PT. LJS.

Pantaun media ini, tidak terlihat  petugas kepolisian yang mengawal/ hadir dalam dialog itu. Yang hadir hanya Kepala Desa Jarit, Soewono Ridwan, kelompok warga, dan perwakilan manajemen PT. LJS.

Afan Habibi, warga Jarit melontarkan, ancaman menutup akses jalan truk pembawa pasir PT. LJS bisa diurungkan jika dana CSR untuk masyarakat Jarit Rp 15 ribu per rit dikabulkan.

“Akan tetapi, kalau tidak diindahkan kami akan memindahkan arus jalan truk pasir,” ancamnya.

Sementara itu, Ali Ridho, Supervisor PT. LJS, menyampaikan, sejak awal kebijakan manajemen sudah punya skema CSR untuk masyarakat sekitar (terbatas untuk warga Desa Jugosari tempat PT. LJS beroperasi).

“Kalau untuk masyarakat Desa Jarit, sebelumnya perusahaan tidak punya kebijakan”, ujarnya. Apalagi jarak antara lokasi penambangan PT. LJS dengan Desa Jarit sekitar 8 kilometer.

“Tapi permintaan warga Jarit tetap kami perhatikan,” ungkapnya usai pertemuan kepada sejumlah wartawan.

Selama ini, CSR di Jugosari berjalan. Warga mendapatkan Rp 15 ribu dari tiap rit pasir yang diangkut PT LJS. Sehari, ada sekitar 400 truk pengakut pasir PT LJS yang lalu-lalang.

“Dana CSR ini bisa kami berikan setelah masyarakat membentuk pengurus CSR. Di Jugosari dana CSR nya sudah disiapkan. Namun kita pending dulu karena pengurus CSR nya belum dibentuk,” ungkapnya.

Dipaparkan, sebenarnya ada tiga perusahaan tambang pasir yang peroperasi di sekitar PT. LJS. Satu milik perorangan dan satunya lagi berbentuk korporasi). Tapi, rupanya baru PT. LJS yang ‘diciprati’ masalah oleh warga Jarit. DIN